Selamat Datang

Selamat datang di Blog ini. semoga isi dari blog ini bisa membantu saudara sekalian dalam menambah Pengen tahu anda agar anda sekalian menjadi manusia yang penuh dengan pengetahuan dan sekaligus mampu mengaplikasikan dalam hidup saudara setiap hari.
Showing posts with label Cerita. Show all posts
Showing posts with label Cerita. Show all posts

Sunday, 18 May 2025

Rocky Gerung " tidak ada sopan santun dalam pikiran yang ada hanyalah kejujuran yang otentik"

 Pikiran berjalan bebas, tak dibatasi oleh norma-norma sosial seperti sopan santun. Ia bergerak liar, jujur, kadang kasar, kadang menyakitkan, tapi itulah wujud kejujurannya. Pikiran yang dipaksa “berpura-pura sopan” justru kehilangan keotentikannya. Ia menjadi sekadar topeng, bukan cermin dari nurani atau nalar.


Sopan santun memang penting dalam interaksi sosial, tetapi dalam ruang batin dan ruang berpikir, kejujuran jauh lebih utama. Karena hanya dari pikiran yang jujur—meski pahit—akan lahir pertanyaan yang benar, pencarian yang sungguh-sungguh, dan perubahan yang bermakna. Menjaga pikiran agar “terlihat baik” hanya akan membungkam kritik, menyembunyikan keraguan, dan mengasingkan kebenaran.


Maka tak heran, mereka yang berpikir mendalam kadang tampak “kurang sopan” di hadapan masyarakat yang lebih suka kenyamanan daripada kejujuran. Tapi justru di sanalah keberanian intelektual diuji: bukan untuk menjadi kasar, tapi untuk tidak pura-pura sopan demi menghindari ketidaknyamanan berpikir.

Sunday, 23 February 2025

Kisah Pedro: Mimpi yang Tertahan oleh Tantangan Kewirausahaan di Timor-Leste

 Pedro adalah seorang pemuda dari distrik Ainaro, Timor-Leste, yang bercita-cita membuka usaha kecil di bidang produksi kopi. Sejak kecil, ia melihat orang tuanya bekerja keras di perkebunan kopi, tetapi mereka hanya menjual hasil panen kepada tengkulak dengan harga murah. Pedro ingin mengubah ini. Ia bermimpi membangun bisnis yang bisa menjual kopi langsung ke pelanggan di Dili dan bahkan mengekspornya ke luar negeri. Namun, seperti banyak calon pengusaha muda di Timor-Leste, Pedro menghadapi berbagai tantangan yang membuat impiannya sulit terwujud.

1. Akses Modal yang Terbatas

Salah satu hambatan utama yang dialami Pedro adalah kesulitan mendapatkan modal awal. Perbankan di Timor-Leste masih berkembang, dan pinjaman usaha kecil sulit diakses oleh masyarakat pedesaan yang tidak memiliki jaminan aset (Ximenes & Amaral, 2021). Pedro mencoba mengajukan pinjaman ke bank lokal, tetapi ditolak karena tidak memiliki jaminan yang cukup. Tanpa modal, ia kesulitan membeli mesin pemrosesan kopi dan alat pengemasan yang diperlukan untuk meningkatkan nilai jual produknya.

2. Kurangnya Infrastruktur dan Akses Pasar

Pedro akhirnya mencoba menjual kopinya dalam bentuk mentah ke pasar di Dili, tetapi akses jalan dari desanya ke ibu kota sangat buruk. Saat musim hujan, jalanan menjadi lumpur dan sulit dilewati kendaraan. Biaya transportasi yang tinggi membuat harga jual kopinya kurang kompetitif dibandingkan kopi impor dari negara lain seperti Indonesia dan Vietnam (Tilman, 2020).

Di pasar lokal, banyak pedagang lebih memilih membeli kopi impor yang lebih murah dan telah dikemas dengan baik. Ini menunjukkan tantangan besar bagi usaha kecil di Timor-Leste—meskipun memiliki produk berkualitas, akses pasar yang terbatas membuat mereka kesulitan bersaing.

