Selamat Datang

Selamat datang di Blog ini. semoga isi dari blog ini bisa membantu saudara sekalian dalam menambah Pengen tahu anda agar anda sekalian menjadi manusia yang penuh dengan pengetahuan dan sekaligus mampu mengaplikasikan dalam hidup saudara setiap hari.
Showing posts with label Culture. Show all posts
Showing posts with label Culture. Show all posts

Sunday, 23 February 2025

Kisah Pedro: Mimpi yang Tertahan oleh Tantangan Kewirausahaan di Timor-Leste

 Pedro adalah seorang pemuda dari distrik Ainaro, Timor-Leste, yang bercita-cita membuka usaha kecil di bidang produksi kopi. Sejak kecil, ia melihat orang tuanya bekerja keras di perkebunan kopi, tetapi mereka hanya menjual hasil panen kepada tengkulak dengan harga murah. Pedro ingin mengubah ini. Ia bermimpi membangun bisnis yang bisa menjual kopi langsung ke pelanggan di Dili dan bahkan mengekspornya ke luar negeri. Namun, seperti banyak calon pengusaha muda di Timor-Leste, Pedro menghadapi berbagai tantangan yang membuat impiannya sulit terwujud.

1. Akses Modal yang Terbatas

Salah satu hambatan utama yang dialami Pedro adalah kesulitan mendapatkan modal awal. Perbankan di Timor-Leste masih berkembang, dan pinjaman usaha kecil sulit diakses oleh masyarakat pedesaan yang tidak memiliki jaminan aset (Ximenes & Amaral, 2021). Pedro mencoba mengajukan pinjaman ke bank lokal, tetapi ditolak karena tidak memiliki jaminan yang cukup. Tanpa modal, ia kesulitan membeli mesin pemrosesan kopi dan alat pengemasan yang diperlukan untuk meningkatkan nilai jual produknya.

2. Kurangnya Infrastruktur dan Akses Pasar

Pedro akhirnya mencoba menjual kopinya dalam bentuk mentah ke pasar di Dili, tetapi akses jalan dari desanya ke ibu kota sangat buruk. Saat musim hujan, jalanan menjadi lumpur dan sulit dilewati kendaraan. Biaya transportasi yang tinggi membuat harga jual kopinya kurang kompetitif dibandingkan kopi impor dari negara lain seperti Indonesia dan Vietnam (Tilman, 2020).

Di pasar lokal, banyak pedagang lebih memilih membeli kopi impor yang lebih murah dan telah dikemas dengan baik. Ini menunjukkan tantangan besar bagi usaha kecil di Timor-Leste—meskipun memiliki produk berkualitas, akses pasar yang terbatas membuat mereka kesulitan bersaing.

3. Budaya yang Kurang Mendukung Kewirausahaan

Seperti banyak orang Timor lainnya, keluarga Pedro lebih mengutamakan pekerjaan di sektor pemerintahan sebagai jalur karier yang lebih aman. "Lebih baik bekerja sebagai pegawai negeri, gaji tetap dan ada pensiun," kata ayah Pedro, yang khawatir melihat anaknya memilih jalur yang tidak pasti.

Fenomena ini cukup umum di Timor-Leste, di mana sistem pendidikan masih lebih banyak menekankan akademik dibandingkan pelatihan kewirausahaan (Guterres & Soares, 2022). Akibatnya, banyak anak muda yang kurang mendapatkan pelatihan bisnis atau keterampilan wirausaha yang bisa membantu mereka membangun usaha sendiri.

4. Minimnya Dukungan dari Kebijakan Pemerintah

Pemerintah Timor-Leste telah melakukan beberapa inisiatif untuk mendukung usaha kecil, tetapi banyak program yang belum berjalan efektif. Pedro sempat mengikuti program pelatihan kewirausahaan yang diselenggarakan oleh pemerintah setempat, tetapi setelah pelatihan berakhir, ia tidak mendapatkan bimbingan lebih lanjut atau akses modal usaha (Lopes & Gusmão, 2019).

Kebijakan pajak dan regulasi usaha juga masih belum ramah bagi pengusaha kecil. Banyak prosedur administrasi yang rumit dan memakan waktu lama, membuat banyak orang enggan mengurus perizinan untuk usaha mereka.

5. Persaingan dengan Produk Impor

Pasar di Timor-Leste masih sangat bergantung pada produk impor, mulai dari makanan hingga barang-barang konsumsi lainnya. Meskipun kopi Timor-Leste dikenal berkualitas tinggi, sebagian besar produk yang dijual di pasar adalah kopi instan impor dari luar negeri (Pereira, 2021).

Pedro mencoba menjual kopinya secara langsung ke kafe-kafe di Dili, tetapi kebanyakan kafe lebih memilih membeli kopi dari pemasok besar yang menawarkan harga lebih murah. Persaingan dengan produk impor ini membuat usaha kecil seperti milik Pedro sulit berkembang.

Bangkit dari Tantangan: Jalan Alternatif Pedro

Meskipun menghadapi berbagai kendala, Pedro tidak menyerah. Ia mulai mencari cara untuk memasarkan produknya secara langsung ke pelanggan melalui media sosial. Dengan bantuan teman yang memiliki akses internet lebih baik di Dili, Pedro membuat akun Instagram dan Facebook untuk menjual kopinya secara online.

Selain itu, Pedro bergabung dengan koperasi petani kopi, yang membantunya mendapatkan akses ke pasar yang lebih besar dan berbagi biaya transportasi dengan petani lain. Dengan strategi ini, Pedro perlahan mulai meningkatkan penjualannya, meskipun masih jauh dari impiannya untuk mengekspor kopi ke luar negeri.

Kesimpulan

Kisah Pedro mencerminkan realitas banyak calon pengusaha muda di Timor-Leste. Kurangnya akses modal, infrastruktur yang terbatas, budaya yang kurang mendukung kewirausahaan, minimnya kebijakan yang efektif, serta persaingan dengan produk impor menjadi tantangan besar bagi perkembangan sektor usaha kecil dan menengah.

Namun, seperti yang ditunjukkan Pedro, inovasi dan ketekunan bisa menjadi solusi untuk menghadapi kendala ini. Dengan lebih banyak dukungan dari pemerintah, akses ke pendidikan kewirausahaan, serta perbaikan infrastruktur dan kebijakan ekonomi, Timor-Leste memiliki potensi besar untuk mengembangkan sektor kewirausahaan yang lebih kuat dan mandiri.


Daftar Referensi

  1. Guterres, F., & Soares, A. (2022). The Challenges of Youth Entrepreneurship in Timor-Leste: Cultural and Educational Barriers. Journal of Southeast Asian Development, 15(2), 78-95.
  2. Lopes, C., & Gusmão, J. (2019). Entrepreneurship Development in Timor-Leste: Policy Gaps and Opportunities. Economic Policy Journal, 11(4), 45-60.
  3. Pereira, X. (2021). The Impact of Imported Goods on Local Entrepreneurship in Timor-Leste. Journal of Business and Trade, 14(1), 33-50.
  4. Tilman, R. (2020). Infrastructure and Business Development in Timor-Leste: The Role of Transportation in Market Access. Timor-Leste Economic Review, 12(3), 55-70.
  5. Ximenes, J., & Amaral, P. (2021). Financial Barriers to Entrepreneurship in Timor-Leste: The Role of Banking and Microfinance. Journal of Economic Research, 13(2), 20-40.

Kurangnya Kewirausahaan di Timor-Leste: Kisah Perjuangan dan Tantangan

 Di sebuah desa kecil di distrik Baucau, seorang pemuda bernama João memiliki impian besar. Sejak kecil, ia terbiasa membantu orang tuanya bertani dan beternak. Namun, João ingin lebih dari sekadar bertani untuk kebutuhan keluarga—ia ingin membangun usaha sendiri, menjual produk lokal seperti kopi dan madu ke kota Dili, bahkan mungkin ke luar negeri.

Namun, perjalanan João untuk menjadi seorang pengusaha tidaklah mudah. Seperti banyak anak muda di Timor-Leste, ia menghadapi berbagai hambatan yang membuat kewirausahaan tampak seperti impian yang sulit diwujudkan.

1. Kurangnya Akses Modal dan Kredit

Salah satu tantangan terbesar bagi João adalah mendapatkan modal awal. Bank-bank di Timor-Leste masih sangat selektif dalam memberikan pinjaman, terutama bagi usaha kecil yang belum memiliki riwayat keuangan yang kuat. Tanpa jaminan atau koneksi, João kesulitan mendapatkan dana untuk membeli peralatan dan memperluas usahanya.

Ia mencoba mencari dukungan dari koperasi lokal, tetapi sistem pinjaman yang tersedia masih terbatas dan sering kali memiliki bunga yang tinggi. Banyak anak muda seperti João akhirnya memilih bekerja di luar negeri, terutama di Australia, untuk mengumpulkan modal sebelum kembali ke Timor-Leste dan mencoba berwirausaha.

2. Kurangnya Infrastruktur dan Akses Pasar

Meskipun João memiliki produk berkualitas, mengirim barang dari desa ke kota adalah tantangan besar. Jalan yang rusak, transportasi yang mahal, dan kurangnya jaringan distribusi membuat banyak usaha kecil kesulitan berkembang. Bahkan jika João berhasil membawa produknya ke Dili, persaingan dengan barang impor membuat harga jualnya sulit bersaing.

Banyak pedagang lebih memilih menjual produk impor dari Indonesia atau China yang lebih murah, meskipun kualitasnya tidak selalu lebih baik. Akibatnya, João harus mencari cara untuk menonjol di pasar yang lebih kompetitif.

3. Budaya dan Pendidikan yang Kurang Mendukung Kewirausahaan

Di Timor-Leste, banyak orang masih memandang pekerjaan di pemerintahan sebagai jalur karier yang paling aman dan dihormati. Pendidikan di sekolah lebih banyak menekankan pada akademik dan kurang memberikan pelatihan kewirausahaan atau keterampilan praktis dalam bisnis.

João mengalami ini secara langsung ketika mencoba meyakinkan keluarganya bahwa memulai bisnis lebih baik daripada mencari pekerjaan di sektor publik. Ayahnya, yang bekerja sebagai pegawai pemerintah, khawatir bahwa menjadi pengusaha terlalu berisiko. "Lebih baik cari pekerjaan tetap," kata sang ayah. "Setidaknya kamu punya penghasilan pasti setiap bulan."

Tekanan sosial ini membuat banyak anak muda enggan mengambil risiko dalam berwirausaha. Mereka lebih memilih mencari pekerjaan di pemerintahan atau LSM daripada mencoba membuka usaha sendiri.

4. Kurangnya Dukungan dari Kebijakan Pemerintah

Pemerintah Timor-Leste telah berusaha mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi kebijakan untuk mendukung usaha kecil masih terbatas. Program pelatihan kewirausahaan memang ada, tetapi tidak selalu mencakup dukungan berkelanjutan seperti akses ke modal, bimbingan bisnis, atau insentif pajak bagi pengusaha muda.

João sempat mencoba mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh pemerintah setempat, tetapi setelah pelatihan berakhir, tidak ada tindak lanjut. Banyak peserta pelatihan kembali ke aktivitas lama mereka karena merasa tidak ada perubahan nyata dalam peluang bisnis.

Mengubah Tantangan Menjadi Peluang

Meskipun menghadapi berbagai hambatan, João tidak menyerah. Ia mulai mencari alternatif lain, seperti menjual produknya melalui media sosial dan mencari pelanggan langsung di Dili yang tertarik dengan produk organik lokal.

Ia juga bergabung dengan komunitas pengusaha muda yang berbagi pengalaman dan ide bisnis. Dari komunitas ini, João belajar tentang cara mengembangkan bisnis dengan modal kecil dan bagaimana mencari mitra yang bisa membantu memperluas usahanya.

Kisah João mencerminkan tantangan yang dihadapi banyak pengusaha muda di Timor-Leste. Kurangnya infrastruktur, akses modal yang terbatas, budaya yang lebih mengutamakan pekerjaan tetap, serta kebijakan pemerintah yang belum optimal menjadi penghalang utama bagi pertumbuhan kewirausahaan. Namun, dengan inovasi, tekad, dan dukungan dari komunitas, para pemuda seperti João dapat mengatasi tantangan ini dan membangun masa depan ekonomi yang lebih mandiri bagi Timor-Leste.

Jika pemerintah dan masyarakat mulai memberikan lebih banyak perhatian dan dukungan kepada wirausaha muda, Timor-Leste dapat mengurangi ketergantungannya pada impor dan sumber daya alam, serta menciptakan lapangan kerja baru yang lebih berkelanjutan.


Kesimpulan

Kurangnya kewirausahaan di Timor-Leste bukan hanya disebabkan oleh satu faktor, melainkan kombinasi dari hambatan ekonomi, sosial, dan kebijakan. Namun, kisah João menunjukkan bahwa ada harapan bagi perubahan. Dengan lebih banyak dukungan bagi pengusaha muda, perbaikan infrastruktur, serta perubahan pola pikir terhadap kewirausahaan, Timor-Leste dapat membangun ekonomi yang lebih kuat dan mandiri.


Referensi

  1. Almeida, R., & Lopes, J. (2021). Challenges and Opportunities for Entrepreneurship in Timor-Leste. Dili: Economic Research Institute.
  2. Carvalho, M. (2018). Barriers to Small Business Growth in Timor-Leste. Journal of Southeast Asian Economics, 14(3), 89-102.
  3. Gusmão, X. (2022). The Role of Social and Cultural Factors in Entrepreneurship Development in Timor-Leste. Dili: Business Development Review.
  4. Pinto, S. (2023). Strategies for Promoting Entrepreneurship Among Youth in Timor-Leste. Journal of Economic Policy, 10(2), 45-60.
  5. Ximenes, T., & Tilman, R. (2020). The Impact of Infrastructure on Business Development in Timor-Leste. Dili: Social Development Journal.

Friday, 21 February 2025

Kisah pertempuran di kawasan Loes-Maubara, sebelum 7 Desember 1975

 

Inilah sosok dua Komandan Kakak - Beradik (Manus dan Malitara) yang berhasil mempertahankan kawasan LOES hingga awal tahun 1979.  Walaupun TNI telah berhasil menguasai kawasan Atabae dan sekitarnya sejak 1975 namun kawasan LOES tidak bisa dilewati TNI hingga tahun 1979, Alhasil perjalanan darat Pasukan TNI dari Atabae ke Liquica dan Dili terhambat selama beberapa tahun dan harus melalui jalur Laut dan Udara atau melalui Ermera. Sebelumnya ke lima orang Wartawan asal Australia yang dibantai oleh TNI di Balibo, dalam perjalanan mereka dari Dili ke Balibo sempat singgah di Loes dan memberikan bantuan obat - obatan kepada para serdadu Fretilin (FALINTIL) yang bermarkas di Loes, Komandan Manus sempat mengingatkan ke lima Wartawan tersebut agar dua diantara mereka melakukan peliputan di daerah Loes saja, biarkan ke tiga teman lainnya yang pergi meliput ke wilayah Perbatasan, Manus berkata demikian karena merasakan firasat buruk terhadap keselamatan mereka di daerah Perbatasan namun mereka bersikeras untuk melanjutkan perjalanan ke Balibo dan kisah mereka berakhir sangat tragis. Sebelum berangkat ke Balibo kelima Wartawan tersebut juga mengadakan peliputan di kawasan Loes namun sayang, video dokumentasi mereka tidak sempat ditayangkan dan hilang bersama kelima Wartawan asing tersebut.


Kegigihan dua kakak - beradik ini berkat kekompakan mereka dengan beberapa Komandan hebat lainnya seperti; Komandan Alexandrino Chaves (Chaves adalah Komandan Kompanhia Bubu-Api yang bermarkas di Pantai Vatuboro), Komandan Jetuli dan Amerco adalah dua Kakak - beradik yang bermarkas di daerah Rambo (daerah Rambo adalah kawasan tanah lembab dengan sebuah danau mungil  berlokasi tepat di perbatasan antara Suku Guiço dan Lissa-dilla),  Komandan  Armindo Lobo "Besilau" dan Carlos Alberto adalah dua Kakak - beradik yang bermarkas di Lissa-Dilla, Antoninho Brites "Nixon" adalah Komandan Kompanhia Tata-Bei bermarkas di Tapo-Manulu. 


Pada saat invasi TNI tanggal  7 Desember 1975 di Dili, Maun Boot José Alexandre "Xanana" Gusmão bersama beberapa petinggi Fretilin berada di Kompanhia Tata-Bei selama beberapa hari, salah - satu petinggi Fretilin yang bersama - sama dengan mereka bernama Juvinal Inacio (Menteri Keuangan). Sebelum Maun Boot Xanana Gusmão bertolak ke Dili melalui jalan pintas Vatuvou-Ana, Beliau sempat berpesan kepada para Komandan yang berkumpul di Kompanhia Tata-Bei dengan pesan "Inimigu invade ona Dili, ami tenki fila fali ba buka tuir Comite Central Fretilin agora muda fali ba iha ne'ebé ona? Atau dalam bahasa Indonesia yang artinya "Musuh telah menginvasi Dili melalui jalur udara, kami harus kembali ke Dili untuk mencari Markas Besar Fretilin sekarang pindah kemana"?


