Selamat Datang

Selamat datang di Blog ini. semoga isi dari blog ini bisa membantu saudara sekalian dalam menambah Pengen tahu anda agar anda sekalian menjadi manusia yang penuh dengan pengetahuan dan sekaligus mampu mengaplikasikan dalam hidup saudara setiap hari.
Showing posts with label Ekonomi. Show all posts
Showing posts with label Ekonomi. Show all posts

Sunday, 23 February 2025

Kisah Pedro: Mimpi yang Tertahan oleh Tantangan Kewirausahaan di Timor-Leste

 Pedro adalah seorang pemuda dari distrik Ainaro, Timor-Leste, yang bercita-cita membuka usaha kecil di bidang produksi kopi. Sejak kecil, ia melihat orang tuanya bekerja keras di perkebunan kopi, tetapi mereka hanya menjual hasil panen kepada tengkulak dengan harga murah. Pedro ingin mengubah ini. Ia bermimpi membangun bisnis yang bisa menjual kopi langsung ke pelanggan di Dili dan bahkan mengekspornya ke luar negeri. Namun, seperti banyak calon pengusaha muda di Timor-Leste, Pedro menghadapi berbagai tantangan yang membuat impiannya sulit terwujud.

1. Akses Modal yang Terbatas

Salah satu hambatan utama yang dialami Pedro adalah kesulitan mendapatkan modal awal. Perbankan di Timor-Leste masih berkembang, dan pinjaman usaha kecil sulit diakses oleh masyarakat pedesaan yang tidak memiliki jaminan aset (Ximenes & Amaral, 2021). Pedro mencoba mengajukan pinjaman ke bank lokal, tetapi ditolak karena tidak memiliki jaminan yang cukup. Tanpa modal, ia kesulitan membeli mesin pemrosesan kopi dan alat pengemasan yang diperlukan untuk meningkatkan nilai jual produknya.

2. Kurangnya Infrastruktur dan Akses Pasar

Pedro akhirnya mencoba menjual kopinya dalam bentuk mentah ke pasar di Dili, tetapi akses jalan dari desanya ke ibu kota sangat buruk. Saat musim hujan, jalanan menjadi lumpur dan sulit dilewati kendaraan. Biaya transportasi yang tinggi membuat harga jual kopinya kurang kompetitif dibandingkan kopi impor dari negara lain seperti Indonesia dan Vietnam (Tilman, 2020).

Di pasar lokal, banyak pedagang lebih memilih membeli kopi impor yang lebih murah dan telah dikemas dengan baik. Ini menunjukkan tantangan besar bagi usaha kecil di Timor-Leste—meskipun memiliki produk berkualitas, akses pasar yang terbatas membuat mereka kesulitan bersaing.

3. Budaya yang Kurang Mendukung Kewirausahaan

Seperti banyak orang Timor lainnya, keluarga Pedro lebih mengutamakan pekerjaan di sektor pemerintahan sebagai jalur karier yang lebih aman. "Lebih baik bekerja sebagai pegawai negeri, gaji tetap dan ada pensiun," kata ayah Pedro, yang khawatir melihat anaknya memilih jalur yang tidak pasti.

Fenomena ini cukup umum di Timor-Leste, di mana sistem pendidikan masih lebih banyak menekankan akademik dibandingkan pelatihan kewirausahaan (Guterres & Soares, 2022). Akibatnya, banyak anak muda yang kurang mendapatkan pelatihan bisnis atau keterampilan wirausaha yang bisa membantu mereka membangun usaha sendiri.

4. Minimnya Dukungan dari Kebijakan Pemerintah

Pemerintah Timor-Leste telah melakukan beberapa inisiatif untuk mendukung usaha kecil, tetapi banyak program yang belum berjalan efektif. Pedro sempat mengikuti program pelatihan kewirausahaan yang diselenggarakan oleh pemerintah setempat, tetapi setelah pelatihan berakhir, ia tidak mendapatkan bimbingan lebih lanjut atau akses modal usaha (Lopes & Gusmão, 2019).

Kebijakan pajak dan regulasi usaha juga masih belum ramah bagi pengusaha kecil. Banyak prosedur administrasi yang rumit dan memakan waktu lama, membuat banyak orang enggan mengurus perizinan untuk usaha mereka.

5. Persaingan dengan Produk Impor

Pasar di Timor-Leste masih sangat bergantung pada produk impor, mulai dari makanan hingga barang-barang konsumsi lainnya. Meskipun kopi Timor-Leste dikenal berkualitas tinggi, sebagian besar produk yang dijual di pasar adalah kopi instan impor dari luar negeri (Pereira, 2021).

Pedro mencoba menjual kopinya secara langsung ke kafe-kafe di Dili, tetapi kebanyakan kafe lebih memilih membeli kopi dari pemasok besar yang menawarkan harga lebih murah. Persaingan dengan produk impor ini membuat usaha kecil seperti milik Pedro sulit berkembang.

Bangkit dari Tantangan: Jalan Alternatif Pedro

Meskipun menghadapi berbagai kendala, Pedro tidak menyerah. Ia mulai mencari cara untuk memasarkan produknya secara langsung ke pelanggan melalui media sosial. Dengan bantuan teman yang memiliki akses internet lebih baik di Dili, Pedro membuat akun Instagram dan Facebook untuk menjual kopinya secara online.

Selain itu, Pedro bergabung dengan koperasi petani kopi, yang membantunya mendapatkan akses ke pasar yang lebih besar dan berbagi biaya transportasi dengan petani lain. Dengan strategi ini, Pedro perlahan mulai meningkatkan penjualannya, meskipun masih jauh dari impiannya untuk mengekspor kopi ke luar negeri.

Kesimpulan

Kisah Pedro mencerminkan realitas banyak calon pengusaha muda di Timor-Leste. Kurangnya akses modal, infrastruktur yang terbatas, budaya yang kurang mendukung kewirausahaan, minimnya kebijakan yang efektif, serta persaingan dengan produk impor menjadi tantangan besar bagi perkembangan sektor usaha kecil dan menengah.

Namun, seperti yang ditunjukkan Pedro, inovasi dan ketekunan bisa menjadi solusi untuk menghadapi kendala ini. Dengan lebih banyak dukungan dari pemerintah, akses ke pendidikan kewirausahaan, serta perbaikan infrastruktur dan kebijakan ekonomi, Timor-Leste memiliki potensi besar untuk mengembangkan sektor kewirausahaan yang lebih kuat dan mandiri.