3. Budaya yang Kurang Mendukung Kewirausahaan

Seperti banyak orang Timor lainnya, keluarga Pedro lebih mengutamakan pekerjaan di sektor pemerintahan sebagai jalur karier yang lebih aman. "Lebih baik bekerja sebagai pegawai negeri, gaji tetap dan ada pensiun," kata ayah Pedro, yang khawatir melihat anaknya memilih jalur yang tidak pasti.

Fenomena ini cukup umum di Timor-Leste, di mana sistem pendidikan masih lebih banyak menekankan akademik dibandingkan pelatihan kewirausahaan (Guterres & Soares, 2022). Akibatnya, banyak anak muda yang kurang mendapatkan pelatihan bisnis atau keterampilan wirausaha yang bisa membantu mereka membangun usaha sendiri.

4. Minimnya Dukungan dari Kebijakan Pemerintah

Pemerintah Timor-Leste telah melakukan beberapa inisiatif untuk mendukung usaha kecil, tetapi banyak program yang belum berjalan efektif. Pedro sempat mengikuti program pelatihan kewirausahaan yang diselenggarakan oleh pemerintah setempat, tetapi setelah pelatihan berakhir, ia tidak mendapatkan bimbingan lebih lanjut atau akses modal usaha (Lopes & Gusmão, 2019).

Kebijakan pajak dan regulasi usaha juga masih belum ramah bagi pengusaha kecil. Banyak prosedur administrasi yang rumit dan memakan waktu lama, membuat banyak orang enggan mengurus perizinan untuk usaha mereka.

5. Persaingan dengan Produk Impor

Pasar di Timor-Leste masih sangat bergantung pada produk impor, mulai dari makanan hingga barang-barang konsumsi lainnya. Meskipun kopi Timor-Leste dikenal berkualitas tinggi, sebagian besar produk yang dijual di pasar adalah kopi instan impor dari luar negeri (Pereira, 2021).

Pedro mencoba menjual kopinya secara langsung ke kafe-kafe di Dili, tetapi kebanyakan kafe lebih memilih membeli kopi dari pemasok besar yang menawarkan harga lebih murah. Persaingan dengan produk impor ini membuat usaha kecil seperti milik Pedro sulit berkembang.

Bangkit dari Tantangan: Jalan Alternatif Pedro

Meskipun menghadapi berbagai kendala, Pedro tidak menyerah. Ia mulai mencari cara untuk memasarkan produknya secara langsung ke pelanggan melalui media sosial. Dengan bantuan teman yang memiliki akses internet lebih baik di Dili, Pedro membuat akun Instagram dan Facebook untuk menjual kopinya secara online.

Selain itu, Pedro bergabung dengan koperasi petani kopi, yang membantunya mendapatkan akses ke pasar yang lebih besar dan berbagi biaya transportasi dengan petani lain. Dengan strategi ini, Pedro perlahan mulai meningkatkan penjualannya, meskipun masih jauh dari impiannya untuk mengekspor kopi ke luar negeri.

Kesimpulan

Kisah Pedro mencerminkan realitas banyak calon pengusaha muda di Timor-Leste. Kurangnya akses modal, infrastruktur yang terbatas, budaya yang kurang mendukung kewirausahaan, minimnya kebijakan yang efektif, serta persaingan dengan produk impor menjadi tantangan besar bagi perkembangan sektor usaha kecil dan menengah.

Namun, seperti yang ditunjukkan Pedro, inovasi dan ketekunan bisa menjadi solusi untuk menghadapi kendala ini. Dengan lebih banyak dukungan dari pemerintah, akses ke pendidikan kewirausahaan, serta perbaikan infrastruktur dan kebijakan ekonomi, Timor-Leste memiliki potensi besar untuk mengembangkan sektor kewirausahaan yang lebih kuat dan mandiri.