Perlu diketahui bahwa waktu itu Kompanhia Manus dan Kompanhia Bubu-Api belum dibentuk, semua Komandan berkumpul di Tata-Bei termasuk Komandan Humberto, Komandan José Benivides, Komandan Manus dan yang lainnya. Komandan Manus pernah mengenyam pendidikan kemiliteran "Tropas" atau satu letting  dengan Maun Boot Xanana di CI. Taibessi, Dili pada zaman Timor Portugis.


Berikut ini adalah kisah menarik beberapa serdadu  pemberani Fretilin; 


1. Tarcisio, adalah Komandan Peleton pemberani yang menumpas beberapa anggota TNI di daerah Vatuboro, Beliau ditangkap saat dirinya kehabisan peluru, matanya dicungkil oleh TNI oleh karena Beliau tidak bisa dibunuh dengan peluru dan karena tidak tahan dengan beratnya siksaan yang dilakukan oleh TNI akhirnya Beliau menyerahkan Pedang sakti miliknya kepada TNI untuk dihunuskan ke dadanya hingga tewas. 


2. Mau-Bete "Sang Tuan Tanah" adalah seorang SNIPER Falintil yang banyak melumpuhkan personil Marinir TNI yang berlabuh di Pantai Vatuboro (hilir sungai Loes). Pertempuran di Vatuboro juga sering memakan banyak korban sehingga Helicopter TNI seringkali mondar-mandir untuk mengangkut jenazah anggota TNI yang luka luka termasuk yang tewas.


3. Maukuru, adalah Serdadu Fretilin yang gugur didepan Markas Manus bersama sama dengan beberapa orang TNI yang menyerang markas Manus. Maukuru adalah satu satunya serdadu yang terjaga di saat malam penyerangan. Ketika itu para serdadu lainnya sedang tertidur lelap, bunyi senjata Maukuru membangunkan para serdadu yang tertidur lalu terjadilah pertempuran yang hebat dan berdurasi selama 24 jam, namun sayang bunyi senjata Maukuru saat itu adalah untuk yang terakhir kalinya karena sebuah peluru milik TNI langsung menembus kepalanya.


 4. Victor, adalah Serdadu pemberani yang maju bersama sama dengan Manus untuk menyerang Kecamatan Maubara, Beliau gugur di daerah Dubua-lara Maubara (2 KM arah barat benteng Maubara) dalam pertempuran selama 12 jam. Penyerangan ke Maubara sebenarnya atas tantangan seorang Komandan Falintil asal Ermera, ketika berkunjung ke Markas Manus beliau meremehkan Pasukan pimpinan Manus dengan kalimat mengejek seperti berikut ini "Seandainya saya yang bermarkas disini, besok pagi saya akan sarapan di Maubara dan Makan Siang di Liquiça" mendengar ucapan tersebut Manus terpancing emosi dan berkata kepadanya "Besok saya akan sarapan di Maubara, mengenai makan siang saya tidak janji". Penulis sempat bertanya kepada Komandan Manus, kira kira berapa banyak korban dari pihak lawan (TNI), "hau so hatene hau tiru mate inimigu nain 3 ne'ebé kaer Metralhador nee, tanba ida monu sira mai rasta ses tiha, ida troka fali hodi kaer metra, troka malu kuaze dala tolu mak Helicoptru foin tuun mai lalin sira" yang artinya "saya pastikan tiga orang yang memegang senjata serbu, tiga kali gonta ganti orang, kemudian datanglah helikopter untuk mengevakuasi mereka.


5. José Gringgo, adalah milisi Fretilin pemberani berbadan kekar dan tinggi, pada saat penyerangan ke Atabae José Gringo menjabat sebagai Comandante Secção. Beliau gugur di kawasan Megir (daerah mandoki) ketika maju bersama Manus untuk menghadang Tank TNI di daerah tersebut,  Jose Gringgo berusaha menghadang laju Tank milik TNI dengan sebuah granat karena ia kehabisan peluru namun karena ia salah melemparkan granat tersebut akhirnya Ia tertembak dan gugur. Pertempuran di megir merupakan pertempuran pertama Komandan Manus bersama beberapa orang anak buahnya yang masih tergabung dalam CIA 42. CIA 42 akhirnya berganti nama menjadi Kompanhia Tata-Bei, dan dari Kompanhia Tata-Bei terbagi lagi menjadi beberapa Kompanhia termasuk Manus. Setelah José Gringgo dan Doti-Ana gugur di Megir, anak buah Manus berpencar lalu meninggalkan Manus sendirian di medan pertempuran selama 3 hari 3 malam, selama tiga hari tersebut Manus hanya mengkonsumsi Mangga di perbukitan Atabae. Laporan  yang diterima Xefe Estado Major (Kepala Staff Falintil), Domingos Ribeiro bahwa Manus dan kedua anak buahnya telah gugur di medan pertempuran. Pada saat mereka sedang berunding untuk mencari Komandan baru guna menggantikan posisi Manus tiba tiba seorang Anak buah Manus datang dari arah sungai Loes melaporkan bahwa ada seseorang di seberang sungai Loes mirip Komandan Manus, mendengar kabar itu , kakaknya Manus yang bernama  Maupelu "Lari-lari"  dengan cepat menuju sungai Loes dengan Kuda kesayangan sang Komandan (Kalunga). Benar saja yang dilihat, ternyata sejak fajar Komandan Manus sudah mencoba menyeberangi sungai Loes namun beliau tidak bisa menyeberang Karena tidak tahu cara berenang. 


Perlu diketahui bahwa, Pada kejadian tahun 1999, adiknya José Gringgo beserta ketiga temanya juga ikut tertembak di Suku Guiço pada 27 Januari 1999 ketika ia dan para Pemuda Pro Kemerdekaan menghadang Milisi Besi Merah Putih dan TNI dari Koramil Maubara yang menyerang Suku Guiço kemudian merusak Rumah Manus.


6. João Baptista, adalah Serdadu pemberani yang pernah kecewa terhadap Komandan Manus lantaran dua kali permintaannya untuk menembak pesawat Bronco milik TNI-AU di Sungai Loes ditolak oleh Manus dengan alasan pesawat tersebut terbang terlalu tinggi, percakapan João Baptista dengan Manus seperti berikut ini; 


"Komandante, a posi se" yang artinya, "Komandan, mohon izin untuk menembak" 


"Lobo ke u du rae rae" yang artinya "biarkan pesawat itu mendekat" 


"Komandante, kau limu glata se" yang artinya "Komandan, tangan saya sudah gatal" 


"Lobo ke u du pita snit" yang artinya " biarkan pesawat itu lebih dekat lagi". Namun pesawat tersebut malah berbalik arah dan kembali ke arah Cailaco.


7. Isidoro, adalah Serdadu Fretilin yang bermarkas di Kompanhia Bubu-Api, Beliau pernah menembaki sebuah pesawat milik TNI-AU yang terbang rendah di Pantai Vatuboro, pesawat yang ditembaki langsung mengeluarkan asap, dicurigai pesawat tersebut jatuh di Pantai Lauhata, Liquica. Namun info yang beredar dikalangan masyarat saat itu bahwa pesawat tersebut jatuh karena kehabisan bahan bakar. 


8. Maubusa Kabosu, adalah pengawal jarak dekat Manus, namun pada saat penyerangan ke Maubara tepatnya daerah Dubua-Lara (Vatu ha'e) Maubusa Kabosu tidak terlibat, hal ini dikarenakan pada saat mereka melakukan acara ritual ada tanda tanda buruk pada Maubusa Kabosu dan Victor (lihat kisahnya di nomor 4), Kabosu dipercayakan Manus dalam hal penyerangan jarak dekat oleh karena Kabosu sangat ahli dalam hal melemparkan Granat. Kabosu juga menceritakan bahwa sejak pertempuran tahun 1975 hingga 1979 ada sekitar 300 lebih Pasukan TNI yang terbunuh dan itu belum termasuk yang luka parah dan meninggal di Rumah Sakit Militer. Sumber lain juga mengatakan bahwa setelah kawasan Loes direbut  pada tahun 1979, jumlah personil TNI yang gugur menyentuh angkah 1000.


9. Kalunga, adalah Seekor Kuda kesayangan milik Komandan Manus yang dilatih khusus untuk pertempuran jarak menengah dan jauh, ketika Manus menjabat sebagai Komandante intervensaun sekaligus Segundo Comandante Brigada Xoque untuk kawasan Loes dan sekitarnya, Kalungga dan 50 ekor kuda lainnya dipakai untuk memburu  Militer Indonesia yang mencoba menyeberangi sungai Loes. Kuda kuda tersebut sangat mengerti keadaan Perang,  apabila terdengar bunyi senjata dalam jarak menengah atau jarak jauh Kuda Kuda tersebut khususnya Kalungga tidak bisa dikendalikan oleh orang lain kecuali oleh Sang Komandan, begitu sang Komandan berada diatas punggungnya, Kalungga akan berpacu bak kecepatan peluru menuju sumber bunyi tembakan.


Pada kejadian di Atabae ada beberapa anggota TNI yang gugur bersama José Gringgo di tempat tersebut, khususnya para anggota TNI yang berjalan mengawal Tank pertama yang melaju paling depan. Di tempat yang berbeda Komandan Malitara dengan anak buahnya ditugaskan untuk menjaga Sungai Loes dari serangan musuh. Setelah gagal merebut Atabae, Manus dan kelompoknya berusaha merebut kembali Kecamatan Maubara pada awal tahun 1977 namun gagal karena Manus tertembak di kawasan Dubua-Lara (Sekitar 2 km arah barat Benteng Maubara),  Manus harus dilarikan kembali ke Loes untuk pengobatan tradisional (hingga saat ini sebuah peluru masih bersarang di paha kirinya). 


Mendengar bahwa Komandan Manus terluka parah maka TNI yang bermarkas di Atabae dengan cepat menyerang Kompanhia Manus. Manus yang terluka parah menyerahkan tanggung jawab kepada Sang adik yakni Komandan Malitara untuk menhadang serangan TNI ke Markas Manus. Namun sial bagi Komandan Malis karena Beliau juga terkena tujuh tembakan di Kepala dan satu tembakan di kaki (Sampai saat ini bekas tembakan masih terdapat di kepala dan wajah Malis), Pertempuran yang berlangsung selama 24 jam tersebut membuat TNI terpukul mundur dan kembali ke Atabae.


Banyak anggota TNI yang gugur di depan markas Manus, dua buah Helicopter milik TNI dari Atabae dikerahkan ke  Guiço untuk mengevakuasi korban dari pihak TNI, informasi yang beredar saat itu bahwa Komandan TNI yang memimpin penyerangan tersebut  juga ikut tertembak di depan Markas Kompanhia Manus. Tidak ada angka pasti anggota TNI yang gugur di Loes secara keseluruhan namun menurut pengakuan Manus dan para Komandan lainnya bahwa angka kematian TNI di Loes cukup tinggi (dihitung dari tahun 1975-1979). Ada informasi dari sumber  yang berbeda, khususnya masyarakat Atabae yang berdomisili di sekitaran daerah Raerobo mengatakan bahwa saat penyerangan ke Markas Manus di daerah Guiço ada sekitar 40 sampai 50 mayat yang diangkut ke Raerobo kemudian diterbangkan ke Dili dan Atambua (kebanyakan beberapa orang partisan, hansip dan TBO).


Setelah Kompanhia Manus diserang, Komandan Malitara dipanggil oleh Komandan Sektor Sebastião Doutel Sarmento dan Xefe Estado Maior Domingos Ribeiro untuk diinvestigasi terkait kejadian tersebut namun karena bekas tembakan yang memenuhi Kepala dan wajah Malitara membuat mereka kebingungan, sambil bertanya, "Tansa mak Kilat ida o kaer nee rahun hotu maibe o nia ulun la rahun" artinya "Kenapa senjata yang kamu pakai hancur oleh tembakan musuh namun Kepala kamu masih utuh"?. Setelah menyaksikan kejadian tersebut Komandante Malitara mendapat kepercayaan untuk menggantikan posisi Komandan Alexandrinho Chaves di Kompanhia Bubu-Api yang bermarkas di Pantai Vatuboro dan Komandante Alexandrinho menempati posisi baru yakni Asistente Produsaun. Sedangkan Komandan Manus menjadi Komandan Movel yang bertanggung jawab atas wilayah Guiço hingga daerah Dair namun Manus sering dipanggil untuk membantu Pertempuran di Fatubessi - Ermera.


Dengan semangat juang yang tinggi, para Komandan dan Serdadu Falintil yang bermarkas di Loes dijuluki TNI dengan sebutan "Russia alias si Mata Putih". Istilah Russia diberikan kepada Manus dan kawan kawan karena TNI mencurigai adanya orang - orang Uni Soviet yang membantu mereka di kawasan tersebut sehingga sulit bagi TNI untuk menerobos kawasan Loes. Dua Kakak - beradik ini akhirnya tertangkap di kawasan Li'o daerah Guiço pada tanggal 14 Februari 1979 (Manus dan Malitara terjebak dengan skenario Skylight lalu tertangkap). Akhirnya Manus di jebloskan ke Penjara di Balide dan Colmera lalu diasingkan ke Pulau Atauro hingga tahun 1984 (Kisah pembuangan ke Atauro sudah pernah ditulis dalam artikel sebelumnya).


Sedangkan Malitara dipenjarakan di Liquica. Sepulangnya dari Atauro Manus tidak pernah luput dari pantauan TNI sehingga beberapa kali beliau kembali ditangkap dan disiksa dipenjara-penjara di Liquica dan Dili. Banyak penyiksaan yang Manus alami khususnya di dalam penjara Liquica, Balide dan Colmera Dili hingga mengakibatkan Gigi bagian depan Manus patah, Gigi Manus dipatahkan oleh seorang anggota Kopassus bernama Suroto di ruang penyiksaan Kotis, Colmera Dili (Bersebelahan dengan Kantor Pengadilan Dili saat ini).


Terakhir kali Manus ditangkap yakni pada tahun 1995 oleh Satuan Tim dari Kopassus yg berseragam sipil, untungnya sang sopir yang mengendarai mobil kopassus tersebut pendukung Pro Kemerdekaan, beliau secara sembunyi - sembunyi melaporkan penangkapan itu ke Almarhum Pastor Rafael di Liquica sehingga Manus tidak sempat di bawah ke Colmera Dili. Manus dibebaskan oleh Pastor Rafael saat akan diberangkatkan ke Dili, sang Sopir berjiwa patriot yang melaporkan kejadian tersebut bernama Maun Crispim (Seorang Pemuda Pro Kemerdekaan asal Liquica) Beliau dipaksa oleh Kopassus untuk berangkat ke Loes untuk menjemput secara paksa mantan Komandan Manus. Maun Crispim sering bercerita tentang kejadian mengerikan tersebut.


Pada awal tahun 1999 tepatnya 27 Januari 1999 (hari dimana opsi Referendum diumumkan oleh Presiden RI. Prof. BJ. Habiebie, alm.), Rumah Manus dihancurkan oleh Milisi Besi Merah Putih dibantu oleh TNI dari Koramil Maubara. Manus dan keluarganya mengungsi ke Liquica (depan lapangan sepak bola Liquiça) sedangkan Malitara dan keluarganya mengungsi ke kawasan Asulau - Ermera.


Rumah yang dijadikan tempat pengungsian oleh Manus dan keluarganya dibakar oleh Milisi Besi Merah Putih dan TNI dari Koramil Maubara pada tanggal 5 April 1999 atau sehari sebelum penyerangan Milisi dan TNI ke Gereja Liquica. Kemudian, Manus dan keluarganya berhasil meloloskan diri ke Dili pada tanggal 4 April namun dua orang anaknya tidak sempat melarikan diri dan memilih mengungsi ke Gereja Liquica, karena perlindungan Tuhan, kedua anaknya berhasil selamat dari pembataian di Gereja Liquiça. Di Dili, keluarga ini berpindah pindah tempat, dari satu tempat ke tempat yang lainnya untuk menghindari pencarian yang dilakukan oleh Milisi dan TNI dari Koramil Maubara. Hingga tanggal 30 Agustus 1999, Manus dan keluarga mengadakan pencoblosan suara di TPS Farol, bersama sama dengan beberapa orang pengungsi dari Liquica. Setelah pencoblosan mereka kembali mengungsi ke Dare (perbukitan Dili)  untuk menunggu hasil Jajak pendapat.