Daftar Referensi

  1. Guterres, F., & Soares, A. (2022). The Challenges of Youth Entrepreneurship in Timor-Leste: Cultural and Educational Barriers. Journal of Southeast Asian Development, 15(2), 78-95.
  2. Lopes, C., & Gusmão, J. (2019). Entrepreneurship Development in Timor-Leste: Policy Gaps and Opportunities. Economic Policy Journal, 11(4), 45-60.
  3. Pereira, X. (2021). The Impact of Imported Goods on Local Entrepreneurship in Timor-Leste. Journal of Business and Trade, 14(1), 33-50.
  4. Tilman, R. (2020). Infrastructure and Business Development in Timor-Leste: The Role of Transportation in Market Access. Timor-Leste Economic Review, 12(3), 55-70.
  5. Ximenes, J., & Amaral, P. (2021). Financial Barriers to Entrepreneurship in Timor-Leste: The Role of Banking and Microfinance. Journal of Economic Research, 13(2), 20-40.

Kurangnya Kewirausahaan di Timor-Leste: Kisah Perjuangan dan Tantangan

 Di sebuah desa kecil di distrik Baucau, seorang pemuda bernama João memiliki impian besar. Sejak kecil, ia terbiasa membantu orang tuanya bertani dan beternak. Namun, João ingin lebih dari sekadar bertani untuk kebutuhan keluarga—ia ingin membangun usaha sendiri, menjual produk lokal seperti kopi dan madu ke kota Dili, bahkan mungkin ke luar negeri.

Namun, perjalanan João untuk menjadi seorang pengusaha tidaklah mudah. Seperti banyak anak muda di Timor-Leste, ia menghadapi berbagai hambatan yang membuat kewirausahaan tampak seperti impian yang sulit diwujudkan.

1. Kurangnya Akses Modal dan Kredit

Salah satu tantangan terbesar bagi João adalah mendapatkan modal awal. Bank-bank di Timor-Leste masih sangat selektif dalam memberikan pinjaman, terutama bagi usaha kecil yang belum memiliki riwayat keuangan yang kuat. Tanpa jaminan atau koneksi, João kesulitan mendapatkan dana untuk membeli peralatan dan memperluas usahanya.

Ia mencoba mencari dukungan dari koperasi lokal, tetapi sistem pinjaman yang tersedia masih terbatas dan sering kali memiliki bunga yang tinggi. Banyak anak muda seperti João akhirnya memilih bekerja di luar negeri, terutama di Australia, untuk mengumpulkan modal sebelum kembali ke Timor-Leste dan mencoba berwirausaha.

2. Kurangnya Infrastruktur dan Akses Pasar

Meskipun João memiliki produk berkualitas, mengirim barang dari desa ke kota adalah tantangan besar. Jalan yang rusak, transportasi yang mahal, dan kurangnya jaringan distribusi membuat banyak usaha kecil kesulitan berkembang. Bahkan jika João berhasil membawa produknya ke Dili, persaingan dengan barang impor membuat harga jualnya sulit bersaing.

Banyak pedagang lebih memilih menjual produk impor dari Indonesia atau China yang lebih murah, meskipun kualitasnya tidak selalu lebih baik. Akibatnya, João harus mencari cara untuk menonjol di pasar yang lebih kompetitif.

3. Budaya dan Pendidikan yang Kurang Mendukung Kewirausahaan

Di Timor-Leste, banyak orang masih memandang pekerjaan di pemerintahan sebagai jalur karier yang paling aman dan dihormati. Pendidikan di sekolah lebih banyak menekankan pada akademik dan kurang memberikan pelatihan kewirausahaan atau keterampilan praktis dalam bisnis.

João mengalami ini secara langsung ketika mencoba meyakinkan keluarganya bahwa memulai bisnis lebih baik daripada mencari pekerjaan di sektor publik. Ayahnya, yang bekerja sebagai pegawai pemerintah, khawatir bahwa menjadi pengusaha terlalu berisiko. "Lebih baik cari pekerjaan tetap," kata sang ayah. "Setidaknya kamu punya penghasilan pasti setiap bulan."

Tekanan sosial ini membuat banyak anak muda enggan mengambil risiko dalam berwirausaha. Mereka lebih memilih mencari pekerjaan di pemerintahan atau LSM daripada mencoba membuka usaha sendiri.

4. Kurangnya Dukungan dari Kebijakan Pemerintah

Pemerintah Timor-Leste telah berusaha mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi kebijakan untuk mendukung usaha kecil masih terbatas. Program pelatihan kewirausahaan memang ada, tetapi tidak selalu mencakup dukungan berkelanjutan seperti akses ke modal, bimbingan bisnis, atau insentif pajak bagi pengusaha muda.

João sempat mencoba mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh pemerintah setempat, tetapi setelah pelatihan berakhir, tidak ada tindak lanjut. Banyak peserta pelatihan kembali ke aktivitas lama mereka karena merasa tidak ada perubahan nyata dalam peluang bisnis.

Mengubah Tantangan Menjadi Peluang

Meskipun menghadapi berbagai hambatan, João tidak menyerah. Ia mulai mencari alternatif lain, seperti menjual produknya melalui media sosial dan mencari pelanggan langsung di Dili yang tertarik dengan produk organik lokal.

Ia juga bergabung dengan komunitas pengusaha muda yang berbagi pengalaman dan ide bisnis. Dari komunitas ini, João belajar tentang cara mengembangkan bisnis dengan modal kecil dan bagaimana mencari mitra yang bisa membantu memperluas usahanya.

Kisah João mencerminkan tantangan yang dihadapi banyak pengusaha muda di Timor-Leste. Kurangnya infrastruktur, akses modal yang terbatas, budaya yang lebih mengutamakan pekerjaan tetap, serta kebijakan pemerintah yang belum optimal menjadi penghalang utama bagi pertumbuhan kewirausahaan. Namun, dengan inovasi, tekad, dan dukungan dari komunitas, para pemuda seperti João dapat mengatasi tantangan ini dan membangun masa depan ekonomi yang lebih mandiri bagi Timor-Leste.

Jika pemerintah dan masyarakat mulai memberikan lebih banyak perhatian dan dukungan kepada wirausaha muda, Timor-Leste dapat mengurangi ketergantungannya pada impor dan sumber daya alam, serta menciptakan lapangan kerja baru yang lebih berkelanjutan.