Daftar Referensi

  1. Guterres, F., & Soares, A. (2022). The Challenges of Youth Entrepreneurship in Timor-Leste: Cultural and Educational Barriers. Journal of Southeast Asian Development, 15(2), 78-95.
  2. Lopes, C., & Gusmão, J. (2019). Entrepreneurship Development in Timor-Leste: Policy Gaps and Opportunities. Economic Policy Journal, 11(4), 45-60.
  3. Pereira, X. (2021). The Impact of Imported Goods on Local Entrepreneurship in Timor-Leste. Journal of Business and Trade, 14(1), 33-50.
  4. Tilman, R. (2020). Infrastructure and Business Development in Timor-Leste: The Role of Transportation in Market Access. Timor-Leste Economic Review, 12(3), 55-70.
  5. Ximenes, J., & Amaral, P. (2021). Financial Barriers to Entrepreneurship in Timor-Leste: The Role of Banking and Microfinance. Journal of Economic Research, 13(2), 20-40.

Kurangnya Kewirausahaan di Timor-Leste: Kisah Perjuangan dan Tantangan

 Di sebuah desa kecil di distrik Baucau, seorang pemuda bernama João memiliki impian besar. Sejak kecil, ia terbiasa membantu orang tuanya bertani dan beternak. Namun, João ingin lebih dari sekadar bertani untuk kebutuhan keluarga—ia ingin membangun usaha sendiri, menjual produk lokal seperti kopi dan madu ke kota Dili, bahkan mungkin ke luar negeri.

Namun, perjalanan João untuk menjadi seorang pengusaha tidaklah mudah. Seperti banyak anak muda di Timor-Leste, ia menghadapi berbagai hambatan yang membuat kewirausahaan tampak seperti impian yang sulit diwujudkan.

1. Kurangnya Akses Modal dan Kredit

Salah satu tantangan terbesar bagi João adalah mendapatkan modal awal. Bank-bank di Timor-Leste masih sangat selektif dalam memberikan pinjaman, terutama bagi usaha kecil yang belum memiliki riwayat keuangan yang kuat. Tanpa jaminan atau koneksi, João kesulitan mendapatkan dana untuk membeli peralatan dan memperluas usahanya.

Ia mencoba mencari dukungan dari koperasi lokal, tetapi sistem pinjaman yang tersedia masih terbatas dan sering kali memiliki bunga yang tinggi. Banyak anak muda seperti João akhirnya memilih bekerja di luar negeri, terutama di Australia, untuk mengumpulkan modal sebelum kembali ke Timor-Leste dan mencoba berwirausaha.

2. Kurangnya Infrastruktur dan Akses Pasar

Meskipun João memiliki produk berkualitas, mengirim barang dari desa ke kota adalah tantangan besar. Jalan yang rusak, transportasi yang mahal, dan kurangnya jaringan distribusi membuat banyak usaha kecil kesulitan berkembang. Bahkan jika João berhasil membawa produknya ke Dili, persaingan dengan barang impor membuat harga jualnya sulit bersaing.

Banyak pedagang lebih memilih menjual produk impor dari Indonesia atau China yang lebih murah, meskipun kualitasnya tidak selalu lebih baik. Akibatnya, João harus mencari cara untuk menonjol di pasar yang lebih kompetitif.

3. Budaya dan Pendidikan yang Kurang Mendukung Kewirausahaan

Di Timor-Leste, banyak orang masih memandang pekerjaan di pemerintahan sebagai jalur karier yang paling aman dan dihormati. Pendidikan di sekolah lebih banyak menekankan pada akademik dan kurang memberikan pelatihan kewirausahaan atau keterampilan praktis dalam bisnis.

João mengalami ini secara langsung ketika mencoba meyakinkan keluarganya bahwa memulai bisnis lebih baik daripada mencari pekerjaan di sektor publik. Ayahnya, yang bekerja sebagai pegawai pemerintah, khawatir bahwa menjadi pengusaha terlalu berisiko. "Lebih baik cari pekerjaan tetap," kata sang ayah. "Setidaknya kamu punya penghasilan pasti setiap bulan."

Tekanan sosial ini membuat banyak anak muda enggan mengambil risiko dalam berwirausaha. Mereka lebih memilih mencari pekerjaan di pemerintahan atau LSM daripada mencoba membuka usaha sendiri.

4. Kurangnya Dukungan dari Kebijakan Pemerintah

Pemerintah Timor-Leste telah berusaha mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi kebijakan untuk mendukung usaha kecil masih terbatas. Program pelatihan kewirausahaan memang ada, tetapi tidak selalu mencakup dukungan berkelanjutan seperti akses ke modal, bimbingan bisnis, atau insentif pajak bagi pengusaha muda.