Dibalik pahitnya kisah diatas ada sebuah kisah yang penulis anggap sangat kocak, yakni ketika Manus dan anak buahnya tertangkap di kawasan Loes, waktu itu tidak ada yang bisa berbicara Bahasa Indonesia karena Bahasa Indonesia tidak pernah dipelajari oleh mereka, jangankan dipelajari mendengar pun belum pernah,  Oleh karena itu mereka saling bertanya, katanya "Nanti kalau ditanya kita bicara bagaimana"? (maksudnya bicara pakai bahasa apa), disaat mereka masih kebingungan Ayah dari Manus dan Malitara menjawab "Nanti bilang aja Konisua atau Oaio Gojaima" (Konichiwa dalam Bahasa Jepang artinya "Hallo atau Hi" sedangkan Ohayo Gozaimashu dalam Bahasa Jepang artinya "Selamat Pagi"), Beliau mencoba mempraktekan Bahasa Jepangnya tetapi aksen bahasa Tokodede (Bahasa Lokal Maubara) malah sangat kental sehingga terdengar sangat menggelitik. Kebetulan Ayah mereka berdua pernah menjadi pekerja paksa "Rody" waktu invasi Jepang ke Timor Portugis pada Perang dunia kedua sehingga Sang Ayah juga mengerti beberapa Kosa kata Bahasa Jepang. Namun sebelum proses investigasi dimulai Manus mengingatkan semua anggotanya dan masyarakat yang mengikutinya dengan pesan "Bila nanti kalian ditanya macam macam oleh Militer Indonesia, kalian bilang saja, Kami tidak tahu apa apa semua yang kami lakukan adalah atas Perintah Komandan Manus" dan benar saja ketika investigasi dimulai semua anggota dan masyarakat dibebaskan kecuali Manus dan Malitara langsung disiksa dan dijebloskan ke Penjara, beberapa kali Manus melewati masa masa sulit namun selalu luput dari upaya percobaan Pembunuhan.


Berikut adalah pembicaraan awal ketika Manus tertangkap, Seorang 

Komandan TNI mulai bertanya berkali kali kepada Manus;

"Apakah benar anda adalah Komandan Manus"? Pertanyaan ini diulang dua kali karena Sang Komandan TNI tidak yakin bahwa yang sedang berada dihadapannya adalah Komandan Manus yang dikenal sangat ganas dan berbahaya di kawasan Loes (Tiap kali pertempuran Manus tidak pernah membungkuk apalagi bergulingan ditanah, Beliau selalu berdiri dengan tegap dan kadang beliau menembak dari atas kuda), lantaran info yang beredar di Atabae bahwa Komandan Manus adalah orang Russia bermata putih , namun yang sedang berada dihadapannya malah bermata hitam, Karena tidak percaya Komandan TNI tersebut mencoba menelpon ke Atabae bahwa Komandan Manus sudah ditangkap tapi dia tidak bermata putih melainkan Bermata hitam, kebetulan di Atabae ada keluarga Komandan Manus yang bernama Bapak Manuel Maia, Bapak Manuel Maia meminta agar Komandan TNI tersebut menyerahkan Telepon (HT) ke Manus agar beliau berbicara langsung dengan Manus. Saat berbicara dengan Manus, beliau katakan pada Manus bahwa "Sakana, Haruka sira fihir didiak O nia matan nee, tanba hau dehan bebeik ba sira katak Manus nee ema Timor Oan maibe sira la fiar, sira dehan iha Loes laos ema Timor Oan mak iha neeba maibe ema Russia" terjemahan dalam Bahasa Indonesia "Suruh mereka (TNI) menatap baik baik mata kamu, Karena sudah berkali kali saya katakan bahwa di kawasan Loes tidak ada orang Russia tapi mereka tidak percaya". Kemudian Manus tersenyum sambil berkata kepada Sang Komandan TNI tersebut "Sou Comandante Manus".


Ada sebuah kisah lagi yang membuat Manus sangat kaget hingga tak bisa berkata kata yakni saat seorang perwira TNI bernama Sunardi berjalan mendekati Manus secara blak-blakan membeberkan kisah Manus dan Komandan Alexandrinho Chaves saat mereka berdua masih "jomblo" di Dili, bahkan dia tahu dengan sangat jelas tempat dimana mereka biasa nonkrong, bekerja bahkan tempat tinggal mereka, berikut ini adalah kata kata yang dilontarkan oleh Sunardi; 


"Molok funu hahu ami iha nee tiha ona, ami hatais lipa, haklili kohe, mama malus, faan roupa la'o tama sai bairo, hau  hatene uluk ó nee Policia, Alexandrinho Chaves imi nain rua hela iha Formosa,  depois mak o muda ba hela fali iha Bebora, ikus liu muda ba Maloa, Alexandrinho nia namorada mos hau kuñese. Imi la kunhese ami maibe ami kunhese imi" artinya "Sebelum perang dimulai kami sudah ada di sini, Kami berpakaian dan berperilaku ala orang pribumi sehingga gerak gerik kami tidak dicurigai, saya tahu kamu adalah seorang polisi yang tinggal bersama sama dengan Alexandrinho Chaves di Formosa, kemudian kamu pindah ke Bebora lalu menetap di Maloa". Manus terdiam membisu mendengar pengakuan Sunardi yang sangat detail dan fasi berbahasa Tetun tersebut.


Setelah tertangkapnya Manus dan Malitara beserta anak buahnya, maka jalur darat dari Atabae menuju Dili kembali dibuka pada tahun 1979. Sekedar informasi tambahan bahwa; Pada pertengahan tahun 1976, Manus dan anak-buahnya pernah diajak oleh Bapak Floriano Chaves untuk mundur ke Centro Lestre (Sektor tengah dan Timur) untuk bergabung dengan kelompoknya Komandan José Cirillo "Maubrani" namun Manus menolak. Ketika Bapak Floriano Chaves ingin beranjak dari kawasan Loes Manus sempat mengingatkan Beliau untuk mengurungkan niatnya. Kedekatan Manus dengan Floriano Chaves membuat Manus menempati beberapa posisi penting sehingga Manus rela melepaskan seorang Anak buah kepercayaannya untuk mengawal Floriano Chaves. Sebelum berpisah Manus berpesan pada pengawal tersebut "Molok ó nia Tio (Floriano Chaves) mate, ó tenki mate uluk" atau dalam Bahasa Indonesia "Pastikan sebelum Pamanmu (Floriano Chaves) gugur kamu harus lebih dulu mati". Informasi mengenai kematian Beliau masih simpang-siur, ada informasi yang mengatakan bahwa Beliau tertembak di Buikaren (Viqueque) saat Beliau sedang mandi namun kebenaran berita tersebut masih diragukan. Perlu diketahui bahwa Bapak Floriano Chaves adalah salah satu toko pendiri Partai ASDT/Fretilin bersama beberapa toko penting lainnya.


Penulis berharap ada mantan Veteran Seroja di Group ini yang dulu pernah terlibat dalam pertempuran dan penangkapan Komandan Manus dan adiknya di Loes, bisa menceritakan versi anda di Group ini agar tidak terjadi kesalahan informasi. 


Berikut ini adalah nama nama para serdadu Fretilin yang bermarkas di Kompanhia Manus.

1. José Lino dos Reis alias Manus alias Manu-Kiak semo nafatin

2. Emilio "Serawe" (2' Comandante)

3. Thomas S.Nunes "Malis Kaitara"

4. Dasilelo

5. Daniel "Manu-Meta"

6. Manuel Silva "Saruntu"

7. Elves "Mau-Dato"

8. Acaçio

9. João Baptista "Mada-Ulu"

10. Alarico "Xamana"

11. Aquiles

12. Maubusa "Kabosu"

13. Manuel "Batu-Buti"

14. Mau-Loe

15. Bakasa

16. Bau-Ana "Lari-Lari"

17. Gilberto

18. Loro-poku

19. Abilio "iro dasa"

20. José Gringgo (Martir)

21. Victor (Martir)

22. Maukuru (Martir)

23. Doti - Ana (Martir)

Dan masih ada banyak lagi lainnya yang tidak sempat disebutkan namanya disini.


Jabatan yang pernah disandang oleh Komandan Manus antara lain.


1. Komandan Peleton (CIA 42) sekaligus sebagai penanggung - jawab medis/kesehatan Falintil untuk zona Maubara yang berpusat di Kompanhia Tata-Bei. Jabatan sebagai penanggung-jawab medis diserahkan secara langsung oleh Bapak Presiden Nicolau Lobato.


2. Komandan Instructor di Companhia Keta bok


3. Komandan Kompanhia Manus sekaligus sebagai Komandan Kavaleri untuk zona Centro Fronteira Norte dan juga sebagai Wakil Sekretaris Zona Maubara (1976)


4. Wakil Komandan Brigada Choque (Pasukan Intervensi Gerak Cepat) untuk zona Loes dan sekitarnya dan ini adalah jabatan terakhir Beliau sebelum tertangkap dalam operasi Skylight atau yang lebih dikenal dengan istilah Aniquilamento.


5. Pada Masa Masa Clandestine tepatnya pada tahun 1993, Manus pernah menjabat sebagai Sekretaris Zona Maubara, posisi ini diberikan oleh Komandan Nino Konis Santana, namun Karena penangkapan dan siksaan yang terus dialami oleh Manus, akhirnya posisi sebagai Sekretaris Zona diambil alih oleh Sepupu Manus yang bernama Feliz da Costa "Anin Buras" dan Manus menempati posisi Vice Sekretaris Zona hingga masa Referendum 30 Agustus 1999.


Keterangan singkat mengenai Kode; MANUS adalah singkatan dari MANU KIAK SEMO NAFATIN, dalam bahasa Indonesia berarti "Burung yang terbang tanpa lelah"  sedangkan MALITARA atau MALIS KAITARA yang artinya "Senyuman berduri" 


(Heroi sem nome Part 3)


Penulis  : José Violante Silva Reis #JVshare


Sumber : 

1. José Lino Reis "Manus" (Alm)

2. Thomas "Malitara"

3. Emilio "Serawe"

4. Leonel de Carvalho "Maubuti"

5. Manuel Maia (Alm) 

6. Abilio "iro dasa"

7. Paulina da Silva (istri Alm. Manus)

8. Masyarakat Loes

9. Lain - lain.

Wednesday, 4 December 2024

𝐗𝐀𝐕𝐈𝐄𝐑 𝐃𝐎 𝐀𝐌𝐀𝐑𝐀𝐋 𝐔𝐌 𝐍𝐀𝐂𝐈𝐎𝐍𝐀𝐋𝐈𝐒𝐓𝐀 𝐏𝐔𝐑𝐎. (Parte 1)


 𝙿𝙾𝚁 𝙴𝚂𝙲𝚁𝙸𝚃𝙾.

𝙼𝙰𝚄𝙽 𝙱𝙾𝙾𝚃: 𝙺𝙰𝚈 𝚁𝙰𝙻𝙰 𝚇𝙰𝙽𝙰𝙽𝙰 𝙶𝚄𝚂𝙼𝙰𝙾.

Ha'u tenki declara katak lolós Ema seluk nebé besik liu Presidente Xavier do Amaral mak tenki ko'alia kona-ba nia.


Ha'u conhece Xavier do Amaral, nudar timoroan matenek ida, nebé atu sai ona Nai-Lúlik, hili hola feto no la hetan ordenação. Nia tama serviço iha Alfândega no ema hotu conhece nia, tanba dala barak ko'alia kona-ba portugueses sira ninia hahalok iha ne'e.


Iha Abril 1974, mosu Revolução dos Cravos iha Portugal. Iha Timor, iha ona liberdade atu ko'alia abertamente hasoru colonialistas sira, no liberdade atu ko'alia kona-ba futuro ita-nia Rain nian.


Ha'u como sinti-an la serve ba política, ha'u buka acompanha no haré Movimentos políticos oi-oin nebé mosu. UDT, nebé, foufoun, hakarak hamutuk nafatin ho Portugal. Mosu tan APODETI, hakarak integração ho Indonésia, nune'e mós ADITLA hakarak integra ba Austrália.


Hodi acompanha processo ne'e, mak rona katak ASDT mosu iha 20 de Maio no hakarak Ukun-an. Rona


katak Francisco Xavier do Amaral mak sai Presidente ASDT.


Iha fulan Maio, ha'u sai husi servisu iha administração colonial, iha ne'ebé ha'u responsável ba Finanças. No, hanesan ha'u temi ona, ha'u sinti katak ha'u labele tama ba política, tanba la hatene buat ida. Nune'e ha'u hili ba Darwin, buka servisu, hodi halibur osan, bele fila fali atu investe iha sector privado.


Iha Darwin, malae balun liu husi nebá, atu fila ba Portugal, hodi ha'u rona katak ASDT muda ba FRETILIN, iha 11 de Setembro de 1974, katak, husi Associação Social-Democrata de Timor passa ba Frente Revolucionária de Timor-Leste Independente.


Fila mai Dili atu lori família ba Darwin, maibé Ciclone boot, Tracy, harahun tiha Darwin no ha'u labele fila, nune'e buka servisu oi-oin to'o sai tiha jornalista, hodi acompanha situação política iha Timor.


𝐆𝐎𝐋𝐏𝐄 𝐊𝐎𝐍𝐓𝐑𝐀 𝐆𝐎𝐋𝐏𝐄.


Situação começa manas, tanba Movimentos políticos sira começa critica malu no sira-nia militantes sira haré malu la diak ona. Iha fulan Julho 1975, ameaças oi-oin, ema baku malu, no tanba ha'u simpatiza ho FRETILIN iha hanoin Ukun-an, ha'u husik hela ha'u-nia família iha Farol, tanba knuk UDT nian, no ha'u halai bá hela tiha iha Sede Fretilin, maka Xavier do Amaral ninia uman, iha Santa Cruz.


UDT halo nia golpe iha fulan Agosto no careta la'o hale'u Dili hodi hakilar 'Golpe Anti-Comunista'. No, iha loron ida, camioneta rua ho tropa timoroan mosu, no sr. João Carrascalão, Comandante Polícia, major português ida, ho tan Capitão Lino, oficial português, nebé lori forças sira né husi Baucau, bá to'o sede Fretilin no ha'u mesak mak hamrik iha nebá.


Sira hakilar no haruka hatún bandeira Fretilin no ha'u dehan lae, no sira rasik mak hatún, no kaer ha'u ba dadur iha Palapasu, iha nebé Quadros no militantes Fretilin barak nebé UDT kaer iha fatin-fatin, hodi baku no tebe.


Membros CCF (Vice-Presidente Nicolau no sira seluk tan), nebé ha'u rasik maka ajuda lori ba subar iha Mota Ulun, halai liu ba Aileu no iha nebá halo Insurreição Armada ho Companhia Aileu no, nune'e, hahú Contra-Golpe. Ho contra-golpe, UDT lakon no halai ba Fronteira hodi tama ba Kefa no Atambua.

Ha'u temi buat sira ne'e, tanba ho buat sira nebé acontece ne'e, maka CCF hatama ha'u iha Comité Central maski ha'u lakohi, hodi dehan ba sira katak sira la konsulta tan ha'u. Nudar jornalista, maka CCF fó Secção Informação atu kaer. Ha'u tama tiha iha Comité Central Fretilin, maka ha'u bele conta histórias sira nebé tuir mai ne'e.


Ho situação controlada ona, Xavier do Amaral tun ba Dili no hela iha Lahane. Iha nebá, mak iha Reunião CCF, hodi decide kona-ba Loron Proclamação no ha'u simu Texto Proclamação atu halo no imprime iha Imprensa.


No, iha 28 de Novembro de 1975, iha Palácio do Governo, halo Cerimónia Proclamação Unilateral da Independência, texto nebé Xavier do Amaral lê no assina.


Nudar jornalista, ha'u halo duni filme ida ba Cerimónia ne'e tomak, maibé ho invasão 7 de Dezembro lakon tiha deit, tanba rai hela iha uma.


𝐈𝐍𝐕𝐀𝐒𝐀𝐔𝐍


Iha 4 de Dezembro, ami membros CCF lubuk ida maka bá Lois, hodi acompanha companhias Falintil, ho Cmdt. Hermenegildo mak comanda iha nebá, ne'ebé buka atu hapára avanço inimigo-nian nebé hola ona Atabae to'o mota sorin. Tanba udan maka'as, TNI iha mota sorin loromonu no Falintil iha mota sorin mai.


 Iha 7 de Dezembro, dadersan nakukun, ami rona aviões lubuk ida liu husi ami nia leten. Kala tuku 8 ka tuku 9, Cmdt. Hermenegildo fó hatene katak inimigo tun, ho paraquedas, hahú invasão iha Dili laran tomak. Nia buka bá to'o Dili, maibé loraik nia fila ona, informa katak nia to'o deit Tibar, ema halai sai husi Dili. Tuir nia simu informação, husi 'racal', membros CCF mós sésan ona ba Aileu. Nune'e mak, ami decide atu fila kedas no liu ba Aileu. To'o iha Aileu, mak hatene katak VicePresidente Nicolau no membros CCF seluk iha hela Laulara. No ami mós tun to'o Laulara.