Kesimpulan

Kurangnya kewirausahaan di Timor-Leste bukan hanya disebabkan oleh satu faktor, melainkan kombinasi dari hambatan ekonomi, sosial, dan kebijakan. Namun, kisah João menunjukkan bahwa ada harapan bagi perubahan. Dengan lebih banyak dukungan bagi pengusaha muda, perbaikan infrastruktur, serta perubahan pola pikir terhadap kewirausahaan, Timor-Leste dapat membangun ekonomi yang lebih kuat dan mandiri.


Referensi

  1. Almeida, R., & Lopes, J. (2021). Challenges and Opportunities for Entrepreneurship in Timor-Leste. Dili: Economic Research Institute.
  2. Carvalho, M. (2018). Barriers to Small Business Growth in Timor-Leste. Journal of Southeast Asian Economics, 14(3), 89-102.
  3. Gusmão, X. (2022). The Role of Social and Cultural Factors in Entrepreneurship Development in Timor-Leste. Dili: Business Development Review.
  4. Pinto, S. (2023). Strategies for Promoting Entrepreneurship Among Youth in Timor-Leste. Journal of Economic Policy, 10(2), 45-60.
  5. Ximenes, T., & Tilman, R. (2020). The Impact of Infrastructure on Business Development in Timor-Leste. Dili: Social Development Journal.

Saturday, 23 November 2024

Neurofinance: Mengungkap Psikologi di Balik Keputusan Keuangan


Neurofinance adalah disiplin ilmu yang menggabungkan ilmu saraf (neuroscience) dengan keuangan untuk memahami bagaimana otak manusia memproses informasi keuangan dan membuat keputusan investasi. Bidang ini telah menarik perhatian banyak peneliti karena mampu menjelaskan perilaku yang tidak selalu rasional dari investor, yang sering kali diabaikan oleh teori keuangan tradisional. Dengan memanfaatkan teknologi seperti pencitraan resonansi magnetik fungsional (fMRI), neurofinance mengungkap faktor emosional dan kognitif yang mempengaruhi keputusan keuangan, memberikan wawasan yang lebih dalam tentang perilaku manusia dalam konteks keuangan.

a. Emosi dan Pengambilan Keputusan Keuangan

Salah satu temuan utama dalam neurofinance adalah pengaruh kuat dari emosi terhadap pengambilan keputusan keuangan. Studi menunjukkan bahwa emosi, seperti ketakutan dan keserakahan, memainkan peran besar dalam menentukan pilihan investasi. Penelitian oleh Lo dan Repin (2002) menemukan bahwa emosi dapat menyebabkan perubahan besar dalam keputusan investasi. Mereka menggunakan fMRI untuk menunjukkan bagaimana fluktuasi pasar dapat mempengaruhi aktivitas di bagian otak yang terkait dengan pengolahan emosi. Emosi seperti ketakutan seringkali memicu perilaku "loss aversion" atau aversi terhadap kerugian, di mana investor cenderung lebih sensitif terhadap potensi kerugian daripada potensi keuntungan yang setara (Kahneman & Tversky, 1979).

Ketakutan akan kerugian ini membuat investor sering kali bertindak tidak rasional, misalnya dengan menjual aset ketika harga turun atau membeli aset saat harga sedang naik, meskipun teori keuangan menyarankan strategi yang sebaliknya (buy low, sell high). Dalam konteks ini, neurofinance membantu menjelaskan mengapa perilaku tersebut terjadi dengan mengidentifikasi bagaimana otak merespons situasi keuangan yang penuh tekanan.

Bias Kognitif dalam Pengambilan Keputusan

Selain emosi, bias kognitif juga memainkan peran penting dalam keputusan keuangan. Bias kognitif adalah penyimpangan sistematis dalam berpikir yang mempengaruhi keputusan dan penilaian yang dibuat oleh seseorang. Salah satu bias yang sering terjadi adalah "overconfidence bias," di mana investor melebih-lebihkan kemampuan mereka dalam memilih investasi yang tepat (Pompian, 2006). Studi neurofinance mengidentifikasi bahwa area otak yang terkait dengan reward processing (seperti striatum) cenderung lebih aktif pada investor yang menunjukkan tingkat kepercayaan diri berlebihan. Aktivitas ini menyebabkan mereka membuat keputusan yang terlalu optimistis, yang berpotensi menghasilkan kerugian finansial.

Bias lain yang sering dipelajari dalam neurofinance adalah "confirmation bias," di mana investor cenderung mencari informasi yang mengonfirmasi pandangan mereka sambil mengabaikan informasi yang bertentangan. Dengan bantuan teknologi pencitraan otak, penelitian telah menunjukkan bahwa ketika investor membaca informasi yang sesuai dengan ekspektasi mereka, ada peningkatan aktivitas di daerah otak yang terkait dengan rasa puas, seperti ventral striatum (De Martino et al., 2006).

Peran Pendidikan dan Pengalaman dalam Mengurangi Risiko Bias

Neurofinance juga memberikan wawasan tentang bagaimana pendidikan dan pengalaman dapat mengurangi pengaruh emosi dan bias dalam pengambilan keputusan keuangan. Menurut penelitian oleh Kuhnen dan Knutson (2005), pengalaman pasar yang lebih luas dapat memengaruhi bagaimana otak merespons risiko, di mana investor yang lebih berpengalaman cenderung memiliki aktivitas otak yang lebih stabil ketika menghadapi volatilitas pasar. Ini menunjukkan bahwa edukasi keuangan yang baik dan paparan langsung terhadap pasar dapat membantu investor untuk membuat keputusan yang lebih rasional dan mengurangi dampak dari emosi negatif dan bias kognitif.

Lebih jauh lagi, neurofinance menyoroti pentingnya literasi keuangan dalam membangun kepercayaan diri yang sehat dalam berinvestasi. Dengan memahami cara otak bekerja dalam situasi keuangan, literasi keuangan dapat dikembangkan dengan metode yang lebih personal dan efektif, mengajarkan investor untuk mengenali dan mengendalikan respon emosional mereka saat berhadapan dengan risiko.

Kritik terhadap Neurofinance

Meskipun neurofinance memberikan wawasan yang mendalam, ada kritik yang menyoroti keterbatasannya. Beberapa kritikus berpendapat bahwa pendekatan neurofinance terlalu deterministik, mengasumsikan bahwa perilaku keuangan manusia sepenuhnya didorong oleh aktivitas neurologis (Glimcher, 2011). Hal ini mengabaikan faktor sosial dan budaya yang juga memengaruhi keputusan keuangan. Selain itu, metode seperti fMRI hanya memberikan gambaran aktivitas otak dalam situasi yang terkendali, sehingga mungkin tidak sepenuhnya mencerminkan kompleksitas pengambilan keputusan di dunia nyata.