João sempat mencoba mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh pemerintah setempat, tetapi setelah pelatihan berakhir, tidak ada tindak lanjut. Banyak peserta pelatihan kembali ke aktivitas lama mereka karena merasa tidak ada perubahan nyata dalam peluang bisnis.

Mengubah Tantangan Menjadi Peluang

Meskipun menghadapi berbagai hambatan, João tidak menyerah. Ia mulai mencari alternatif lain, seperti menjual produknya melalui media sosial dan mencari pelanggan langsung di Dili yang tertarik dengan produk organik lokal.

Ia juga bergabung dengan komunitas pengusaha muda yang berbagi pengalaman dan ide bisnis. Dari komunitas ini, João belajar tentang cara mengembangkan bisnis dengan modal kecil dan bagaimana mencari mitra yang bisa membantu memperluas usahanya.

Kisah João mencerminkan tantangan yang dihadapi banyak pengusaha muda di Timor-Leste. Kurangnya infrastruktur, akses modal yang terbatas, budaya yang lebih mengutamakan pekerjaan tetap, serta kebijakan pemerintah yang belum optimal menjadi penghalang utama bagi pertumbuhan kewirausahaan. Namun, dengan inovasi, tekad, dan dukungan dari komunitas, para pemuda seperti João dapat mengatasi tantangan ini dan membangun masa depan ekonomi yang lebih mandiri bagi Timor-Leste.

Jika pemerintah dan masyarakat mulai memberikan lebih banyak perhatian dan dukungan kepada wirausaha muda, Timor-Leste dapat mengurangi ketergantungannya pada impor dan sumber daya alam, serta menciptakan lapangan kerja baru yang lebih berkelanjutan.


Kesimpulan

Kurangnya kewirausahaan di Timor-Leste bukan hanya disebabkan oleh satu faktor, melainkan kombinasi dari hambatan ekonomi, sosial, dan kebijakan. Namun, kisah João menunjukkan bahwa ada harapan bagi perubahan. Dengan lebih banyak dukungan bagi pengusaha muda, perbaikan infrastruktur, serta perubahan pola pikir terhadap kewirausahaan, Timor-Leste dapat membangun ekonomi yang lebih kuat dan mandiri.


Referensi

  1. Almeida, R., & Lopes, J. (2021). Challenges and Opportunities for Entrepreneurship in Timor-Leste. Dili: Economic Research Institute.
  2. Carvalho, M. (2018). Barriers to Small Business Growth in Timor-Leste. Journal of Southeast Asian Economics, 14(3), 89-102.
  3. Gusmão, X. (2022). The Role of Social and Cultural Factors in Entrepreneurship Development in Timor-Leste. Dili: Business Development Review.
  4. Pinto, S. (2023). Strategies for Promoting Entrepreneurship Among Youth in Timor-Leste. Journal of Economic Policy, 10(2), 45-60.
  5. Ximenes, T., & Tilman, R. (2020). The Impact of Infrastructure on Business Development in Timor-Leste. Dili: Social Development Journal.

Friday, 21 February 2025

Kisah pertempuran di kawasan Loes-Maubara, sebelum 7 Desember 1975

 

Inilah sosok dua Komandan Kakak - Beradik (Manus dan Malitara) yang berhasil mempertahankan kawasan LOES hingga awal tahun 1979.  Walaupun TNI telah berhasil menguasai kawasan Atabae dan sekitarnya sejak 1975 namun kawasan LOES tidak bisa dilewati TNI hingga tahun 1979, Alhasil perjalanan darat Pasukan TNI dari Atabae ke Liquica dan Dili terhambat selama beberapa tahun dan harus melalui jalur Laut dan Udara atau melalui Ermera. Sebelumnya ke lima orang Wartawan asal Australia yang dibantai oleh TNI di Balibo, dalam perjalanan mereka dari Dili ke Balibo sempat singgah di Loes dan memberikan bantuan obat - obatan kepada para serdadu Fretilin (FALINTIL) yang bermarkas di Loes, Komandan Manus sempat mengingatkan ke lima Wartawan tersebut agar dua diantara mereka melakukan peliputan di daerah Loes saja, biarkan ke tiga teman lainnya yang pergi meliput ke wilayah Perbatasan, Manus berkata demikian karena merasakan firasat buruk terhadap keselamatan mereka di daerah Perbatasan namun mereka bersikeras untuk melanjutkan perjalanan ke Balibo dan kisah mereka berakhir sangat tragis. Sebelum berangkat ke Balibo kelima Wartawan tersebut juga mengadakan peliputan di kawasan Loes namun sayang, video dokumentasi mereka tidak sempat ditayangkan dan hilang bersama kelima Wartawan asing tersebut.