Liu tiha loron hirak, Xavier do Amaral liu husi Laulara atu bá Dili. Forças sira haruka pára, membros CCF bá ko'alia ho nia, nia exige lós atu ba Dili: 'ha'u tenki ba, atu hasoru ho indonésios sira hodi haruka sira fila, tanba ne'e invasão'. Depois de CCF convence tiha nia, maka Xavier do Amaral fila fali mai Turiscai.


Inimigo mós avança daudauk, hola tiha Aileu. Iha Maubisse, CCF halo reunião hodi decide katak ami, membros CCF, tenki namkari no ida-idak ba ninia fatin hodi organiza população no acompanha forças sira nebé iha nebá. Ha'u liu husi Turiscai, mai duni hasoru Xavier iha ninia uma, ba Fatu Makerek, liu husi Laclúbar, Cribas no bá liu Marabain.


𝐅𝐀𝐓𝐔𝐁𝐄𝐑𝐋𝐈𝐔


Iha fulan Março 1976, husi Marabain, Manatuto, ha'u mós ba Reunião Comité Central FRETILIN nian, ho Comandantes sira, iha Fatu Berliu.


Comandantes FALINTIL nian, hotu-hotu exSargentos husi Exército português, balun sai Comandantes de Sector, haré tiha ba funu ninia desenvolvimento, husu Reunião ne'e atu hato'o sirania preocupação. Iha nebá, assunto boot maka tenki 'Husu Apoio Militar husi Rai Liur'.


Nune'e, Comandantes sira, nudar militares nebé comanda funu, fó hatene ba CCF katak sira preparado atu lori soldados sira halo funu hasoru TNI, maibé problema boot liu mak kilat no kilat-musan ka munições. Kilat barak nebé FALINTIL kaer, kilat sira né marca G3, nebé Exército português rai hela no, ho tempo, sei at daudauk no la iha peças atu troca. Konaba munições G3 nian, ho tiru malu ho inimigo, menos ba beibeik ona no, karik ita captura kilat foun, hanesan AR15, labele usa munições sira ne'e ba G3.

Thursday, 24 October 2024

Tara bandu dan Enterpreneurship

 Fakto-faktor yang dapat mempengaruhi niat atau motivasi seseorang untuk berwirausaha, terutama dalam konteks masyarakat Timor-Leste yang memiliki aturan adat atau norma tradisional kuno. Berikut adalah penjelasan masing-masing indikator:

  1. Aturan Adat yang Mengatur Penggunaan Sumber Daya Alam yang Dapat Menjadi Dasar bagi Usaha Baru: Aturan adat dapat mengarahkan bagaimana sumber daya alam dikelola dan dimanfaatkan. Ketika aturan adat memberikan panduan yang jelas mengenai penggunaan sumber daya, hal ini dapat memberikan dasar hukum dan sosial bagi usaha baru yang berbasis sumber daya lokal. Misalnya, aturan tentang penangkapan ikan, penebangan hutan, atau penggunaan lahan pertanian dapat menjadi pedoman untuk usaha yang berkelanjutan dan sesuai norma setempat.


  2. Nilai-nilai Kolektif: Tanggung Jawab Sosial dan Keberlanjutan Lingkungan, terhadap Motivasi untuk Berwirausaha: Nilai-nilai kolektif yang menghargai tanggung jawab sosial dan keberlanjutan lingkungan dapat mendorong wirausaha yang beretika dan berkelanjutan. Pengusaha yang dipandu oleh nilai-nilai ini cenderung lebih termotivasi untuk menciptakan usaha yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga memberikan manfaat sosial dan lingkungan.

  3. Dukungan Sosial untuk Berwirausaha Berdasarkan Aturan Adat: Dukungan sosial dari masyarakat, terutama yang didasarkan pada aturan adat, dapat memperkuat niat berwirausaha. Dukungan ini bisa berupa akses terhadap jaringan sosial, sumber daya, atau modal, serta pengakuan dan penghargaan dari komunitas terhadap usaha yang sesuai dengan nilai-nilai adat.

  4. Kepatuhan terhadap Aturan Adat: Tingkat kepatuhan individu terhadap aturan adat dapat mempengaruhi minat untuk berwirausaha. Mereka yang menghargai dan mematuhi aturan adat mungkin lebih cenderung menjalankan usaha yang sejalan dengan norma dan tradisi setempat, yang pada gilirannya bisa mendapatkan dukungan sosial yang lebih besar.

  5. Persepsi Risiko terhadap Minat Berwirausaha: Persepsi terhadap risiko yang terkait dengan berwirausaha dapat memengaruhi niat untuk memulai bisnis. Jika individu menganggap risiko berwirausaha rendah, mereka lebih mungkin untuk tertarik memulai usaha. Faktor-faktor seperti lingkungan usaha yang stabil, dukungan komunitas, dan aturan adat yang melindungi usaha dapat menurunkan persepsi risiko.

  6. Peluang yang Dilihat ke Depan dalam Berwirausaha: Motivasi untuk berwirausaha sering kali dipengaruhi oleh peluang yang dapat dilihat ke depan. Jika seseorang merasa ada peluang yang baik di masa depan, mereka akan lebih terdorong untuk memulai usaha. Ini mencakup potensi pasar, akses ke sumber daya, atau perubahan sosial yang membuka peluang usaha baru.

  7. Penyelesaian Konflik atas Penggunaan Sumber Daya: Penyelesaian konflik yang baik terkait penggunaan sumber daya dapat menciptakan lingkungan yang kondusif untuk berwirausaha. Konflik atas sumber daya alam, seperti lahan atau air, jika dikelola dengan baik melalui mekanisme adat atau formal, dapat meningkatkan kepastian dan stabilitas usaha.

  8. Dukungan Institusional untuk Memulai Bisnis: Dukungan dari institusi, baik itu pemerintah, lembaga adat, atau organisasi lain, memainkan peran penting dalam mendukung niat berwirausaha. Bentuk dukungan ini bisa berupa regulasi yang mendukung, akses ke permodalan, pelatihan keterampilan, atau bantuan teknis yang mempermudah pendirian dan pengelolaan usaha.

Indikator-indikator tersebut mencerminkan bagaimana faktor-faktor sosial, budaya, dan institusional berperan dalam memengaruhi niat dan motivasi seseorang untuk berwirausaha, terutama di lingkungan yang sangat dipengaruhi oleh aturan adat atau norma tradisional.

Thursday, 9 May 2024

Tara Bandu: Membangun Keharmonisan dan Konservasi di Timor-Leste


Timor-Leste, sebuah negara yang masih muda dalam perspektif kemerdekaan, kaya akan budaya dan tradisi yang mendalam. Salah satu praktik tradisional yang memengaruhi kehidupan masyarakat Timor-Leste secara signifikan adalah Tara Bandu. Tara Bandu adalah sebuah sistem hukum adat yang telah ada di Timor sejak ratusan tahun yang lalu. Dalam bahasa Tetun, bahasa resmi negara tersebut, "tara" berarti "larang" dan "bandu" berarti "menyatakan". Jadi, secara harfiah, Tara Bandu mengacu pada pernyataan larangan.


Tara Bandu bertujuan untuk memelihara harmoni di antara masyarakat dan dengan alam sekitarnya. Ini adalah bentuk hukum adat yang didasarkan pada nilai-nilai kebersamaan, konservasi alam, dan penghormatan terhadap leluhur. Praktik ini dilakukan dalam bentuk peraturan yang ditetapkan oleh tetua adat atau pemimpin masyarakat setempat. Biasanya, peraturan ini mencakup larangan-larangan terhadap tindakan yang dapat merusak lingkungan, sumber daya alam, atau perdamaian sosial.


Salah satu contoh penerapan Tara Bandu adalah dalam pengelolaan hutan dan sumber daya alam lainnya. Masyarakat Timor-Leste sering kali menerapkan larangan memburu atau menebang pohon di area tertentu selama periode waktu tertentu. Ini bertujuan untuk menjaga keseimbangan ekologi dan memastikan kelangsungan sumber daya alam bagi generasi mendatang. Selain itu, Tara Bandu juga bisa diterapkan dalam konteks konflik sosial. Misalnya, larangan berperang antara dua kelompok untuk jangka waktu tertentu sebagai cara untuk memulihkan perdamaian di antara mereka.


Tara Bandu tidak hanya berfungsi sebagai alat konservasi alam, tetapi juga memainkan peran penting dalam memelihara kebudayaan dan identitas masyarakat Timor-Leste. Dalam budaya Timor, Tara Bandu tidak hanya dianggap sebagai aturan hukum, tetapi juga sebagai bagian dari warisan nenek moyang yang harus dijaga dan dihormati. Praktik ini memperkuat ikatan sosial dan kebersamaan dalam masyarakat, karena semua anggota diharapkan untuk patuh terhadap aturan-aturan yang telah ditetapkan.


Namun demikian, Tara Bandu juga menghadapi tantangan dalam menghadapi modernisasi dan globalisasi. Peningkatan akses terhadap teknologi dan perubahan dalam pola pikir masyarakat dapat mengurangi keefektifan sistem ini. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah Timor-Leste untuk mendukung dan mempromosikan Tara Bandu sebagai bagian dari warisan budaya yang penting bagi bangsa tersebut. Pendidikan tentang pentingnya konservasi alam dan kearifan lokal juga harus diperkuat untuk melestarikan praktik ini di tengah arus globalisasi.


Secara keseluruhan, Tara Bandu adalah contoh yang luar biasa dari kearifan tradisional yang terkait erat dengan konservasi alam dan harmoni sosial. Di tengah perubahan zaman, memelihara dan memperkuat sistem ini adalah penting untuk menjaga keberlanjutan lingkungan hidup dan keberlangsungan budaya masyarakat Timor-Leste.

Friday, 14 April 2023

INAN MAK CENTRU BA UMA KAIN

 Dala barak iha sosiadade komesa husi uma kain no lisan ida-ida konsidera makaas liu maka aman, tanba nee tau aman nia pojisaun hanesan xefi familia no hatur katak aman nia hanoin no desijaun sira mak hetan konsiderasaun liu tanba aman mak buka osan liu husi halao serbisu profesional sira nebe valoriza ho osan kada fulan liu husi salariu no vensimentu sira. Baze ba nee mak dala barak inan nia responsabilidade iha uma laran ladun hetan konsiderasaun iha sosiadade laran tanba inan nia serbisu iha uma laran la iha valor ekonomia no semak bele valoriza inan nia serbisu iha uma laran kada fulan? Se aman iha uma laran ita bolu hanesan xefi husi familia no oinsa ita konsidera inan nia papel iha iha uma laran?

 

Inan hanesan centru husi familia ida no  sei la dubida konaba inan nia funsaun iha uma laran tanba inan mak halo familia bele moris hamutuk, haree no kuidadu, fo apoiu emasionalmente bainhira deit pesija. Iha moris kultura barak maka hadomi no hamtauk inan tanba ninia dedikasaun tomak nebe la sura kolen ba nia familia.

 

Inan responsabiliza ba jestaun iha uma kain ida no certeja katak buat hotu lao ho diak tuir standar moris nebe los no diak iha sosiadade. Komesa husi tein, hamos uma laran, fase ropa no halo jestaun ba osan nebe aman hanesan xefi da familia buka hodi sustenta moris uma kain ida, ho nunee maka membru familia hotu hetan moris nebe kontenti iha uma laran. Papel inan nian iha parte barak no iha mos ejijensia. Nia sai ema primeiru nebe hader uluk iha dadersan no ema ikus nebe ba toba iha tempu kalan, hodi asegura katak nesesidade membru familia hotu realiza ona.

 

Iha sorin seluk laos hare deit serbisu uma laran nian, inan mos sai hanesan centru ba emosional familia nian. Inan mos kria  emvairomentu nebe seguru no apoiu ba oan sira bele moris ho hakmatek. Inan bele sai hanesan fatin ba fahe hanoin, esperiensia, no problema nebe membru familia hasoru, selebra ninia oan sira nia alkansamentu no anima membru familia sira iha tempu tristi no hasoru presaun moris nebe makaas. Inan nia domin la iha limitasaun, no inan nia prezensa dala barak hamosu diferente iha mundu.

 

Papel Inan nia  sai hanesan ezemplu no mestra nebe diak ba oan sira, kuda valores moris no prinsipiu moris nebe importante hodi sai mata dalan ba oan sira nia moris tomak. Inan mak hanorin oan sira oinsa moris hanesan membru sosiadade nebe kumpri ba lei no prosedimentu sira hotu, laran diak, emapatiku, no iha responsabilidade iha nia hanoin, kolia, hahalok no asaun sira hotu iha sosiadade nia leet,.

 

 

Iha uma kain ida, domin no apoiu inan nian halo membru familia sira bele moris hamutuk nudar familia ida, inan mos hakiak sentimentu unidade no kohesaun iha familia uma kain ida nia laran, kria fatin nebe seguru no komfortabel ba membru famila hotu. Inan nia prezensa ajuda kria memoria no tradisaun nebe folin boot nebe hsuik hela sai hanesan liman rohan ba jerasaun dalas ba dalas.

 

 

 Konklui katak, inan mak sai hanesan centru lolos ba uma kain familia ida. Inan hanesan mahein, mestra no kolega. Nia kaer papel prinsipal iha uma laran hodi kria uma kain nebe moris iha paz no dame nia laran nebe nakonu ho domin, respeitu malu, kompriende malu. Tanba nee ita hotu tengki agradese ba inan nia serbisu makaas hodi kuidadu ita no sai centru ba familia nebe forte no suportivu ba familia tomak.

 

Saturday, 26 February 2022

DAFTAR DATA DAN INFORMASI TENTANG SUKU BANGSA BUNAQ DI KABUPATEN BELU

 