Kesimpulan

Neurofinance menawarkan perspektif baru yang menarik dalam memahami perilaku investor. Dengan menggabungkan ilmu saraf dan keuangan, bidang ini mampu mengidentifikasi faktor-faktor psikologis yang berperan dalam pengambilan keputusan finansial, seperti emosi dan bias kognitif. Meskipun masih dalam tahap pengembangan, temuan dalam neurofinance berpotensi memperbaiki pendekatan edukasi keuangan dan strategi investasi yang lebih baik. Namun, penting untuk tetap mempertimbangkan keterbatasan dari pendekatan ini, dengan tidak mengabaikan peran faktor sosial dan budaya dalam membentuk perilaku keuangan manusia.

Referensi

- De Martino, B., Kumaran, D., Seymour, B., & Dolan, R. J. (2006). Frames, Biases, and Rational Decision-Making in the Human Brain. *Science*, 313(5786), 684–687.

- Glimcher, P. W. (2011). Foundations of Neuroeconomic Analysis. *Oxford University Press*.

- Kahneman, D., & Tversky, A. (1979). Prospect Theory: An Analysis of Decision under Risk. *Econometrica*, 47(2), 263–291.

- Kuhnen, C. M., & Knutson, B. (2005). The Neural Basis of Financial Risk Taking. *Neuron*, 47(5), 763–770.

- Lo, A. W., & Repin, D. V. (2002). The Psychophysiology of Real-Time Financial Risk Processing. *Journal of Cognitive Neuroscience*, 14(3), 323-339.

- Pompian, M. M. (2006). Behavioral Finance and Wealth Management: How to Build Optimal Portfolios That Account for Investor Biases. *John Wiley & Sons*.

Friday, 15 November 2024

Statistik Pendapatan Perkapita Timor Leste

 Pada tahun 2024, pendapatan per kapita Timor-Leste dalam istilah nominal diproyeksikan sekitar **$1,454** per orang. Dalam hal paritas daya beli (PPP), yang mempertimbangkan perbedaan biaya hidup dan inflasi antar negara, pendapatan per kapita diperkirakan sekitar **$3,767**. Angka ini menunjukkan adanya penurunan dari tahun sebelumnya, di mana pada tahun 2023, pendapatan per kapita nominal berada di **$1,731** dan PPP sebesar **$4,051**.


Ekonomi Timor-Leste sangat bergantung pada sektor publik, terutama dari Dana Minyak yang diperkirakan akan habis dalam beberapa dekade mendatang. Perekonomian negara ini juga mengalami tantangan dari tingkat produksi domestik yang rendah dan ketergantungan pada impor, yang berkontribusi pada defisit perdagangan yang besar. Pertumbuhan ekonomi untuk tahun 2024 diperkirakan akan mencapai sekitar 3%, yang didorong oleh konsumsi sektor swasta dan beberapa peningkatan dalam layanan sektor pariwisata.


Pertumbuhan ekonomi Timor-Leste di masa depan akan bergantung pada diversifikasi ekonomi dan perbaikan dalam investasi publik serta sektor swasta. Akses Timor-Leste ke WTO baru-baru ini diharapkan bisa membantu meningkatkan akses pasar internasional dan mempercepat perkembangan ekonomi.


Timor Leste akan menjadi Negara Bankrut

 Isu kebangkrutan Timor Leste sering kali berkaitan dengan ketergantungannya pada pendapatan dari minyak dan gas alam, terutama dari ladang minyak *Greater Sunrise* dan *Bayu-Undan*. Berikut adalah beberapa faktor yang mungkin menjadi alasan kekhawatiran terhadap potensi kebangkrutan Timor Leste:



1. **Ketergantungan pada Pendapatan Minyak**: Ekonomi Timor Leste sangat bergantung pada pendapatan dari sektor minyak dan gas. Penerimaan dari ladang minyak yang ada telah berkurang seiring waktu, dan tidak ada jaminan bahwa ladang minyak baru akan segera menghasilkan pendapatan yang cukup besar. 


2. **Dana Perwalian Petroleum (Petroleum Fund)**: Timor Leste memiliki Petroleum Fund yang menjadi sumber utama pendanaan untuk anggaran negara. Jika pengelolaan dana tersebut tidak hati-hati dan pengeluaran melebihi pendapatan, maka cadangan dana tersebut bisa cepat habis.


3. **Kurangnya Diversifikasi Ekonomi**: Upaya untuk diversifikasi ekonomi ke sektor non-minyak, seperti pertanian dan pariwisata, masih menghadapi tantangan besar. Diversifikasi ekonomi yang lambat membuat negara ini rentan terhadap fluktuasi harga minyak dan gas internasional.


4. **Investasi Besar pada Proyek Infrastruktur**: Beberapa proyek infrastruktur besar yang sedang dikembangkan mungkin menjadi beban jika tidak menghasilkan manfaat ekonomi yang signifikan dalam jangka panjang. Investasi besar yang tidak disertai dengan keuntungan ekonomi yang memadai dapat mengakibatkan tekanan pada anggaran negara.


5. **Pengangguran dan Kemiskinan**: Tingkat pengangguran dan kemiskinan di Timor Leste masih tinggi. Masalah ini memperparah kesulitan ekonomi dan menciptakan tantangan tambahan bagi stabilitas keuangan negara.


Meskipun tantangan ini cukup besar, ada juga upaya dari pemerintah dan komunitas internasional untuk mendukung pembangunan ekonomi berkelanjutan di Timor Leste. Misalnya, terdapat dorongan untuk meningkatkan pendidikan, keterampilan, dan infrastruktur demi memajukan sektor-sektor ekonomi selain minyak.

Tingkat Financial Literacy Di Timor Leste

 Tingkat literasi keuangan di Timor-Leste masih dalam tahap berkembang, dengan beberapa tantangan dan peluang yang dihadapi. Berdasarkan laporan dan penelitian yang ada, berikut adalah beberapa poin utama terkait tingkat literasi keuangan di Timor-Leste:

1. **Rendahnya Kesadaran dan Pemahaman Keuangan**:

   - Pengetahuan tentang konsep keuangan dasar, seperti pengelolaan uang, tabungan, kredit, dan investasi, masih terbatas di kalangan masyarakat. Banyak warga yang belum terbiasa dengan konsep-konsep seperti budgeting, pencatatan pengeluaran, atau pengelolaan risiko.