Kegigihan dua kakak - beradik ini berkat kekompakan mereka dengan beberapa Komandan hebat lainnya seperti; Komandan Alexandrino Chaves (Chaves adalah Komandan Kompanhia Bubu-Api yang bermarkas di Pantai Vatuboro), Komandan Jetuli dan Amerco adalah dua Kakak - beradik yang bermarkas di daerah Rambo (daerah Rambo adalah kawasan tanah lembab dengan sebuah danau mungil  berlokasi tepat di perbatasan antara Suku Guiço dan Lissa-dilla),  Komandan  Armindo Lobo "Besilau" dan Carlos Alberto adalah dua Kakak - beradik yang bermarkas di Lissa-Dilla, Antoninho Brites "Nixon" adalah Komandan Kompanhia Tata-Bei bermarkas di Tapo-Manulu. 


Pada saat invasi TNI tanggal  7 Desember 1975 di Dili, Maun Boot José Alexandre "Xanana" Gusmão bersama beberapa petinggi Fretilin berada di Kompanhia Tata-Bei selama beberapa hari, salah - satu petinggi Fretilin yang bersama - sama dengan mereka bernama Juvinal Inacio (Menteri Keuangan). Sebelum Maun Boot Xanana Gusmão bertolak ke Dili melalui jalan pintas Vatuvou-Ana, Beliau sempat berpesan kepada para Komandan yang berkumpul di Kompanhia Tata-Bei dengan pesan "Inimigu invade ona Dili, ami tenki fila fali ba buka tuir Comite Central Fretilin agora muda fali ba iha ne'ebé ona? Atau dalam bahasa Indonesia yang artinya "Musuh telah menginvasi Dili melalui jalur udara, kami harus kembali ke Dili untuk mencari Markas Besar Fretilin sekarang pindah kemana"?


Perlu diketahui bahwa waktu itu Kompanhia Manus dan Kompanhia Bubu-Api belum dibentuk, semua Komandan berkumpul di Tata-Bei termasuk Komandan Humberto, Komandan José Benivides, Komandan Manus dan yang lainnya. Komandan Manus pernah mengenyam pendidikan kemiliteran "Tropas" atau satu letting  dengan Maun Boot Xanana di CI. Taibessi, Dili pada zaman Timor Portugis.


Berikut ini adalah kisah menarik beberapa serdadu  pemberani Fretilin; 


1. Tarcisio, adalah Komandan Peleton pemberani yang menumpas beberapa anggota TNI di daerah Vatuboro, Beliau ditangkap saat dirinya kehabisan peluru, matanya dicungkil oleh TNI oleh karena Beliau tidak bisa dibunuh dengan peluru dan karena tidak tahan dengan beratnya siksaan yang dilakukan oleh TNI akhirnya Beliau menyerahkan Pedang sakti miliknya kepada TNI untuk dihunuskan ke dadanya hingga tewas. 


2. Mau-Bete "Sang Tuan Tanah" adalah seorang SNIPER Falintil yang banyak melumpuhkan personil Marinir TNI yang berlabuh di Pantai Vatuboro (hilir sungai Loes). Pertempuran di Vatuboro juga sering memakan banyak korban sehingga Helicopter TNI seringkali mondar-mandir untuk mengangkut jenazah anggota TNI yang luka luka termasuk yang tewas.