1. Kebudayaan Suku Bunaq
Setiap manusia berbudaya. Manusia menciptakan budaya, dan kebudayaan hasil ciptaannya itu kemudian tersistematisasikan lantas sistem itu sebagai ketertaan yang menata keterarahan kehidupannya. Selanjutnya pada gilirannya manusia memperbaharui sistem kebudayaannya demi menghadirkan perikemanusiaan kepermukaan sistem kebudayaan dan kemanusiaan itu menjadi jantung sistem budaya yang mengatur tata kehidupan bersama. Ketika menusia menciptakan budaya, posisi manusia sebagai subyek atas budayanya. Sebaliknya ketika kebudayaannya membentuk Suku bangsa Bunaq, posisi kebudayaannya sebagai subyek. Hubungan dialektika antara kebudayaan dan manusia terarah pada kehidupan yang manusiawi. Dengan demikian budaya yang menjamin kehidupan yang manusiawi terpelihara dan dilestarikan, dan yang tidak baik dalam arti tidak manusiawi lagi ditransformasi untuk menjadikan budaya yang semakin insani. Artinya budaya menjamin bagi tindakan yang manusiawi, bukan mendungukan manusia dan tertindas oleh budayanya.
Manusia Bunaq adalah bagian dari manusia di dunia yang berbudaya. Suku Bangsa Bunaq menciptakan dan tercipta oleh budayanya. Paparan berikut adalah penyelaman ke dalam budaya suku Bunaq dengan tujuan untuk lebih mengenalnya dan sejauh mana kepedulian budaya suku bunaq akan nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal.
2. Arti kata “Bunaq” dan Asal-Usul Suku Bunaq
Kata “bunaq” tidak mempunyai arti khusus, melainkan kata yang dipakai oleh suku bangsa bunaq sendiri, untuk menyebut suku bangsa bunaq dan bahasa bunaq. Secara teritorial, suku bangsa Bunaq berdiam di Lamaknen, Aitoun, Makir dan Lamaksenulu.
Mereka ini menggunakan bahasa Bunaq dalam berkomunikasi. Bahasa Bunaq terbagi dalam dua jenis yaitu bahasa sehari-hari dan bahasa adat. Bahasa komunikasi sehari-hari bermakna eksplisit dan mudah dimengerti oleh semua pihak. Bahasa Adat sarat makna implisit dan simbolis, hanya dimengerti oleh tokoh-tokoh adat dan para ketua suku dan berlaku saat berlangsungnya upacara adat.
Contoh En Bunaq artinya orang bunaq. Bunaq giol berarti bahasa Bunaq. Kata “Marae” tidak mempunyai arti khusus, melainkan kata yang dipakai oleh suku bangsa Tetum, untuk menyebut suku bangsa Bunaq dan Bahasa Bunaq. Contoh Ema Marae berarti orang Marae juga berarti orang Bunaq. Lia Marae berarti Bahasa Marae juga berarti bahasa Bunaq.
Kata “Tetum” tidak mempunyai arti khusus, melainkan kata yang dipakai oleh suku Bunaq, untuk menyebut suku bangsa Tetum dan bahasa Tetum. Contoh Ema Tetum berarti orang Tetum, Lia Tetum berarti bahasa Tetum. Kata “Momut” tidak mempunyai arti khusus, melainkan kata yang dipakai oleh suku Bunaq, untuk menyebut suku bangsa Tetum dan Bahasa Tetum. Contoh En Momut berarti orang Momut, orang Tetum. Momut giol berarti bahasa Momut, bahasa Tetum.
Orang Bunaq tidak memakai kata “Marae” untuk menyebut suku bangsa dan bahasa Bunaq. Orang Tetum tidak memakai kata “Momut” untuk menyebut suku bangsa dan bahasa Tetum.
3. Arti dan Asal Mula Nama Suku Bunaq.
Nama Bunaq sebagai nama asli dari suku bangsa ini baru saja diperkenalkan dan dilasimkan oleh bekas Raja Lamaknen A.A.Bere Tallo, sejak tahun 1950-an. Nama populernya ialah Marae. Bahasa Bunaq dipakai oleh Suku Bangsa Bunaq, yang mendiami bekas swapraja Lamaknen di wilayah Timor Barat, Propinsi Nusa Tenggara Timur. Juga banyak orang Bunaq yang mendiami wilayah-wilayah yang berbahasa Tetum seperti Kedesaan Aitoun, Litamali, Kamanasa, Suai, Kletek, Sukabinawa dan Babulu. Di samping itu suku bangsa Bunaq mendiami wilayah yang luas pula di Timor-Timur yakni Wilayah Daerah Tingkat II Bobonaro (bekas keliuraian Lolotoi, Lakus, Bobonaru, Aiasa, Memu, Maliana dan Hoololo). Di samping itu terdapat pula di Kecamatan Fatululi dalam wilayah Kabupaten Kobalima. Baik orang-orang Bunaq di Timor-Timur maupun Belu mempunyai leluhur yang sama dan hubungan darah langsung yaitu semuanya berasal dari Timor-Timur. Menurut Dr.Ormeling bahwa suku Marae adalah satu suku bangsa yang mendiami pegunungan Lamaknen dan sekitar jajaran bukit Lakus dan Nabilwa. Ia mempunyai banyak perbedaannya dengan suku Bangsa Belu yang berbatasan dengannya, dalam hal bahasa dan kebudayaannya. Mereka ini juga merupakan salah satu dari suku-suku bangsa yang tua yang lebih dahulu mendiami Pulau Timor. Menurut pendapat Nona Keers tahun 1948 mereka tidak termasuk di dalam kelompok bangsa-bangsa Melayu, karena tempurung tengkorak kepalanya yang lebih besar. Gopell tahun 1944 menyatakan bahwa bahasa Bunaq memperlihatkan segala ciri-ciri dari bahasa Irian. Demikian Dr.Ormeling (hal 71). Tetapi bila kita mengikuti tulisan dari Raja Lamaknen (A.A.Bere Tallo) di dalam bukunya “ Pandangan Umum Wilayah Belu Tahun 1957 hal. 4-5 di mana dikatakan bahwa Lamaknen terdiri dari 6 suku yaitu: Luta Rato Jopata; Lakulo Samoro; Sibiri Kailau, Roikun Robulan Oburo Maboro, Ton Ba Ton Way. Mereka bersama-sama mendiami Lamaknen setelah didesak penghuni asli yang disebut orang Melus atau Kenurawan.
Mengenai asal-usul dan masa kedatangan enam suku ini bermacam-macam. (1) Latu Rato Jopata dan (2) Roikun Robulan berasal dari Siawa Mugiwa (Hindia Muka?), Sina Mutin Malaka, Galelu Gowa, Lubu rato Salower (Selayar?) dan bergerak terus menuju pantai selatan lalu mendarat di Kamanasa Kolobila. Dari sana mereka berpindah menuju Luta Rato Jopata, akhirnya di Kewar. Sedangkan Roikun Robulan terus ke Amanuban dan kembali melalui Hatu Koba (Fatu Koba) Rai Tula, Weto Maubesi, terus melalui Mandeu-Sarabau menetap di Fulur. (3) Lakulo Samoro dan (4) Sibiri Kailau serta (5) Oburo Marobo berasal dari Kanua Maliana, Kukun Hitu Lamak Hitu, Lemel Netel Bolnetel lalu ke Lamaknen. (6) Ton Ba Ton Way berasal dari Sia Wa Mugi Wa Sia Wa Batola, Sina-Mutin-Malaka, Galelu Gowa, Laburato Salower dan berlayar terus menuju ke pantai selatan, di Kamanasa Kolobila lalu kemudian ke Lamaknen.
Dengan akal dan muslihatnya, Luta Rato Jopata berhasil diakui sebagai pemimpin di Lamaknen setelah melalui politik liciknya dan akal yang tinggi. Di atas puncak gunung Lakus Manulor dengan sebutan adat Turultuk Siolwa, di kecamatan Lolotoi bekas swapraja Lakus Kabupaten Bobonaro. Di tempat itulah dia mengumpulkan semua pengikutnya untuk mengadakan sumpah sebelum mereka mencari tempat tinggal masing-masing. Untuk bersumpah tiap suku mengambil 3 batu, yang kemudian dipakai sebagai batu tungku api, dan masing-masing duduk di atas batu mereka sendiri. Mereka semua menyayat bagian tubuh mereka, darah yang keluar diambil dan diminum bersama tuak (minuman setempat). Mereka bersepakat untuk tidak boleh berkelahi atau berperang satu sama lain. Setelah bersumpah mereka pergi mencari tempat tinggal mereka masing-masing. Bere Mau akhirnya tinggal di Kewar, Ho Mau di Honaru (Bobonaru), Ai Mau di Ai Asa, Oe Mau di Oe Leu, Sabu Mau dan Tei Mau di Sabu Lei (bagian dari Timor-Timur). Dua yang terakhir kemudian berpindah ke Belu Selatan lalu terus menuju Sabu. Sampai sekarang, sumpah tersebut di atas masih ditaati oleh Belu dan Sabu. Nama orang Sabu dan Belu (Lamaknen) banyak kesamaan. Beberapa contoh bisa kita kemukakan berikut:
Sabu: Lamaknen:
Doko Loko
Bire Bere
Talo Talo
Wila Mela
Kedua suku ini masih sangat mentaati sumpah tersebut di atas. Mereka tidak boleh berkelahi, berperang bahkan tidak boleh memarahi atau berbicara kasar. Pelanggaran terhadap sumpah tersebut akan mengakibatkan muntah darah, berak darah, dan malapetaka yang lain. Setelah tiba di pantai, mereka tidak mempunyai rumah, sehingga mereka membalik perahu mereka untuk menjadi tempat berteduh/tinggal. Hal ini bisa kita perhatikan kalau melihat rumah yang belum beratap. Contoh, rumah adat asli di Kewar. Bentuknya sangat mirip dengan perahu terbalik. Oleh kedatangan mereka, penduduk yang lama yaitu orang Melus terdesak ke bagian Barat.
Perlu diketahui bahwa pada tahun 1957-1959, seorang sarjana berkebangsaan Perancis, Louis Berthe, atas biaya “Pusat Dokumentasi dan Penelitian Tentang Asia Tenggara dan Dunia Indonesia” mengadakan penelitian di Bunaq dalam rangka menyusun suatu monografi penduduknya. Pada bulan Mei-Nopember 1966, sarjana tersebut kembali lagi ke Bunaq bersama isterinya, Claudina Berthe Friedberg. Setibanya di Perancis dia meninggal, namun pada bulan Mei 1969-1970 isterinya kembali ke Bunaq untuk melanjutkan usaha suaminya serta tugas khususnya sendiri di bidang etnobotani.
4. Jumlah Penduduk dan Penyebarannya
4.1. Populasi
Jumlah banyaknya suku bangsa Bunaq adalah sebagai berikut. Lamaknen: 12.706 jiwa. Makir: 1.653 jiwa, Lamaksenulu: 856 jiwa, Aitoun: 1.550 jiwa. Perhitungan ini berdasarkan sensus 1987.
Di samping itu, dalam propinsi Timor-Timur, kini Timor Leste masih terdapat pula suku bangsa Bunaq, sebagian di Kabupaten Bobonaro, sebagian di Kabupaten Kobalima, sebagian di Kabupaten Same, dan sebagian di Kabupaten Ainaro. Data mengenai jumlah populasinya belum diketahui.
4.2. Penyebaran
Keadaan tanah yang kurang subur, berlereng-lereng, kepadatan penduduk, jaminan keamanan, adalah faktor-faktor yang dominan, yang menyebabkan penyebaran suku Bunaq ke lain-lain wilayah. Penyebaran ini dimulai pada awal abat ke XX, semasa pergolakan politik di Timor- Timur. Khususnya ke wilayah Belu dan sesudah pergolakan di Timor-Timur, dan pengintegrasian Timor-Timur, juga ada penyebaran ke wilayah-wilayah di Timor-Timur.
Penyebaran dalam Kabupaten Belu, dapat dicatat sebagai berikut. Sebagian kecamatan Tasifeto Barat yaitu Desa Naitimu, Lidak, Jenilu. Sebagian Kecamatan Tasifeto Timur yakni desa Dafala, Manuleten, Umaklaran dan Takirin. Sebagian Kecamatan Malaka Timur, desa Mandeu, Babulu, Sanleo, Alas, Litamali, Lakekun. Sebagian Kecamatan Malaka Tengah, desa Kamanasa, Bolan, Kletek. Sebagian Kecamatan Malaka Barat, desa Umatoos, Weoe.
Penyebaran ke wilayah propinsi Timor-Timur, belum ada data yang lengkap. Dalam penulisan ini, hanya disinggung data dan informasi khusus mengenai suku Bangsa Bunaq di Lamaknen, di samping beberapa catatan tentang suku Bangsa Bunaq.
5. Pola Pemukiman
Pada umumnya dusun-dusun didirikan di atas puncak bukit demi kepentingan pertahanan. Dusun-dusun itu dikelilingi dengan pagar hidup yang kuat, umpamanya bambu dan duri atau batu. Sebagai contoh keadaan dusun Kewar, sebagai pusat kebudayaan Lamaknen. Rumah-rumah suku (“deu hoto”) didirikan melingkari dan menghadap “mot” yaitu lapangan berbentuk bulat dikelilingi dengan pagar batu. Di pinggir “mot” terdapat tempat persembahan (mezbah) disebut “bosok”. Di Kewar terdapat dua “mot” yaitu “mot pana” dan “mot mone”. Fungsi “mot pana” adalah sebagai berikut: Tempat duduk para tamu dari lain kerajaan pada salah satu upacara yang dilakukan di “mot”. Tempat melangsungkan upacara ”a tate” dalam rangka upacara “tubi lai” menjelang musim hujan. Tempat meletakkan jenazah selama pelangsungan upacara kematian bagi seorang yang gugur dalam medan pertempuran ataupun lain-lain kecelakaan. Tempat penguburan orang yang gugur dalam medan pertempuran dan lain-lain kecelakaan.
Fungsi “mot mone” adalah sebagai berikut: Sebagai tempat sidang pengadilan tertinggi. Tempat mengadakan keramaian umum (“teberai”) pada pelangsungan berbagai upacara, dan “tei” pada upacara rumah suku baru. Tempat upacara pembukaan “lal guju” (upacara kenduri) atau “lal belis” (upacara kegembiraan).
Berhadapan dengan “mot pana” dan “mot mone” terdapat “mot gol” yang berfungsi sebagai berikut. Tempat penyelenggaraan segala macam persoalan pertikaian, tingkat tinggi. Tempat penyaringan para tamu dari dalam dan dari luar Lamaknen.
Berhadapan dengan kampung di bagian depannya ada suatu lapangan dengan pohon-pohon beringin besar. Tempat ini berfungsi sebagai berikut. Tempat melaksanakan hukuman mati, atas keputusan sidang pengadilan tertinggi. Tempat menunggu pada sidang pengadilan tinggi dan tertinggi. Tempat melaksanakan keramaian umum. Tempat mendirikan tenda-tenda bagi tamu dari luar Kerajaan.
Rumah adat atau rumah suku disebut “deu hoto” berbentuk segi empat dengan atap alang-alang, rendah sampai di tanah dan didirikan di atas tiang-tiang. Kolong rumah dijadikan tempat tinggal hewan piaraan, tempat simpan kayu api dan tempat air dari bambu betung disebut “mapo”. Di atas kolong rumah, rumah adat terbagi atas 3 bagian yaitu “lakoq lor”, “deu mil”, “lakoq hoto”.
“Deu mil” terbagi pula atas dua ruangan tanpa dinding, hanya dibatasi dengan papan disebut “otan” dan dinamai “deu mil lor” dan “deu mil hoto”.
“Lakoq lor” berfungsi sebagai berikut. Tempat duduk dan tempat menerima tamu. Tempat tidur anggota suku pria yang belum berkeluarga.
“Deu mil lor” berfungsi sebagai berikut. Tempat tidur para gadis yang belum berkeluarga. Tempat melaksanakan upacara religius. Tempat meletakkan mayat, selama belum dikuburkan.
“Deu mil hoto” berfungsi sebagai berikut. Tempat memasak makanan (dapur). Tempat tidur para gadis, juga yang sudah berkeluarga, tempat menyimpan bahan makanan. “Lakoq hoto”, berfungsi sebagai tempat tinggal tuan rumah.
“Deu mil” dikelilingi dinding papan. Papan pada dinding yang berhadapan dengan “lakoq lor” dan “lakoq hoto”, biasanya diukir dengan bermacam-macam ukiran, berbagai jenis. Ukiran itu hanya terdiri dari satu garis dan tidak boleh terputus. Hal ini melambangkan kelestarian dan keabadian. Di atas ukiran terdapat buah dada perempuan sebagai lambang kesuburan dan kemakmuran.
Di atas “lakoq lor” dan “lakoq hoto”, ada pula loteng yang disebut “toren” tempat menyimpan bahan makanan dan barang-barang lain.
Di atas “deu mil” tidak ada loteng. Di atasnya hanya diletakkan bambu atau kayu lurus untuk tempat gantung jagung yang masih berkulit, sebagai persediaan. Rumah adat memiliki dua tiang agung disebut “nulal”, satu disebut “nulal lor” dan yang lain disebut “nulal hoto”.
Di bawa dan di atas “nulal lor” tersimpan senjata dan lain benda yang dianggap keramat, peninggalan leluhur. Di bawah “nulal lor” terdapat pula mezbah untuk tempat persembahan pada segala macam upacara. Di samping dua tiang agung, rumah adat mempunyai 4 tiang sudut yang disebut “lirus”.