2. **Ketergantungan pada Ekonomi Tunai**:

   - Sebagian besar transaksi di Timor-Leste dilakukan secara tunai. Ini menunjukkan bahwa banyak masyarakat yang belum sepenuhnya mengadopsi layanan perbankan formal, seperti penggunaan rekening bank, kartu debit, atau layanan perbankan digital.


3. **Keterbatasan Akses terhadap Layanan Keuangan**:

   - Akses terhadap layanan keuangan formal, seperti bank, asuransi, atau lembaga kredit mikro, masih terbatas di beberapa daerah, terutama di wilayah pedesaan. Hal ini membatasi kemampuan masyarakat untuk mendapatkan pengetahuan dan layanan keuangan yang memadai.


4. **Peran Pendidikan Keuangan**:

   - Pemerintah dan beberapa organisasi non-pemerintah (NGO) telah memulai inisiatif untuk meningkatkan literasi keuangan melalui program edukasi keuangan di sekolah-sekolah dan komunitas lokal. Pendidikan ini mencakup pemahaman tentang pengelolaan uang, menabung, dan penggunaan layanan keuangan formal.


5. **Upaya Meningkatkan Inklusi Keuangan**:

   - Terdapat upaya dari Bank Sentral Timor-Leste dan lembaga lainnya untuk meningkatkan inklusi keuangan dengan memperkenalkan produk-produk keuangan yang lebih sederhana dan mudah diakses oleh masyarakat. Selain itu, ada juga upaya untuk mendorong penggunaan layanan mobile banking.


6. **Peran Bank Sentral Timor-Leste**:

   - Bank Sentral Timor-Leste berperan aktif dalam memberikan edukasi keuangan dan mengatur sektor keuangan agar lebih inklusif dan stabil. Upaya ini diharapkan dapat membantu meningkatkan kesadaran finansial masyarakat.


Secara keseluruhan, literasi keuangan di Timor-Leste masih memiliki ruang untuk berkembang, terutama dalam meningkatkan pemahaman keuangan dasar, akses ke layanan keuangan formal, dan mendorong kebiasaan menabung serta investasi yang lebih baik.

Analisis Orsamentu Jeral estadu (OJE) Timor Leste 2024

 Untuk melakukan analisis laporan *Orsamentu Jeral Estadu* (OJE) tahun 2024, kita perlu mengulas beberapa aspek penting dari anggaran nasional Timor Leste tersebut. Analisis ini biasanya melibatkan tinjauan terhadap pendapatan, pengeluaran, prioritas kebijakan, serta bagaimana anggaran ini diharapkan mempengaruhi perekonomian dan masyarakat Timor Leste secara keseluruhan.



Berikut beberapa poin yang dapat menjadi bagian dari analisis laporan OJE 2024:


### 1. **Pendapatan Negara**

   - **Sumber Pendapatan Utama**: Identifikasi sumber utama pendapatan negara, termasuk pendapatan dari minyak dan gas (jika relevan), pajak, bantuan internasional, dan lainnya.

   - **Proyeksi Pendapatan**: Bandingkan proyeksi pendapatan dengan tahun-tahun sebelumnya. Apakah ada peningkatan atau penurunan, dan apa alasan di balik perubahan tersebut?

   - **Keberlanjutan Sumber Pendapatan**: Tinjau apakah sumber pendapatan dianggap berkelanjutan, terutama mengingat ketergantungan pada pendapatan dari sumber daya alam.


### 2. **Pengeluaran Negara**

   - **Pengeluaran Total**: Analisis total pengeluaran yang direncanakan dan bandingkan dengan anggaran tahun sebelumnya. Apakah ada peningkatan pengeluaran, dan di sektor mana saja?

   - **Prioritas Pengeluaran**: Identifikasi sektor-sektor prioritas dalam anggaran, seperti pendidikan, kesehatan, infrastruktur, keamanan, atau pembangunan ekonomi.

   - **Distribusi Anggaran**: Tinjau bagaimana anggaran dialokasikan di antara sektor-sektor ini dan apakah sejalan dengan tujuan strategis negara.


### 3. **Defisit dan Pembiayaan Anggaran**

   - **Defisit Anggaran**: Lihat apakah ada defisit dalam anggaran, di mana pengeluaran melebihi pendapatan. Jika ada defisit, periksa bagaimana negara berencana untuk membiayai defisit tersebut (misalnya, melalui utang atau penarikan dari Dana Kedaulatan Minyak).

   - **Kebijakan Utang**: Evaluasi strategi pembiayaan jika negara berencana menggunakan utang untuk menutup defisit. Apakah utang dianggap terkendali?


### 4. **Kebijakan Ekonomi dan Prioritas Strategis**

   - **Pembangunan Infrastruktur**: Apakah ada proyek infrastruktur besar yang dianggarkan untuk tahun 2024? Bagaimana proyek tersebut diharapkan berdampak pada perekonomian?

   - **Investasi Sosial**: Evaluasi investasi di sektor kesehatan, pendidikan, dan jaring pengaman sosial. Apakah ada peningkatan yang signifikan dalam anggaran ini?

   - **Diversifikasi Ekonomi**: Tinjau apakah ada alokasi dana untuk diversifikasi ekonomi, seperti pengembangan sektor non-minyak dan gas.


### 5. **Dampak Sosial dan Ekonomi**

   - **Pertumbuhan Ekonomi**: Bagaimana anggaran ini diproyeksikan akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi? Apakah kebijakan fiskal dianggap mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif?

   - **Pengurangan Kemiskinan**: Analisis dampak sosial dari anggaran, terutama terkait pengurangan kemiskinan dan ketidaksetaraan.

   - **Pengangguran**: Apakah ada kebijakan atau program yang ditujukan untuk mengurangi pengangguran?


### 6. **Transparansi dan Akuntabilitas**

   - **Pengelolaan Anggaran**: Apakah ada kebijakan atau langkah baru untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan anggaran?

   - **Partisipasi Publik**: Tinjau tingkat keterlibatan masyarakat dan lembaga swadaya masyarakat dalam proses penyusunan anggaran. Apakah ada konsultasi publik?


### 7. **Tantangan dan Risiko**

   - **Tantangan Eksternal**: Apakah anggaran ini mempertimbangkan tantangan ekonomi global seperti fluktuasi harga minyak, perubahan iklim, atau ketidakpastian ekonomi global?

   - **Risiko Internal**: Identifikasi risiko internal seperti efisiensi pengeluaran pemerintah, korupsi, atau kebocoran anggaran.


### 8. **Perbandingan Antar Tahun**

   - **Tren Anggaran**: Tinjau tren anggaran dari beberapa tahun terakhir untuk melihat apakah ada perubahan besar dalam strategi fiskal negara.