3. Maukuru, adalah Serdadu Fretilin yang gugur didepan Markas Manus bersama sama dengan beberapa orang TNI yang menyerang markas Manus. Maukuru adalah satu satunya serdadu yang terjaga di saat malam penyerangan. Ketika itu para serdadu lainnya sedang tertidur lelap, bunyi senjata Maukuru membangunkan para serdadu yang tertidur lalu terjadilah pertempuran yang hebat dan berdurasi selama 24 jam, namun sayang bunyi senjata Maukuru saat itu adalah untuk yang terakhir kalinya karena sebuah peluru milik TNI langsung menembus kepalanya.


 4. Victor, adalah Serdadu pemberani yang maju bersama sama dengan Manus untuk menyerang Kecamatan Maubara, Beliau gugur di daerah Dubua-lara Maubara (2 KM arah barat benteng Maubara) dalam pertempuran selama 12 jam. Penyerangan ke Maubara sebenarnya atas tantangan seorang Komandan Falintil asal Ermera, ketika berkunjung ke Markas Manus beliau meremehkan Pasukan pimpinan Manus dengan kalimat mengejek seperti berikut ini "Seandainya saya yang bermarkas disini, besok pagi saya akan sarapan di Maubara dan Makan Siang di Liquiça" mendengar ucapan tersebut Manus terpancing emosi dan berkata kepadanya "Besok saya akan sarapan di Maubara, mengenai makan siang saya tidak janji". Penulis sempat bertanya kepada Komandan Manus, kira kira berapa banyak korban dari pihak lawan (TNI), "hau so hatene hau tiru mate inimigu nain 3 ne'ebé kaer Metralhador nee, tanba ida monu sira mai rasta ses tiha, ida troka fali hodi kaer metra, troka malu kuaze dala tolu mak Helicoptru foin tuun mai lalin sira" yang artinya "saya pastikan tiga orang yang memegang senjata serbu, tiga kali gonta ganti orang, kemudian datanglah helikopter untuk mengevakuasi mereka.


5. José Gringgo, adalah milisi Fretilin pemberani berbadan kekar dan tinggi, pada saat penyerangan ke Atabae José Gringo menjabat sebagai Comandante Secção. Beliau gugur di kawasan Megir (daerah mandoki) ketika maju bersama Manus untuk menghadang Tank TNI di daerah tersebut,  Jose Gringgo berusaha menghadang laju Tank milik TNI dengan sebuah granat karena ia kehabisan peluru namun karena ia salah melemparkan granat tersebut akhirnya Ia tertembak dan gugur. Pertempuran di megir merupakan pertempuran pertama Komandan Manus bersama beberapa orang anak buahnya yang masih tergabung dalam CIA 42. CIA 42 akhirnya berganti nama menjadi Kompanhia Tata-Bei, dan dari Kompanhia Tata-Bei terbagi lagi menjadi beberapa Kompanhia termasuk Manus. Setelah José Gringgo dan Doti-Ana gugur di Megir, anak buah Manus berpencar lalu meninggalkan Manus sendirian di medan pertempuran selama 3 hari 3 malam, selama tiga hari tersebut Manus hanya mengkonsumsi Mangga di perbukitan Atabae. Laporan  yang diterima Xefe Estado Major (Kepala Staff Falintil), Domingos Ribeiro bahwa Manus dan kedua anak buahnya telah gugur di medan pertempuran. Pada saat mereka sedang berunding untuk mencari Komandan baru guna menggantikan posisi Manus tiba tiba seorang Anak buah Manus datang dari arah sungai Loes melaporkan bahwa ada seseorang di seberang sungai Loes mirip Komandan Manus, mendengar kabar itu , kakaknya Manus yang bernama  Maupelu "Lari-lari"  dengan cepat menuju sungai Loes dengan Kuda kesayangan sang Komandan (Kalunga). Benar saja yang dilihat, ternyata sejak fajar Komandan Manus sudah mencoba menyeberangi sungai Loes namun beliau tidak bisa menyeberang Karena tidak tahu cara berenang. 


Perlu diketahui bahwa, Pada kejadian tahun 1999, adiknya José Gringgo beserta ketiga temanya juga ikut tertembak di Suku Guiço pada 27 Januari 1999 ketika ia dan para Pemuda Pro Kemerdekaan menghadang Milisi Besi Merah Putih dan TNI dari Koramil Maubara yang menyerang Suku Guiço kemudian merusak Rumah Manus.