Bubungan rumah dibungkus dengan ijuk dan untuk menandai kedudukan suku, bubungan itu dihiasi dengan menyisipkan sembilu dari bambu, dimiringkan ke kiri dan ke kanan. Di ujung kiri kanan dan di tengah bubungan, dibentuk tanduk kerbau dari kayu dan ijuk, sebagai lambang kekuatan. Bubungan itu disebut “deu maten kes”.
Dewasa ini, rumah adat sudah hampir tidak ada lagi terkecuali rumah adat di Kewar dan di beberapa tempat di Lamaknen. Orang sudah mulai membangun rumah yang lebih memenuhi persyaratan hygienis, beratap seng, berdinding bebak, dengan pintu berjendela yang baik, malah ada pula yang sudah memiliki rumah dengan dinding setengah tembok atau tembok seluruhnya.
6. Bahasa dan Dialek
Seperti telah dijelaskan pada nomor satu, suku Bunaq mempunyai bahasa sendiri yang disebut bahasa Bunaq atau “Bunaq Giol”.
Dialek tidak ada, terkecuali beberapa perbedaan kata dan lagu pembicaraan, namun dapat pula dimengerti. Dari lagu pembicaraan mudah diketahui tempat asal yang berbicara.
Kata kerja dalam bahasa Bunaq berubah menurut dua jenis kata benda, katakanlah kata benda jantan dan kata benda betina. Susunan kalimat sebagai berikut: Pokok kalimat+Penderita+Kata kerja. Contoh: Neto hoja a artinya saya kelapa makan. Sebetulnya saya makan kelapa. Neto dila gia berarti saya pepaya makan. Arti sebenarnya adalah saya makan pepaya. Erenoq neto mar gene dik-hotel gia. Artinya kemarin saya kebun di ubi kayu makan , yang dimaksud adalah kemarin saya makan ubi kayu di kebun. Neto Atambua mal bu, eto man deu hotol naq. Artinya Saya Atambua pergi kalau, kau datang rumah jaga dulu. Arti sesungguhnya adalah kalau saya pergi Atambua, engkau datang jaga rumah dulu.
Kata-kata dengan akhiran suku kata hidup, diucapkan sebagai kata ta’ dalam bahasa Indonesia, agar tidak merancukan pengertian atau salah paham. Contoh: Niq taq yang berarti belum, jangan diucapkan ni ta yang berarti menembak saya. Bunaq tidak boleh diucapkan “Buna”.
7. Mata Pencaharian Utama dan Sampingan
Mata pencaharian yang utama dari suku Bunaq adalah bercocok tanam, di ladang yang berada di lereng-lereng bukit, di dalam tanah “naen” milik suku, yang terdapat dalam tanah perkebunan umum di sebut “matas momen”. Cara kerjanya sebagai berikut. Tebas rumput belukar dan rerumputan, sekitar bulan Juni dan Juli “Mar Se” yang berarti menebas rumput dan belukar. “Hotel pake” atau “hotel getetaq” yang berarti menebang kayu memotong ranting-ranting kayu sekitar bulan Juli. “ Mar ini” yang berarti membakar sekitar bulan Agustus. “Hoto koin” yang berarti membakar kayu sisa yang tidak terbakar, sekitar September. “Deu mar gie hoon” yang berarti membuat rumah kebun (gubuk), sekitar bulan Oktober. “Muk ere” yang berarti menanam, sekitar Nopember. “U tul” yang berarti membersihkan rumput tahap pertama, sekitar Desember dan Januari. “U tul” tahap kedua yang berarti membersihkan rumput tahap kedua , sekitar Pebruari. “Paol gureq” dan “ipi wit” yang berarti memanen, sekitar Maret dan April.
Cara kerja ini, hanya dengan alat sebatang besi gali selebar 3-4 cm, parang dan kapak, sangat berat dan hasilnya tidak seimbang dengan jeri payahnya. Ladang hanya dimanfaatkan dua tahun, tahun pertama ditanami padi, tahun kedua jagung dan kacang-kacangan, lalu dibiarkan selama 3-4 tahun, baru dibuka lagi, untuk diusahakan lagi selama dua tahun, dan seterusnya.
Di dataran, terlebih di Makir dan Lamaksenulu dan di Delta Sungai, diusahakan pula sawah, melalui perencahan dengan sapi, lalu padi dihambur, dan dibiarkan sampai berbuah dan dipetik hasilnya. Tentu saja, tidak seberapa hasilnya.
Dewasa ini, pemuda dan pemudi yang sudah kunjungi sekolah, apalagi yang sudah sampai ke tingkat SLTP dan SLTA, tidak tertarik sama sekali, kepada pekerjaan berat ini. Mereka lebih suka merantau tinggal di kota, menjadi pelayan toko atau kondektur mobil dan lain-lain, tanahnya dibiarkan ditumbuhi alang-alang.
Hal ini menimbulkan lagi problem baru, ialah inflasi gadis dusun-dusun, tidak ada cukup pemuda untuk menikahinya dan dibiarkan menjadi “perawan tua” atau jika tidak lekas ditangani pemerintah dan Gereja, ia mencari jalan keluar dengan melaksanakan peraktek prostitusi atau pelacuran umum.
Salah satu jalan keluar, mungkin dengan menggiatkan penanaman tanaman umur panjang, terutama kopi dan /atau kemiri, yang dapat menarik lagi para pemuda untuk datang ke daerah asal, untuk mengusahakan tanahnya.
Usaha sampingan, kelihatan beralih ke arah berdagang kecil-kecilan, dengan adanya pemunculan kios-kios mini di berbagai dusun.
8. Teknologi setempat yang dikembangkan
Di dataran, juga di lereng-lereng yang tidak berbatu, pemakaian pacul pengganti besi gali warisan leluhurnya, sudah mulai menjadi populer.
Alat produksi pertanian, alat rumah tangga dan lain-lain alat, dengan mudah didatangkan dari lain pulau, sehingga teknologi setempat tidak lagi dikembangkan.
9. Sistem kepemimpinan atau Pemerintahan dan stratifikasi sosial
9.1. Sistem Kepemimpinan atau Pemerintahan.
9.1.1. Masa asli, sebelum tibanya pemerintah Belanda.
Seperti telah dijelaskan di atas, yang dimaksudkan dengan suku bangsa Bunaq di Lamaknen, ialah penduduk Kecamatan Lamaknen, minus Desa Makir dan Lamaksenulu. Makir dan Lamaksenulu adalah kesatuan “autochthoon” yang berdiri sendiri dan tidak merupakan sebagian dari Kerajaan Lamaknen.
Figur tertinggi dalam Kerajaan Lamaknen, di sebut “Loro”’ yang diangkat dari seorang anggota suku Leogatal di Kewar dan berkedudukan di Kewar.
Loro Lamaknen memimpin 4 kepala wilayah, yang disebut “Bein Goniil” yaitu 4 yang agung, di samping 9 kepala wilayah yang disebut “Hol Gomo” yaitu penguasa batu dan seorang kepala pengairan, yang disebut “kanu hasan gomo” yaitu penguasa saluran air. Yang dimaksud dengan “Bein Goniil” adalah sebagai berikut. Kewar ( Kini: desa Kewar), Lakmaras ( Kini Desa Lakmaras), Henes (Kini Desa Henes) dan Nualain (kini Desa Nualain).Yang disebut 9 “Hol Gomo” adalah Fulur ( Kini desa Fulur), Leowalu (Kini desa Leowalu), Duarato (Kini Desa Duarato), Ekin ( Kini Desa Ekin), Abis ( Kini Dusun dari Lakmaras) , Loona ( Kini Desa Loonuna), Sasaq (Kini dusun dari desa Juldapil Kecamatan Lolotoi-Timor Leste), Mahui (Kini Dusun dari desa Makir), dan Dirun (Kini Desa Dirun). “Kanu Hasan Gomo” ialah Laimea, kini menjadi Dusun dari desa Dirun, Weluli.
Seperti fungsi adat yang lain, fungsi pemerintahan pun adalah milik suku tertentu dan bersifat turun temurun milik suku, bukan milik pribadi salah satu anggota suku. Demikian: Jabatan Loro-suku Leogatal/Ohoro Babulu, Kewar-Suku Tesgatal, Lakmaras-Suku Datogubul, Henes-suku Hollapit, Nualain-Suku Monesogo.
Hol gomo: Fulur–Suku Hakpor, Leowalu-Suku Mautepa, Duarato-Suku Purbelis, Ekin-Suku Monegoinciet, Abis-suku Purbelis, Loona-suku Maugonion, Sasaq-suku Motugatal, Mahui-suku Barutpor, Dirun-suku Monesogo, Laimea-Suku Monesogo dan Bonpor.
Loro memiliki staf pembantu, ialah rumah–rumah suku sekeliling “mot”, diketuai oleh suku Tesgatal, merangkap kepala wilayah Kewar.
Pengawasan tanah perkebunan dan isinya “matas momen”, dilakukan para “makleat” dari suku tertentu, yang juga bersifat turun temurun.
Upacara adat yang bersangkutan dengan bahan makanan, dilakukan “por gomo”. Pelaksanaan berbagai upacara yang lain , diserahkan pada “lal gomo” yaitu pandai adat, yang hanya dimiliki salah satu suku tertentu.
Delik adat ringan berat diselesaikan menurut prosedur tertentu. Tingkat orang tua, tingkat dato/tamukung, tingkat kepala wilayah, tingkat pengadilan tinggi di Kewar (Mot Gol), tingkat pengadilan tertinggi di Kewar (Mot Mone). Loro memiliki hak untuk membatalkan keputusan pengadilan tertinggi.
Jaminan keamanan ditanggungkan kepada semua suku, olehnya suku memiliki ajimat perang, yang disebut “kaluk”.
Organisasi pemerintahan dilakukan dengan mengilhami pembangunan rumah suku, memiliki 2 “nulal” (Bein pana, bein Mone) 4 lirus yaitu 4 Bein Kepala Wilayah, dan tiang penopang lain yaitu para hol gomo, rakyat yaitu kasau dan atap. Bein pana sebagai Bein Perempuan yaitu orang pertama, bein Mone sebagai Bein pria yaitu orang kedua.
Lamaknen berhasil memperluas wilayah dengan menaklukkan kerajaan Hatutui Holwa (dibawa-sebelah Utara dusun Kewar) dan Kerajaan Maudemu, yaitu desa Dirun, sebagian desa Nualain, Loonuna, Ekin, Lakmaras, sekarang dibawa pemerintahan Loro Laku Maliq (Loro ke IV). Untuk itu dibangun markas Ranu wa di Dirun.
9.1.2. Masa sesudah Tibanya Pemerintahan Belanda
Tahun 1862. Pemerintahan Belanda diwakili Gezaghebber Rogge, tiba di Atapupu. Lamaknen diakui sebagai satu kerajaan berdiri sendiri, di bawa Loro Bere Taeq (Loro IV), dari suku Leogatal/Ohoro Babulo.
Tahun 1909. Persetujuan batas wilayah Timor Belanda dan Timor Portugis antara Pemerintahan Belanda dan Pemerintahan Portugal, seperti yang ada sekarang. Timor Portugis disebut “Ewi Belis” yang berarti pendatang putih, Timor Belanda disebut “Ewi Guju” yang berarti pendatang hitam.
Tahun 1911. Pertempuram di Lakmaras antara Lamaknen melawan Pemerintah Belanda dan tentara Timor Portugis. Peristiwa ini disebut “Lolo Gonion Tal” yang berarti pertempuran tiga bukit. Pihak Lamaknen banyak yang gugur. Akibat peristiwa ini, maka seluruh Desa Dirun, sebagian Desa Nualian, sebagian Desa Loonuna, sebagian Desa Ekin, Sebagian Desa Lakmaras , dijadikan wilayah Timor Portugis. Pemerintah Belanda tempatkan pos tentaranya di Beredao, sedang Pemerintah Timor Portugis tempatkan Pos Tentaranya di Debululik. Beredao terletak di pinggir kali Beredao, wilayah Desa Nualain. Loro Bere Tae tidak mau juga menghadap pemerintah Belanda di Beredao akan tetapi hanya dikirim saja wakilnya, Siri Loko, Kepala Wilayah Kewar dari suku Tesgatal. Oleh Karena Siri Loko dibentak dan dimarahi Pembesar Belanda, ia serahkan jabatannya kepada Bau Liku (Wafat tahun 1947), akan tetapi Pembesar Belanda tunjuk Bere Bauq-suku Datogubul, kepala wilayah Lakmaras, sebagai wakil Loro Lamaknen.
Tahun 1916. Dengan surat Keputusan Pemerintah Hindia Belanda tanggal 10 Mei 1916 No.22 (Staatsblad=Lembaran Negara No.372) Kerajaaan Lamaknen dihapuskan dan dijadikan distrik dari Kerajaan Belu-Tasifeto, dibawa Raja Don Josep da Costa, Raja Jenilu.Tahun 1916. Terhitung mulai tanggal 1-11-1916 persetujuan batas antara Belanda dan Portugis dinyatakan berlaku. Akibatnya, wilayah yang diambil dan dijadikan wilayah Timor Portugis, dikembalikan lagi kepada Lamaknen.
Tahun 1924. Kerajaan Belu-Tasifeto dihapuskan dan dibentuk Kerajaan Belu, dibawa seorang Raja bergelar Maromak Oan, Bria Nahak, yang meninggal dunia sebelum dilantik, lalu diganti oleh Seran Nahak. Distrik Lamaknen dihapuskan, sedang onderdistrik yang ada, dijadikan distrik dari Kerajaan Belu, yang memimpin dan memerintahkan 39 distrik. Di Lamaknen hanya ada 8 distrik gaya baru yaitu Kewar, Ekin, Fulur, Nualain, Lakmaras, Leowalu, Dirun, dan Loonuna. Mahui dijadikan kampung dari Distrik Makir, weluli dijadikan kampung dari distrik Dirun.
Tahun 1926. Kepala distrik Bauho (Loro Bauho) Atok Samara, memprotes pengangkatan Seran Nahak dan tidak menyetujui sistem gaya baru, dengan tidak menghadiri, upacara pelantikan Seran Nahak, sebagai Maromak Oan. Kepala distrik Kewar Bau Liku, juga mengambil sikap yang sama, dengan tidak mengizinkan rakyatnya mengusung Maromak Oan Seran Nahak sewaktu tiba di Perbatasan Makir dan Kewar, dalam kunjungannya ke Lamaknen.
Tahun 1928. Raja Insana, Kahalasi Taolin, mengambil sikap yang sama, dengan tidak mau mencium kaki Maromak Oan Seran Nahak, seperti para Raja yang lain, sewaktu bersama-sama ke Kupang untuk sesuatu urusan.
Tahun 1929. Maromak Oan Seran Nahak, ajukan surat permohonan berhenti tanggal 8/1/1929. Surat permohonan berhenti ini disusul lagi dengan surat tanggal 12/9/1929.
Tahun 1930. Dengan surat keputusan pemerintah Hindia Belanda tanggal 8/4/1930 No.39 Maromak Oan Seran Nahak diperhentikan dengan hormat. Pemerintahan dijalankan sendiri oleh Liurai Seran Asit Fatin, yang juga meninggal dunia, tidak lama sesudah pengangkatannya. Dibentuk panitia pemerintahan Kerajaan Belu dengan 3 anggota yaitu Loro Waiwiku yaitu Bere Nahak, Loro Lakekun yaitu Benediktus Leki, Loro Bauho yaitu Atok Samara. Belu Utara termasuk Lamaknen, berada di bawa kekuasaan Loro Bauho Atok Samara.
Tahun 1942. Kedatangan Pemerintah Jepang. Loro Bauho Atok Samara meninggal Dunia, diganti sementara oleh Nikolas Manek, kemudian oleh H.B.S. da Costa.
Tahun 1945. 5 /8/ 1945, A.A.Bere Tallo dilantik menjadi Loro Lamaknen, Lamaknen diakui sebagai Kerajaan berdiri sendiri terlepas dari Bauho.
Tahun 1949. Dengan surat keputusan Residen Timor Archipel tanggal 31/3/1949 No.121, diperbaharui anggota panitia pemerintah Belu sebagai berikut: Loro Lakekun yaitu Benediktus Leki, menguasai Kerajaan Malaka. Loro Bauho yaitu H.B.S.da Costa, menguasai kerajaan Tasifeto. Loro Lamaknen yaitu A.A.Bere Tallo, menguasai Kerajaan Lamaknen.
Tahun 1958. Pembentukan Propinsi Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dengan Undang-Undang No.64/1958. Pembentukan daerah sementara Tingkat II Belu (Kabupaten Belu) dengan undang-undang No.69/1958, dengan A.A.Bere Tallo sebagai Bupati/Kepala Daerah Tingkat II Belu. G.A.Asy dijadikan wakil Loro Lamaknen.
Tahun 1962. Dengan surat keputusan Gubernur/Kepala Daerah Nusa Tenggara Timur tanggal 28/1/1962 No.Pem.66/1/2, dihapuskan Kerajaan Malaka, Tasifeto dan Lamaknen, dan dibentuk 5 Kecamatan. Malaka Barat ibukota Besikama dengan camatnya E.Teiseran. Malaka Timur ibukota Betun dengan camatnya Emanuel Laka. Tasifeto Barat ibu kota Atambua dengan camatnya adalah Blasius J.Manek. Tasifeto Timur ibu kota Nobelu dengan camatnya adalah A.R.Parera. Lamaknen ibu kota weluli dengan camatnya G.J.Asy.
Tahun 1966. Dengan surat keputusan Bupati kepala Daerah tingkat II Belu tanggal 31 Maret 1966 No.Pem.6/1966, seluruh kenaian di Belu ditiadakan dan dibentuk Desa-Desa di seluruh Belu. Lamaknen terdiri dari 12 Desa, ialah:
1. Kewar dengan kepala desanya Matheus Bere
2. Lakmaras dengan kepala desanya Johanes Mau
3. Fulur dengan kepala desanya Lambert Ati
4. Duarato dengan kepala desanya Nikolas Nahak
5. Loonuna dengan kepala desanya Gabriel Oes