   - **Efektivitas Kebijakan Sebelumnya**: Apakah anggaran tahun 2024 memperbaiki atau mengubah kebijakan dari anggaran sebelumnya berdasarkan hasil yang dicapai?


Jika ada laporan OJE 2024 yang spesifik, maka analisis dapat lebih fokus pada data kuantitatif yang tersedia di dalam laporan tersebut, seperti angka-angka spesifik untuk masing-masing sektor. Jika Anda memiliki data spesifik atau bagian tertentu dari laporan yang ingin dianalisis lebih lanjut, silakan beritahukan!

Timor Leste Kemerdekaan yang Rapuh

 Kemerdekaan Timor Leste, meskipun telah tercapai secara resmi pada tahun 2002, masih sering dianggap "rapuh" karena berbagai tantangan yang dihadapi negara tersebut. Berikut beberapa faktor yang mempengaruhi kondisi kerentanannya:

1. Ketergantungan Ekonomi

   - Ekonomi Timor Leste sangat bergantung pada pendapatan dari sektor minyak dan gas. Pendapatan dari ladang minyak di Laut Timor menyumbang sebagian besar anggaran negara. Ketergantungan yang tinggi pada sumber daya alam membuat perekonomian negara rentan terhadap fluktuasi harga minyak global.

   - Sumber daya alam yang terbatas dan keterbatasan diversifikasi ekonomi menjadi masalah serius. Ketika cadangan minyak habis, negara mungkin akan menghadapi tantangan besar untuk menopang perekonomian.

2. Kemiskinan dan Tingkat Pengangguran yang Tinggi

   - Kemiskinan masih menjadi masalah besar di Timor Leste. Banyak warga yang masih hidup di bawah garis kemiskinan, terutama di daerah pedesaan. Akses terhadap layanan kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur dasar masih terbatas.

   - Tingkat pengangguran, terutama di kalangan pemuda, sangat tinggi. Kurangnya kesempatan kerja yang memadai dapat menyebabkan ketidakstabilan sosial.

3. Ketidakstabilan Politik

   - Timor Leste mengalami ketegangan politik yang berulang kali, termasuk krisis politik pada tahun 2006 yang menyebabkan kekerasan sipil. Ketidakstabilan politik dapat mempengaruhi proses pembangunan dan stabilitas jangka panjang.

   - Konflik antara elit politik dan partai politik yang sering terjadi telah menunda implementasi kebijakan pembangunan yang berkelanjutan.

 4. Kelemahan Dalam Institusi Pemerintahan

   - Pemerintahan dan birokrasi di Timor Leste sering kali dianggap masih lemah dan kurang efektif. Kapasitas institusi pemerintah dalam hal tata kelola dan penegakan hukum masih perlu ditingkatkan untuk memastikan stabilitas dan kemajuan.

   - Korupsi juga menjadi masalah yang menghambat pembangunan. Transparansi dan akuntabilitas dalam pemerintahan masih perlu diperkuat.

5. Kerawanan Sosial

   - Konflik antar kelompok atau faksi-faksi yang memiliki latar belakang sejarah dan etnis yang berbeda masih menjadi ancaman. Meskipun skala kekerasan telah berkurang sejak merdeka, namun potensi konflik masih ada, terutama di daerah pedesaan.

   - Masyarakat Timor Leste juga menghadapi tantangan terkait persatuan nasional karena warisan kolonial dan konflik masa lalu masih mempengaruhi hubungan sosial antar kelompok.

6. Ketergantungan Pada Bantuan Internasional

   - Timor Leste sangat bergantung pada bantuan internasional untuk proyek-proyek pembangunan. Meskipun bantuan ini penting, ketergantungan yang tinggi dapat menjadi masalah jika negara donor mengurangi bantuan atau jika ada perubahan dalam prioritas kebijakan luar negeri mereka.


   - Pengelolaan dan penggunaan bantuan internasional yang efektif sangat penting untuk pembangunan berkelanjutan.

 7. Pendidikan dan Sumber Daya Manusia yang Terbatas

   - Pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia yang masih terbatas menjadi tantangan besar. Tingkat melek huruf dan kualitas pendidikan yang rendah mempengaruhi kemampuan tenaga kerja lokal untuk bersaing dan mengembangkan perekonomian.

   - Peningkatan pendidikan dan pelatihan keterampilan sangat penting untuk mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja asing dan meningkatkan kapasitas lokal.

Meskipun Timor Leste telah mencapai kemerdekaan, tantangan-tantangan ini menunjukkan bahwa proses konsolidasi kemerdekaan masih jauh dari selesai. Peningkatan kapasitas ekonomi, politik, dan sosial sangat penting untuk memperkuat kemerdekaan yang masih dianggap rapuh ini.

Thursday, 25 January 2024

"Inflasi Hijau: Membangun Ekonomi Berkelanjutan"


Pendahuluan

Inflasi hijau, atau dikenal juga sebagai inflasi ramah lingkungan, merupakan konsep yang semakin penting dalam menghadapi tantangan ekonomi dan lingkungan saat ini. Dengan perubahan iklim, peningkatan limbah, dan kekhawatiran tentang keberlanjutan sumber daya alam, munculnya konsep inflasi hijau menjadi langkah yang signifikan dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan. Dalam esai ini, kita akan menjelajahi apa yang dimaksud dengan inflasi hijau, dampaknya, dan bagaimana konsep ini dapat membentuk dasar untuk ekonomi berkelanjutan di masa depan.

Definisi Inflasi Hijau

Inflasi hijau adalah konsep di mana pertumbuhan ekonomi tidak hanya diukur dari sisi kuantitas output dan konsumsi, tetapi juga mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan. Dalam kata lain, inflasi hijau menciptakan sebuah paradigma di mana pertumbuhan ekonomi harus bersinergi dengan pelestarian sumber daya alam dan mitigasi perubahan iklim. Ini mencakup pengembangan teknologi ramah lingkungan, promosi praktik bisnis yang berkelanjutan, dan investasi dalam sektor-sektor yang mendukung keberlanjutan.

Dampak Positif Inflasi Hijau

  1. Inovasi Teknologi: Salah satu dampak positif inflasi hijau adalah dorongan pada inovasi teknologi yang ramah lingkungan. Perusahaan dan pemerintah terdorong untuk mengembangkan solusi yang lebih efisien dan berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan konsumen tanpa merusak lingkungan.