6. Makir dengan kepala desanya (lowong)
7. Nualain dengan kepala desanya M.Asa Tuan
8. Henes dengan kepala desanya Pius Dasi
9. Leowalu dengan kepala desanya Arnol Boko
10. Ekin dengan kepala desanya P.Bere Bakurai
11. Dirun dengan kepala desanya Gaspar Lesu
12. Lamaksenulu dengan kepala desanya Bene Bere Mau
9.2. Stratifikasi Sosial
Menurut mitos, yang diceriterakan oleh para “Lalgomo”, suku bangsa Bunaq yang ada di Lamaknen, Makir, Lamaksenulu, Aitoun, berasal dari 10 kelompok leluhur yang datang dari seberang lautan, 20 generasi yang lalu dan yang disebut:
1. Lutarato Jopata = Luta
2. Lakuloq Samoro = Lakuloq
3. Oburo Marobo = Oburo
4. Sibiri Kailau = Sibiri
5. Lakan Roman
6. Ro Ikun Ro Wulan = Ro Ikun
7. Siataq Mauhaleq = Siataq
8. Tonbaq Tonwai = Ton
9. Gotoqpor Gawalpor = Gotok
10. Dilubaraq Hakbaraq = Dilu
Setiap kelompok terdiri hanya dari beberapa orang, tidak sampai duapuluh orang. Setiba di Loborgoloq Cialeru (Timor Timur) sewaktu akan berpisah, atas prakarsa dua berkakak adik Bele Mau dan Sabu Mau dari kelompok Oburu, anjurkan agar diadakan sumpah, sebelum berpisah. Diambil bambu suling, diiris, dipotong lidah dan belakang lutut tiap-tiap orang, darahnya dicampur dengan bambu suling, dicampur lagi dengan tuak, diminum bersama, lalu berpisah. Setiap anak yang lahir, dipotong tali pusatnya dengan bambu suling, sebagai tanda keterlibatan pada sumpah leluhur itu, yang berlaku turun temurun.
Demikianlah terjadi hubungan “Hulo Lep” atau hubungan persahabatan yang abadi. Kemudian terjadilah kawin-kawin, terbentuklah suku dan hubungan perkawinan yang juga bersifat abadi yang disebut hubungan “Malu Ai”. Sesudah manusia berbiak, maka perlu diatur, maka terjadilah hubungan “dasaq rak” yang berarti hubungan pemerintahan, yang juga bersifat abadi.
Demikianlah masyarakat suku bangsa Bunaq, terdiri dari suku atau klan atau “deu” dalam bahasa Bunaq. Deu ini bersifat exogam, unilateral, tradisional.
Dalam hubungan “hulo lep” semua “deu” (dengan anggotanya) berkedudukan sama dan sederajat.
Dalam hubunga “malu ai”, “deu malu” (deu pemberi perempuan) berkedudukan lebih tinggi daripada “deu aibaa” (deu penerima perempuan).
Dalam hubungan “dasaq rak” , deu yang ditetapkan menjabat susuatu fungsi adat (Loro, Nai, Holgomo, Rato, Tamukun, Makleat) terpandang dalam masyarakat, terlebih dalam upacara-upacara adat.
Akan tetapi posisi dalam hubungan “dasaq rak”, tidak mempengaruhi posisi dalam hubungan “malu ai”.
Contoh; “Deu” Loegatal adalah memiliki fungsi sebagai Loro (dalam hubungan “dasaq rak”.) “Deu Leogebu, memiliki fungsi adat yang lebih rendah dari “deu” Loegatal. Dalam hubungan “malu ai” anggota “deu” Loegatal, sekalipun berkedudukan Loro, harus tunduk kepada “deu” Leogebu dan anggotanya. Yang memiliki posisi, berupa fungsi adat, adalah “deu” atau “suku”, bukan pribadi-pribadi anggota suku. Demikian, seorang anggota suku “malu” dialihkan dan tanggalkan keanggotaan suku “malu” dan terima keanggotaan suku “aibaa”, ia harus konsekuen, memegang posisi yang dimiliki “deu” yang kini, ia menjadi anggotanya.
Dahulu kala ada hamba sahaya, yang disebut “jala losan” atau “losan” atau “mila” yang berarti hamba. Hamba sahaya diperoleh melalui:
1. Ditawan dalam medan perang atau diculik
2. Ditebus karena tidak dapat bayar denda, sesuai putusan pengadilan.
3. Dibeli
Tawanan perang dan hasil culikan, langsung diupacarakan dan dijadikan anggota suku. Hal ini untuk menghargai kesaktian “kaluk”. Hamba yang ditebus atau dibeli, masih dilihat perilakunya, kemudian juga dijadikan anggota suku.
Kesimpulannya, tidak ada oknum, yang menjadi anggota sesuatu “deu”. Ketiga hubungan tersebut di atas, merupakan mata rantai seperti jala, yang saling berhubungan, mempersatukan suku bangsa Bunaq, keluar suku dan ke dalam suku.
Akibat pendidikan sekolah dan ekonomi, maka dewasa ini, telah timbul sesuatu lapisan baru, terdiri dari pegawai, pedagang, rohaniwan, dan para jebolan sekolah Tinggi, tergolong dalam lapisan Sosial yang baru itu.
Dengan demikian prinsip-prinsip stratifikasi sosial yang bersifat nasional, mulai mempengaruhi stratifikasi sosial di daerah, termasuk juga Lamaknen.
10. Sistem Kekerabatan, kelompok kekerabatan, prinsip kekerabatan.
10.1. Sistem dan Prinsip Kekerabatan
Perkawinan “sul dara” yaitu bentuk perkawinan patrilineal. Dianggap sangat ideal, jikalau seorang pemuda menikahi gadis, yang berasal dari suku “malu” yaitu suku pemberi perempuan. Namun demikian, tidak tertutup kemungkinan, menikahi gadis dari suku lain yang bukan “malu”. Suku lain itu, disebut “leolegul”.
Dengan menikahi gadis suku “Leolegul”, dengan bentuk perkawinan “sul dara”, maka terjadilah pula hubungan “malu-ai” antara suku pemuda dan suku isterinya itu, yang tidak lagi berstatus “leolegul” tetapi “ malu” dari suku suaminya. Uang mahar pada perkawinan “sul dara” pada dasarnya sama, sesuai dengan prinsip bahwa dalam hubungan “malu ai” semua suku pada dasarnya sederajat sama, terkecuali suku “malu” yang dianggap lebih tinggi posisinya dari suku “aibaa”. Dengan demikian, derajat suku menurut hubungan “dasaq rak” yaitu hubungan pemerintahan, tidak berpengaruh atas jumlah uang mahar yang harus dibayar. Uang mahar itu pun, pada dasarnya sama, sekalipun di sana sini, terdapat perbedaan jenis, penyebutan, jumlah dan urut-urutan uang mahar, dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Sigal saen. Tanggung pihal suami/“aibaa”: 1 emas dan 1 perak. Isteri/”malu”: steri/”malu”: 1-2 Selimut Timor
1. Bora pil Jewen. Suami : 1 perak. Isteri :1 selimut.
2. Taq O Turiq. Suami: 1 emas, 1 perak. Isteri: ---
3. Bei gotin. Suami: 7 perak. Isteri: ---
4. Napo tesi, watan lotuq. Suami: 1 emas, 1 perak. Isteri:---
5. Bokan O Nalas. Suami: 1 emas, 1 perak. Isteri :---
6. Su mamal, su soat. Suami: 1 kerbau dengan anak. Isteri: ---
7. Gubul O Geweel. Suami: I mas, 1 perak. Isteri: ---
8. Lor wa, lor bul. Suami: 1 mas 1 perak. Isteri: ---
9. Tajuq lor, Tajuq hoto. Aibaa: 1 mas, 1 perak. Malu:---
10. Sul O Suliq. Aibaa: 1 mas, 1 perak. Malu:---
11. Loeq masak, loeq gol. Aibaa: 7+5 perak. Malu: 7+5 selimut
12. Tel Wese. Aibaa: 2 perak. Malu: 1 selimut, 1 ekor babi.
13. Saki O jiq. Aibaa: 1 tahin. Malu: 1 selimut, 1 ekor babi.
14. Piral Noq Topol. (disesuaikan dengan banyaknya anggota suku “malu”).
15. Ope ganal tol. Aibaa: 2 tahin. Malu:---
16. Sael Ope. Aibaa: 1 ekor kerbau. Malu: 1 ekor babi
17. Peq naran, peq tiluq. Aibaa:--- Malu: 2 utas peq
18. Depal gie naran, depal gie tiluq. Aibaa:--- Malu: 2 pasang giwang (kouq) mas
19. Sawe Sepak. Aibaa: --- Malu: 1 sisir emas.
20. Kira O Bian. Aibaa: --- Malu: 2 mas
21. Jap nokar, cie nokar. Aibaa: --- Malu: 1 ekor anjing, 1 ekor ayam (bibit)
22. Palu pae goloq. Aibaa: -- Malu: 1 kebun
23. Opa tutul gie, rene pin gie. Aibaa: --- Malu: 1 orang hamba.
Penjelasan:
1 mas = 1 plat (piring) dari emas. 1 perak = 1 plat (piring) dari perak. 1 peq = 1 utas manik-manik dari tanah = Tetum: Morten. Jumlah tanggungan pria : 8 emas, 33 perak, 2 ekor kerbau dengan 1 anak kerbau. Jumlah tanggungan perempuan: 17 selimut, 2 utas peq, 2 emas, 1 sisir emas, 2 pasang anting-anting (kouq) dari emas, 3 ekor babi, 1 kebun, seorang hamba, 1 ekor anjing (bibit), 1 ekor ayam (bibit).
Jikalau I emas dinilai Rp. 100.000.- 1 perak dinilai Rp. 2.000,- 1 selimut dinilai Rp.20.000,- 1 ekor Kerbau dinilai Rp. 150.000,- 1 anak kerbau dinilai Rp. 50.000,- 1 ekor babi Rp.50.000,- 1 peq dinilai Rp. 250.000,- 1 pasang anting-anting (keuq) dinilai Rp.250.000,- 1 sisir emas 10 uang mas sukuan= Rp. 1.000.0000,- 1 kebun dinilai Rp. 5.000.000,- 1 ekor anjing dinilai Rp. 5.000,- 1 ekor ayam dinilai Rp. 2.000,- maka hasilnya sebagai berikut:
Tanggungan pria = Rp. 1.216.000,-
Ditambah no 16. “Piral Noq Topol “ = Rp. 200.000,-
Rp. 1.416.000,-
Tanggungan pihak perempuan Rp. 6.697.000,- + 1 orang hamba.
Jelas bahwa dalam perkawinan bentuk “sul dara” tanggungan dan antaran pihak “malu” jauh lebih banyak dari pada tanggungan “aibaa”, dan yang terutama ialah , kedua pasangan baru ini dapat memulai membentuk rumah tangga dalam posisi “Plus” tidak “nol” apalagi “minus”. Dan pula, pada pembayaran uang mahar tidak ditekankan kepada unsur tubuh perempuan akan tetapi martabat perempuan, sedang perempuan pun,dengan antaran yang demikian menyatakan tegas, bahwa pihaknya tahu pula akan harga dirinya.
Penjelasan istilah:
1. sigal saen = hotel por sigal saen = gantung daun-daun larangan = menandakan bahwa gadis itu sudah dilamar orang, istilah tepatnya: uang pertunangan.
2. Bora pil jewen = membentang tikar = tamu yang datang harus dipersilahkan duduk di atas tikar.
3. Taq O Turiq = kapak dan parang = pernyataaan kesanggupan pria untuk memelihara isteri dengan berkebun.
4. Bei gotin = membangunkan nenek moyang (leluhur). Pemberitahuan kepada leluhur tentang peristiwa yang dihadapi.
5. Mapo tesi, watan tetuq = potong bambu untuk timba air dan potong kayu untuk membuat api di dapur agar isteri dapat berpanggang api sesudah melahirkan, atau jelasnya : kecapaian ayah.
6. Bokan O nalas = periuk besar tempat masak air panas = untuk memandikan ibu setelah melahirkan, tepatnya: Kecapaian ibu.
7. Gubul O Geweel = kepala dan dagu dari si gadis = ganti rugi si gadis.
8. Su mamal su soat = air susu lembek, air susu keras = pemeliharaan gadis sejak bayi sampai dewasa.
9. Lor wa, lor bul = tempat persembahan alam rumah atas dan bawa = pemisahan dengan tempat persembahan dalam rumah suku.
10. Tajuq lor, tajuq hoto = pintu sebelah lor dan sebelah hoto = perpisahan dengan rumah suku.
11. Sul O Suliq = tombak dan keris = perpisahan dengan senjata keramat rumah.
12. Loeq masak, loeq gol = sawah besar, sawah kecil = perpisahan dengan kebun-kebun rumah suku
13. Tel wese = memisahkan pekuburan = si gadis dikuburkan di pekuburan deu aibaa, tidak lagi di kuburan suku asalnya.
14. Saki O jiq = membelah dan menggaris = penegasan penanggalan keanggotaan suku asal si gadis.
15. Ope ganal = tangkai buah labu = si gadis sudah terpetik, sehingga sudah terlepas dari tangkai buah = penanggalan keanggotaan suku asal si gadis.
16. Piral noq topol = Butir beras terjatuh = pemberitahuan kepada seluruh anggota suku asal si gadis tentang peristiwa ini, dengan sejumlah uang.
17. Sael ope = babi labuh = daging untuk disantap bersama, sewaktu di rumah si gadis, upacara pesta di rumah gadis.
18. Peq naran, peq tiluq = Peq penanda, peq tersimpan = peq yang menandakan kedudukan gadis dalam masyarakat.
19. Depal gie naran, depal gie tiluq = Anting-anting penanda, anting-anting tersimpan = maksudnya sama no. 18.
20. Sawe sepak = sisir emas = maksudnya sama no. 18.
21. Kira O Bian = alat pemintal benang dengan piring kecil = maksudnya sama no. 18
22. Jap nokar, cie nokar = anjing di pintu, ayam di pintu = melambangkan bibit hewan piaraan, anjing sebagai pengawal rumah, ayam sebagai penanda tibanya waktu siang.
23. Palu pae goloq = tempat memetik = kebun untuk mengusahakan hasil, agar dapat dipungut atau dipetik hasilnya.
24. Opa tutul gie, rene pin gie = untuk membawa tempat sirih, membawa keranjang tempat sirih = pembantu rumah tangga untuk disuruh membantu pekerjaan rumah tangga.
Akibat perkawinan “sul dara” :
1. Isteri menerima keanggotaan suku suami, dan dipandang sebagai perempuan utama dalam suku, dan digelar sebagai “deu gomo” – tuan rumah atau “momen pana” = perempuan tua, suami pun digelar “momen mone” = laki-laki tua.
2. Ayah berhak penuh atas isteri dan anak-anaknya.
3. Anak-anak seluruhnya menjadi anggota suku ayahnya, dan mendapat hak utama atas warisan atau salah satu fungsi adat dari rumah suku ayahnya.
4. Hubungan “malu ai” abadi antara suku asal isteri dan suku suami.
5. Poligami tidak diperkenankan, dan tidak ada perceraian.
6. Berzinah dihukum mati dipancung kepala.
Di samping itu ada pula hubungan “malu ai” timbal balik disebut “sutaq noq” jika pihak suku “malu” mengawini gadis “aibaa” secara “sul dara”.
Perkawinan bentuk “ton terel” yaitu perkawinan matrilineal:
Pria dapat mengawini seorang gadis dari suku “malu” atau “ aibaa” atau “leolegul”. Uang mahar ditanggung pria:
1. Sigal saen = 1 mas, 1 perak, 10 rupiah perak Belanda, dibalas dengan 1 selimut oleh gadis.
2. Molo pu tomak = sirih pinang penuh = uang harga kegadisan. Uang ini berbeda-beda menurut derajat suku si gadis besarnya dari: 3 mas-3 perak-30 rupiah Belanda sampai 9 mas-9 perak-90 rupiah Belanda dengan 3-9 ekor kerbau. Tidak ada balasan dari pihak perempuan.
3. Tajuq lor, tajuq hoto = pintu lor, pintu hoto= laki-laki dapat leluasa masuk keluar rumah suku isterinya: 1 emas-1 perak-10 rupiah Belanda untuk semua tingkatan. Tidak ada balasan dari pihak perempuan.
4. Peq liti neq = membagi peq dan loyang = pemberian uang kepada semua anggota suku, sebagai tanda pemberitahuan. Ada balasan, jika diberi mas atau kerbau.
Pada suku berderajat Loro, dan kepala wilayah di samping ini ada lagi: Bigil obuk, nokar gon = Daun pohon pisang hutan dan kayu palang pintu = maksudnya pemberitahuan kepada para Rato/Temukung, sebesar: 2 perak dan 20 rupiah Belanda.
Akibat perkawinan “ton terel”:
1. Suami dan isteri masing-masing pertahankan keanggotaan suku, tetapi laki-laki harus datang berdiam di rumah suku isteri (uxorilokal)
2. Ayah tidak berhak penuh atas anak-anak dan isteri sendiri serta harta warisan keluarga. Ahli waris adalah anak perempuan. Anak laki-laki bukan ahli waris
3. Anak-anak seluruhnya mendapat keanggotaan suku ibu, terkecuali ayah menghendaki agar salah seorang anak, mendapat keanggotaan suku ayah, melalui upacara pemindahan keanggotaan suku, disebut “gie ama gita ruhuat” = berarti berdiri di samping ayah, dengan mebayar kompensasi.
4. Tidak ada hubungan “malu ai” antara kedua suku suami dan isteri.
5. Poligami dan perzinahan diizinkan dengan membayar sejumlah uang kepada suku isteri.
6. Perceraian dibolehkan dengan membayar uang “ukon lai” pada isteri (sukunya).
7. Jika ayah meninggal dunia, jenazahnya harus diangkat ke rumah suku ayah, dan dikuburkan di pekuburan sukunya sendiri, sebab tidak boleh dikuburkan di pekuburan suku isteri.
Jikalau pembayaran uang mahar pada perkawinan “sul dara” dipersahajakan, maka perkawinan “sul dara” inilah yang sangat ideal dan sangat dianjurkan.
Mempersahajakan pembayaran uang mahar dapat dilakukan umpamanya, pihak suku suami dan isteri bersepakat membuat rumah atau membeli alat rumah tangga yang baik bagi keduanya, dan rumah dan alat-alat inilah dianggap sebagai uang mahar tanggungan pihak suami dan isteri. Lalu keduanya dapat membentuk suku sendiri dan tidak taat lagi atau terlepas dari suku asal isteri dan suami. Yang menjadi suku malu, adalah suku asal suami dan asal isteri, yang masing-masing menjadi malu pertama (“mone gomo”) dan malu kedua (“pana gomo”) bagi suku keduanya yang baru dibentuk. Untuk bertindak ke arah modernisasi masyarakat dalam rangka membasmi pemborosan dana, waktu dan kecapaian, cara ini benar-benar dapat dianjurkan.
10.2. Kelompok Kekerabatan
Kelompok kekerabatan yang terkecil adalah suku, atau suku rumah, atau klen, dan bukan rumah tangga, yang hanya menjadi anggota suku, yang harus taat kepada ketua sukunya. Di samping itu dengan cara perkawinan “ton terel” yang kini sudah menjadi tradisi, maka anggota suatu suku akan makin membengkak jumlahnya, sehingga tidak mungkin dibatasi pemborosan harta , waktu dan kecapaian. Seorang bapa keluarga tidak dapat membantah keputusan ketua suku, setiap kali dibebankan dengan uang, hewan pada setiap peristiwa kematian, uang mahar, uang delik, uang studi salah satu anggota kerabat isteri dan lain-lain. Demikian, bapa keluarga tidak mungkin menentukan sendiri kebijaksanaan pengendalian rumah tangganya sendiri.
Seperti diuraikan di atas, keanggotaan suku diperoleh dari :
1. Kepindahan suku, akibat perkawinan “sul dara”
2. Kelahiran menurut garis ayah atau ibu, sesuai bentuk perkawinan.
3. Kepindahan suku, untuk dijadikan anggota suatu suku yang sudah putus keturunan.
4. Kepindahan suku, dengan cara memelihara anak dari adik perempuan, “dapuq wese su ul” = membagi pangkuan dan membebaskan dari air susu ibu.
5. Kepindahan suku, karena keinginan ayah, agar seorang anak jadi anggota sukunya (“ama gita ruhuat”)
6. Pemberian keanggotaan suku, kepada para tawanan dan tebusan atau hamba yang dibeli.
Ketua suku berkewajiban:
1. Menjaga keseimbangan antara anggota sukunya ke dalam dan keluar suku.
2. Menjaga keseimbangan para anggota sukunya dengan alam gaib.
3. Memimpin dan menyelenggarakan upacara adat yang harus dilakukan sekitar suku
4. Menjaga dan mengawasi segala milik suku, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak.
Seluruh suku di bawa pimpinan ketua suku, sama-sama menanggung beban suku dan sama-sama bertanggungjawab atas penyelewengan seseorang anggota suku. Lain-lain hal mengenai suku atau “deu” telah disinggung pada nomor-nomor yang lalu.
11. Sistem Religi, Upacara dan kelompok upacara.
Pada masa sekarang dapat dikatakan , 100 % suku bangsa Bunaq di Lamaknen telah memeluk agama Katolik Roma. Namun demikian , para pemeluk agama katolik itu, pada hakekatnya belum melepaskan konsep-konsep dan adat istiadat keagamaan yang berasal dari religi asli tersebut.
Unsur penting dalam religi asli itu adalah:
Adanya kepercayaan bahwa ada satu keadaan yang Tertinggi, disebut “Hot” atau “Hot Esen”. Dalam syair mitologis Hot Esen disebut : “ Masaq Giral Kereq, Boal Gepal Uen” = Yang Agung bermata tunggal dan bertelinga tunggal = Yang Agung Maha Sempurna. Pada pembukaan dan penutupan setiap doa, pada segala macam upacara, selalu disebut terlebih dahulu Hot Esen dengan perkataan berikut: “ Hot, Ligi O Le Esen, Tiu O Mugi As, Bekaq O Nolaq Esen” = Demi Hot Yang Maha Tahu, Yang Maha Tinggi, Yang Maha Agung.
Kemudian baru disapa, arwah leluhurnya, yang sudah berada di samping Hot, untuk menyampaikan segala macam permohonan kepada Hot Esen.
Kepercayaan yang lain ialah menurut syair itu bahwa:
Hot Esen berdiam di Esen Hitu, As Hitu = Pada Tujuh Ketinggian. Kegelapan meliputi seluruh alam raya. Untuk menghalau kegelapan, Hot ciptakan bintang, bulan dan Matahari. Ternyata di bawa Esen Hitu, As Hitu, hanya ada air tidak terbatas. Hot menjatuhkan satu gumpalan tanah, ternyata hanya menjadi air. Gumpalan 3 buah dijatuhkan lagi, hanya kelihatan, binatang bergerak dalam air. 5 Gumpalan tanah dijatuhkan, terpisahlah daratan dengan air, tetapi tanah rata saja, tidak bergunung dan berbukit, dan hanya penuh ditumbuhi rumput “tese” dan “sibil”. Dijatuhkan lagi 7 gumpalan, bermunculanlah pegunungan dan pebukitan, tetapi masih bergoyangan di atas air. Dengan menurunkan pohon “ge”, mantaplah tanah daratan ciptaan itu. Untuk menggilas rumput “tese” dan “sibil” diturunkan kambing, babi, kerbau maka tergilaslah rerumputan itu. Diturunkan lagi kera untuk menghuni hutan, serta burung gagak dan burung “koak” untuk memberi tanda tibanya siang dan malam. Bumi disebut ligi hitu nual hitu yang berarti tujuh yang di bawa. Kemudian ternyata bintang, bulan dan matahari melahirkan manusia. Inilah sebabnya manusia disebut “Hot Gol”-“Hul Gol” yang berarti anak matahari dan bulan. Di samping itu bintang-bintang melahirkan pula roh-roh jahat pembawa malapetaka bagi manusia dan roh baik membawa kemakmuran, keberanian, kepandaian bagi manusia. Manusia ini berdiam di Esen Hitu, As Hitu akan tetapi sejak kecil nakal, suka berkelahi, sesudah dewasa, juga mulai mencuri, merusakkan barang milik orang, lalu Hot perintahkan mereka itu, untuk mendiami bumi. Lalu turunlah mereka itu dari Esen Hitu, As Hitu dan mendiami bumi. Dari mereka inilah, antara lain, 10 kelompok akhirnya tiba dan mendiami Lamaknen, seperti telah disinggung terlebih dahulu, yang mendiami seluruh Timor dan juga sampai ke Pulau Sabu dan Rote.
Pada setiap upacara pada setiap kesempatan, terlebih dahulu, diatur “ taka gol” yang diisi sirih dan pinang. Lalu “lal gomo” mengucapkan doa, dengan permohonan yang diperlukan dan dibarengi dengan permintaan, agar diberikan tanda dalam usus babi atau ayam, yang menyatakan pendirian para leluhur, apakah permohonannya diterima atau ditolak. Sesudah itu hewan (ayam atau babi) disembelih, dan diteliti ususnya. Sesudah makanan masak, ditaruh juga dalam “taka gol”, sambil mengundang leluhur untuk turut pula bersantap. Sesudah dipersilahkan , "taka gol" dibagi-bagi kepada hadirin, sebagai makanan sisa leluhur, untuk dimakan bersama oleh hadirin. Sisa makanan orang-orang tua pun tidak boleh diberikan kepada binatang atau dibuang akan tetapi harus dimakan oleh yang lebih muda. Jika ternyata ada tanda yang tidak baik dalam usus babi atau ayam, maka dicari tahu lagi dengan jalan “hik sagal”, dan dibuat lagi upacara semacam ini, sampai ada tanda yang baik, dalam usus babi atau ayam.
Demikianlah suku bangsa Bunaq, melakukan upacara berbagai ragam pada:
Kesempatan kelahiran, perkawinan (sul dara), sakit dan kematian. Pada kematian, dibuatkan peti, berbentuk kapal/perahu, agar yang mati, dapat berlayar kembali ke tanah leluhur, sampai tiba kembali di Esen Hitu, As Hitu. Pesta kenduri dimaksudkan untuk membekali yang mati, agar jangan nanti berkekurangan di Esen Hitu, As Hitu.
Kesempatan membangun rumah suku baru atau rumah adat baru. Hal ini untuk memulihkan kembali keseimbangan antara para anggota suku yang membuat rumah dengan makhluk kayu, rumputan dan lain-lain ramuan yang dipakai untuk membangun rumah, berdasarkan pemikiran, bahwa kayu dan lain-lain itu pun adalah sesama makhluk yang sama dan sederajat dengan manusia, jadi harus diadakan perdamaian kembali dengan mereka.
Upacara mengenai bahan makanan, kayu cendana dan lilin (lebah). Hal ini berdasarkan syair mitologis, bahwa bahan makanan, kayu cendana dan lebah adalah kasil penjelmaan seorang putera dan puteri bernama Dasi Bau Maliq dan Dasi Bui Maliq. Dasi Bui Maliq menjadi lebah dan Dasi Bau Maliq menjelma menjadi bahan makanan dan kayu cendana.
Darah, daging, gemuk menjelma menjadi padi-padian. Giginya menjadi jagung, lidahnya menjadi tebu, biji matanya menjadi kacang-kacangan, perutnya menjadi labuh, pantatnya menjadi ubi “me” = “maek” – Tetum, jari-jarinya menjadi ubi-ubian, tulangnya menjadi kayu cendana.
Berdasarkan kepercayaan itu, maka ada berbagai macam upacara yang dilakukan, yang bersangkutan dengan bahan makanan, dengan tujuan untuk: Elakkan gangguan perusak tanaman bahan makanan, Hindarkan bencana alam, pemusnah bahan makanan, Melancarkan curah hujan dan elakkan kekeringan, Menambah kesuburan tanah, Memperlipatgandakan hasil kebun, Mengucapkan syukur atas semua kebaikan.
Upacara ini dapat disebut sebagai berikut:
September/Oktober : Tuat Paul atau Bei Dubul Kouq atau An Gene oleh Makir dan Lamaksenulu. Tubi lai oleh Lamaknen, dilakukan setiap wilayah melalui ketentuan Por Gomo Masing-masing. Nopember: Hotel Gawa gemen oleh Kewar. Desember: Koul Uku, salan hatama oleh Makir dan Lamaksenulu. Januari: Il suq oleh Makir dan Lamaksenulu. Bu Nolaq, Naka Olu oleh Makir dan Lamaksenulu. Paol tuu oleh Kewar. Maret/April : Paol Sau oleh Kewar dan Lamaknen, sesuai keadaan dalam tiap wilayah. Juni: Tir dujuk oleh Lamaknen. Juli/Agustus: Jobel a atau Natal rasa atau porat hatama oleh Makir dan Lamaksenulu. Hohon a oleh Lamaknen.
Penjelasan:
Tuat paul (belah ketupat) bei dubul kouq (nenek gundulkan rambut) dan an gene berarti berada di rerumputan yaitu berburu, menghalaukan binatang liar perusak tanaman. 3-7 hari. Tubi lai berarti ubi rambat dikeringkan, dijadikan tepung, dibuatkan kue. Hal ini untuk menjaga keseimbangan dengan hewan liar perusak. Lamanya upacara 3-7 hari. Hotel gawa gemen = menegakkan kembali kayu, yang ditebang sewaktu membuka kebun. Memulihkan kembali keseimbangan dengan kayu rumputan yang ditebas dan untuk mohon curah hujan. Koul uku = menutup tempurung kelapa, salan hatama = memasuki musim hujan. Tujuannya untuk memperlancar curah hujan. Il suq = menggali air, juga untuk melancarkan curah hujan. Bu Nolaq, Naka Olu = membersihkan lumpur (dari kaki kerbau) sesudah dipakai merencah sawah. Pao tuu = menumbuk kacang, semacam kacang disebut “ pao cinoq “ atau “pao busa”. Sesudah upacara ini dilaksanakan, maka para ketua suku Loegatal dan lain-lain suku yang berhubungan, baru boleh memakan sayur labuh di kebun sendiri. Paol sau = memakan hasil jagung baru. Sebelum upacara ini dilakukan tidak diperbolehkan memakan jagung muda dan merusakkan batang pohon jagung. Hal ini untuk menghargai “HOT”. Jikalau dipetik jagung muda, maka tangkainya tidak boleh dirusakan, sedang jagung muda yang dibawa, harus dilindungi dengan daun kayu, juga sebagai penghargaan kepada “HOT”, karena sebelum dilakukan upacara ini, tidak boleh makan jagung muda. Pelaksanaan upacara ini, didahului dengan pengambilan kulit pohon “ge”, yang dengannya baru dapat dilakukan upacara, agar bahan makanan ini jangan sampai punah, dan tetap tinggal mantap, sebagai Hot memantapkan dunia dengan pohon “ge”. Tir dujuk = makanan hasil kacang “tir “ yang baru. Dilakukan tiap-tiap rumah tangga. Jobel a = makanan yang muda, natal rasa = membersihkan natal (tempat tumbuh pohon tuak), porat hatama = memasuki masa musim panas. Sebelum upacara ini, tidak boleh makan halia, tebu, ubi-ubian dan kacang-kacangan. Hohon a = memakan hasil padi baru.
Di samping upacara-upacara ini, ada lagi berbagai upacara pengambilan lilin lebah/ madu, penanaman padi ladang , pemungutan hasil padi ladang, pada waktu panen jagung, yang dilakukan oleh setiap rumah tangga.
Upacara –upacara ini yang dilaksanakan setiap tahun, dapat meyakinkan kita tentang keadaan hubungan, keamanan zaman dahulu, sehingga orang takut akan ketiadaan bahan makanan, lalu punahlah manusia.
12. Sistem Pengetahuan yang Dikembangkan
Yang dikembangkan dan terus dilatih, sekalipun tidak merata, ialah pengetahuan tentang adat istiadat yang bersangkutan dengan berbagai upacara, silsilah leluhur, yaitu kelompok yang turun dari Esen Hitu, As Hitu dan mendiami desa atau dusunnya masing-masing.
13. Jenis Kesenian
i. Seni tari = Teberai dan Biru
ii. Seni ukir= Beseq lias = mengukir papan dinding / pintu rumah, hau lias = mengukir tempat kapur sirih.
iii. Seni pahat = aitos goon = membentuk arca.
iv. Seni suara = tei, ligi, olek, holon, kawen, magaliaq, bai toan.
Dari kesemuanya, seni ukir dan seni pahat yang mulai ditinggalkan.
14. Unsur Kebudayaan yang Menonjol
Lapisan sosial baru, seperti yang telah diuraikan dalam stratifikasi sosial, lebih menyukai adopsi kebudayaan Barat umpamanya dansa. Pada hakekatnya, adat kebiasaan suku Bunaq, tidak membenarkan seorang pemuda memegang / memeluk anak gadis orang, yang bukan isterinya, hal mana dahulu kala, dikenakan pembayaran kompensasi disebut “giwi hini por” = memperkeramatkan kembali tubuhnya.
15. Arti dan Asal Mula Nama Tempat
Kewar, yang sebenarnya adalah Gewal atau Geal atau Gial = membawa serta. Gomoq baq mal gial = kawanan gadis untuk dibawa serta = kawanan gadis untuk dibawa serta untuk dinikahi. Pada hakekatnya Kewar, selain pusat kebudayaan, suku-suku yang ada di Kewar adalah suku “malu” (pemberi perempuan) pada kebanyakan suku di Lamaknen.
Bandingkan: (dalam bahasa Tetum). Natarmeli bauho = natar meli ba ho = arti dan maksudnya sama seperti di atas. Atambua (Tetum) sebenarnya : Ata == hamba, buan = suangi. Atambua Maudeku = tempat memukul mati hamba yang suangi. Besikama (Tetum) sebenarnya : Besik Ama = Ayah si Besik (nama orang). Halilulik (Tetum) = beringin keramat.
16. Nama Panggilan Anak Secara Adat
16.1. Panggilan Anak Laki-laki
Apa’ untuk memanggil anak sulung. Pou untuk anak kedua. Uju untuk anak ketiga. Uka untuk anak bungsu. Kalau anak laki-laki berjumlah lebih dari empat maka anak kelima disebut apa’. Anak keenam disebut pou. Anak ketujuh disebut uju. Anak ke delapan disebut uka dan seterusnya.
16.2. Panggilan anak Perempuan
Anak sulung dipanggil Aiba’. Anak kedua dipanggil pou. Anak ketiga dipanggil uju. Anak keempat dipanggil uka. Anak kelima dipanggil aiba’ dan sterusnya sama dengan panggilan anak laki-laki.
Dari panggilan anak laki-laki dan perempuan di atas dapat disimpulkan bahwa panggilan anak sulung pria dan perempuan berbeda sedangkan panggilan anak kedua dan seterusnya sama.