  2. Peningkatan Kualitas Udara dan Air: Fokus pada energi terbarukan dan pengelolaan limbah dapat mengurangi emisi gas rumah kaca dan polusi air. Dengan demikian, inflasi hijau berpotensi menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat bagi manusia dan ekosistem.

  3. Pertumbuhan Sektor Hijau: Konsep ini mendorong pertumbuhan sektor-sektor ekonomi yang berfokus pada keberlanjutan, seperti energi terbarukan, transportasi berkelanjutan, dan pertanian organik. Ini menciptakan peluang pekerjaan dan investasi baru di bidang-bidang ini.

  4. Kesadaran Konsumen: Inflasi hijau juga dapat meningkatkan kesadaran konsumen terhadap produk dan layanan yang ramah lingkungan. Konsumen dapat lebih memilih produk yang dihasilkan dengan cara yang berkelanjutan, mendorong perusahaan untuk mengubah praktik bisnis mereka.

Tantangan dan Solusi

Meskipun inflasi hijau membawa banyak dampak positif, tantangan juga muncul. Beberapa perusahaan mungkin menghadapi biaya awal yang tinggi untuk beralih ke praktik bisnis yang lebih berkelanjutan. Oleh karena itu, diperlukan insentif dan kebijakan pemerintah yang mendukung peralihan ini, seperti insentif pajak untuk bisnis berkelanjutan dan investasi dalam penelitian dan pengembangan teknologi hijau.

Kesimpulan

Inflasi hijau adalah langkah penting menuju ekonomi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Dengan menggabungkan pertumbuhan ekonomi dengan pelestarian lingkungan, kita dapat menciptakan masyarakat yang lebih baik untuk generasi mendatang. Diperlukan kerja sama antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat untuk mewujudkan visi ini dan menjadikan inflasi hijau sebagai dasar untuk pembangunan ekonomi yang berkelanjutan

Wednesday, 31 March 2021

FUNU CAILACO (1725 TO'O 1726


 Kona-ba revolta boot ne’ebé liurai Loro-Monu sira halo hasoru malae-mutin, Padre Artur Basilio de Sá, hakerek livru ida, ho títulu: “A Planta de Cailaco 1927" (1949). Planta ne’e, dezeñu ida ne'ebé ema Goa ida mak pinta kona-ba asaltus forsas governu halo hasoru asuwain Loro-monu iha foho Cailaco (Kailaku).


Ita hatene ona katak governadór Jácome Morais de Sarmento (1706-1710) haruka kobra impostu. Reinu hotu-hotu selu impostu atu defende Prasa Lifau. Reinu balu la konkorda. Liurai balu mós la konkorda ho governadór António d’Albuquerque Coelho (1722-1725) ne’ebé duni sai hosi Lifau amu Bispo Dom Frei Manuel de Santo António.


Iha tinan 1719, liurai Camanasse halibur liurai balu iha ne’ebá atu estabelese aliansa (saun). Sira oho asu aman makerek ida (mutin-mean); hafoin sira hemu asu ne’e nia ran kahur ho tua mutin; tuir mai sira kombina atu duni sai malae portugés hosi Timor; sira hakarak duni sai mós amu-lulik dominikanu no sobu uma kreda no kapela; duni-sai mós ema hosi Larantuka.


Iha tinan 1722, reinu Luca hahú revolta hasoru governu. Entretantu, governador António d’Albuquerque Coelho haruka kapitaun Joaquim de Matos no soldadu sira atu hahú kobra impostu iha reinu sira, iha Provínsia Servião. Maibé, Liurai Lolotoe la simu orden governu nian, no duni Kapitaun Joaquim to’o Batugadé. Liurai Camanasse revolta, hodi hamriik funu hasoru governu: Nia bolu liurai sira hosi Lamaquito (ou Lamak-Hituka, Bobonaro), Lolotoy, Caelaco, Lohitu (Leo-hitu), Sanier (Sanir), Atsave (ka Atesabe), Lâmean (Lei-Mean), Asafonara, Dirivate (Diribate), no Hera-Mera, Nusadilla, Clora, Letipho (Letefoho), Marobo, no seluk tan. Liurai “revoltosos” sira ne’e iha planu atu harii iha Timor impériu tolu: Sonobai (Sombai), Camanasse no We-Hali.


Funu hahú iha tinan 1725, iha Cailaco. Liurai sira ne’ebá hetan tulun hosi Dom Francisco Hornay, hosi Oe-Kusi no ema Larantuka.


Funu-nain timor hahú sobu uma-kreda, harahun estátua no kruz, na'ok no sobu sasán misa nian, oho amu-lulik nain rua: padre Manuel Roiz no padre Manuel Vieira, no sarani barak.


Entretantu to’o iha Liafau Governadór António Moniz de Macedo (1726-1728). Liurai balu, hanesan Dom Francisco Hornay hakarak buka paz (maibé laran rua-rua ka finjidu), ba “presta vassalagem” ba governadór foun. Maibé, liurai balu halibur ema funu-na’in rihun haat (4.000), hodi ba monta kuartel-jeneral iha foho Cailaco, hanesan reinu Lamaquito no Caelaco. Liurai Cailaco naran Dom Aleixo no Dato Laku-Mali sai hanesan ulun boot ka komandante ba revolta hasoru malae-mutin..


Haree ba situasaun ida-ne’e, governu husu liurai balu atu funu hasoru “revoltosos” sira: reinu Maubara ho nia liurai Dom Francisco Xavier; reinu Viqueque ho nia liurai, Dom Vasco dos Santos Pinto; reinu Samoro ho nia liurai Dom Bernardo Sarmento.


Iha fulan-Outubru 1926, governu haruka kapitaun Joaquim de Matos, hosi Batugadé, no kapitaun Gonçalo de Magalhães, hosi Dili, atu komanda forsas hodi ba asalta Cailco.


Reinu sira ne’ebé funu hasoru “ koligasaun Caelaco-Lamaquito”, iha foho Cailaco mak tuir mai ne’e: 

1. Viqueque: Liurai Dom Vasco dos Santos Pinto, ho kapitaun-mor Dom Ventura da Costa dos Remédios; ho soldadu rihun ida atus rua (1.200); 

2. Reino Claco: Liurai koronel Dom Belchior Fernandes; 

3. Reino Allas: Liurai coronel Dom Miguel de Sousa Tavares 

4. Reinu Manufahi: Liurai Koronel Dom Duarte da Costa Souto Maior; 

5. Reinu Samoro: Liurai Koronel Dom Bernardo Sarmento, ho soldadu na’in 900. 

6. Reinu Lacluta:, liurai Dom João da Fonseca. 

7. Reinu Ai-foi: Liurai Dom Domingos da Costa, ho soldadu na’in 30. 

8. Reinu Suai: Liurai Dom Baltazar Lopes, sarjentu-mór, ho soldadu na’in 600. 

9. Reinu Motael: Liurai Dom Gregório Roiz Pereira, tenente-koronel, ho soldadu na’in 500. 

10. Reinu Liquiçá: Liurai Dom Gregório, sarjentu-mór, ho soldadu na’in 100. 

11. Reinu Calcuc: Liurai Dom Paulo de Cáceres, ho soldadu na’in 60.

12. Reinu Laicor: Liurai Dom Carlos, ho soldadu nai’n 40. 

13. Reinu Manatuto: Liurai Dom António Soares, ho soldadu na’in 400. 

14. Reinu Vemasse: Liurai Cosme de Freitas, ho soldadus na’in 900.

15. Reinu Laleia: Liurai Salvador, ho soldadu na’in 300. 

16. Reinu Sarau, Liurai Dom Álvaro da Costa, ho soldadu na’in 80;

17. Reinu Faturó: Liurai Dom Sebastião, ho soldadus na’in 80.

18. Reinu Luca: Liurai Dom António Aveiro do Amaral, ho soldadu na’in 1.500. 

19. Reinu Dailor: Liurai Dom Álvaro de Sousa, ho soldadu na’in 100.


Aléinde “moradores” timor oan sira ne’e, governu haruka tan kompañia sanulu resin sia (19), ho ema na’in 970. Forsa sira hosi governu inklui mós ofisiál no soldadu portugés, ema balu hosi Goa no Macau. Atu asisti tropas sira ne’e, iha mós padre kapelaun ida: padre Vigário Dili nian.


Atu hasoru tropas governu portugés ho moradores sira ne’ebé liurai sira haruka, Dom Aleixo, liurai Caelaco nian, fo orden atu populasaun evakua ba foho Cailaco (Kailaku). Ema mane, feto, foin-sa’e, labarik, ba hotu akampa iha foho leten. Sira mós duni sa’e ba foho leten balada: bibi, kuda no karau, fahi no manu. Balu ba hela kuak laran; balu hada kastelu ho ai-rin no fatuk; mane asuwa’in sira lori diman, rama-isin, surik, ai-donan, no kilat. Kilat balu iha kilat musan, balu iha pólvora no balu uza fatuk.


Iha loron 26 fulan-Outubru 1726, kapitaun Joaquim de Matos ho nia tropas monta akampamentu iha foho Caelaco nia hun. Iha tempu ne’e, sira titu “inimigu”, sobu no sunu uma ka “pos” ne’ebe asuwain Caleco sira harii nanis. Iha loron 29 to’o mós tropas hosi Maubara no Coutubaba funu hasoru funu-nain sira ne’ebé tun hosi foho lolon. Neineik forsas portugés sa’e to’o foho klaran. Iha ne’e, asuwian sira halo tiha ona trankeira boot ida sukat kilómetru tolu; iha fatin nee, “inimigus” sira haloot ai-han, sana, bikan, kusi, luhu no buat seluk tan; fatin ne’ebá mós iha be-matan ida. Atu tama trankeira ne’e susar liu. Topas balu tenke sa’e tuir hali-hun sira abut ne’ebé tabele to’o rai. Hosi trankeira asuwain Caelaco tiru hasoru, tiru rama-oan no duir fatuk mesak bob-bot de'it ba kraik, to’o oho soldado no moradór sira. Iha asaltu ba trankeira ne’e, ema hosi Caelaco, na’in 80 mak mate. Ho atake ne’ebá, “revoltosos” balu halai ba foho tutun, balu ba foho sorin, balu fali konsege halai to’o foho Atsabe nian.


Iha fulan-Novembru 1716, forsas hosi Dili no Loro-sa’e too Caelaco. Forsas konjutas halo serku ba foho Caelaco durante loron sanulu resin rua, maibé asuwain sira la rende. Hosi subar fatin iha foho, feto balu ho labarik sira tun ba kuru be, iha be-matan. Feto no labarik balu ema kaer; balu halai lakon no balu oho-aan.


Ho situasaun ida-nee’, liurai Dom Aleixo, no dato Laku-Mali ho tan dato balu ba rende iha akampamentu portugés, maibé ema barak ne’ebé subar iha fatu kuak no ai-laran lakohi tun no la rende. Kapitaun Joaquim de Matos husu ba Dom Aleixo, atu selu impostu, entrega kilat no armamentu seluk. Entretantu, udan boot tau maka’as, mota tun, kalohan no abu-abu taka metin rai no dalan sira. Tamba ne’e, dato balu no sira nia emar halai hikas ba foho. Ikus-mai, Joaquim de Matos ho Gonçalo de Magalhães haruka forsas sira serka foho Caelaco: balu hosi loro-monu, balu hosi loro-sae, balu hosi tasi-mane, no balu hosi tasi-feto, la husik funu-nain Caelaco sira sai no tama.


Iha loron tolu fulan-Dezembru, asuwain sira tun hosi foho ataka forsas governu nian no oho tiha sarjentu-mór Lucas da Cunha (malae mutin). Iha loron 5 fulan ne’ebá, forsas governu nian deside atu fila ba Díli, no Batugadé. Tuir dalan sira mos hetan atake hosi funu-nain balu. Joaquim de Matos lori hanesan dadur Liurai Dom Aleixo, ho dato Laku-Mali hodi ba entrega ba governadór iha Lifau.


Iha tempu ne’ebá malae no moradores lalin revoltoso sira-nia karau hamutuk rihun rua (2.000); sira tesi ema inimigu na’in atus ida lima-nulu (150) nian ulun-fatuk; lori dadur ema na’in 168.Tuir dadur sira lian, sira-nia maluk na'in 300 mak mate iha foho leten. Hosi tropas portugés , ema na’in tolu nolu resin walu (38) mak mate, no barak mak kanek. Iha loron 8 fulan Dezembru forsas sira ne’ebé fila ba Prasa/Dili, tuir selebrasum misa iha Tibar.


Maibé funu Caelaco la remata iha tinan 1727. Tanba governador sira-nia hahalok, no divizaun iha Liurai timor sira leet, sei akontese revolta barak. Istoriadór balu katak dame lolós harii metin iha tinan 1787.


Autór: Dom. Carlos Filipe Ximenes Belo SDB.

Laureadu Prémiu Novél da Paz, 1996