6. João Baptista, adalah Serdadu pemberani yang pernah kecewa terhadap Komandan Manus lantaran dua kali permintaannya untuk menembak pesawat Bronco milik TNI-AU di Sungai Loes ditolak oleh Manus dengan alasan pesawat tersebut terbang terlalu tinggi, percakapan João Baptista dengan Manus seperti berikut ini; 


"Komandante, a posi se" yang artinya, "Komandan, mohon izin untuk menembak" 


"Lobo ke u du rae rae" yang artinya "biarkan pesawat itu mendekat" 


"Komandante, kau limu glata se" yang artinya "Komandan, tangan saya sudah gatal" 


"Lobo ke u du pita snit" yang artinya " biarkan pesawat itu lebih dekat lagi". Namun pesawat tersebut malah berbalik arah dan kembali ke arah Cailaco.


7. Isidoro, adalah Serdadu Fretilin yang bermarkas di Kompanhia Bubu-Api, Beliau pernah menembaki sebuah pesawat milik TNI-AU yang terbang rendah di Pantai Vatuboro, pesawat yang ditembaki langsung mengeluarkan asap, dicurigai pesawat tersebut jatuh di Pantai Lauhata, Liquica. Namun info yang beredar dikalangan masyarat saat itu bahwa pesawat tersebut jatuh karena kehabisan bahan bakar. 


8. Maubusa Kabosu, adalah pengawal jarak dekat Manus, namun pada saat penyerangan ke Maubara tepatnya daerah Dubua-Lara (Vatu ha'e) Maubusa Kabosu tidak terlibat, hal ini dikarenakan pada saat mereka melakukan acara ritual ada tanda tanda buruk pada Maubusa Kabosu dan Victor (lihat kisahnya di nomor 4), Kabosu dipercayakan Manus dalam hal penyerangan jarak dekat oleh karena Kabosu sangat ahli dalam hal melemparkan Granat. Kabosu juga menceritakan bahwa sejak pertempuran tahun 1975 hingga 1979 ada sekitar 300 lebih Pasukan TNI yang terbunuh dan itu belum termasuk yang luka parah dan meninggal di Rumah Sakit Militer. Sumber lain juga mengatakan bahwa setelah kawasan Loes direbut  pada tahun 1979, jumlah personil TNI yang gugur menyentuh angkah 1000.


9. Kalunga, adalah Seekor Kuda kesayangan milik Komandan Manus yang dilatih khusus untuk pertempuran jarak menengah dan jauh, ketika Manus menjabat sebagai Komandante intervensaun sekaligus Segundo Comandante Brigada Xoque untuk kawasan Loes dan sekitarnya, Kalungga dan 50 ekor kuda lainnya dipakai untuk memburu  Militer Indonesia yang mencoba menyeberangi sungai Loes. Kuda kuda tersebut sangat mengerti keadaan Perang,  apabila terdengar bunyi senjata dalam jarak menengah atau jarak jauh Kuda Kuda tersebut khususnya Kalungga tidak bisa dikendalikan oleh orang lain kecuali oleh Sang Komandan, begitu sang Komandan berada diatas punggungnya, Kalungga akan berpacu bak kecepatan peluru menuju sumber bunyi tembakan.


Pada kejadian di Atabae ada beberapa anggota TNI yang gugur bersama José Gringgo di tempat tersebut, khususnya para anggota TNI yang berjalan mengawal Tank pertama yang melaju paling depan. Di tempat yang berbeda Komandan Malitara dengan anak buahnya ditugaskan untuk menjaga Sungai Loes dari serangan musuh. Setelah gagal merebut Atabae, Manus dan kelompoknya berusaha merebut kembali Kecamatan Maubara pada awal tahun 1977 namun gagal karena Manus tertembak di kawasan Dubua-Lara (Sekitar 2 km arah barat Benteng Maubara),  Manus harus dilarikan kembali ke Loes untuk pengobatan tradisional (hingga saat ini sebuah peluru masih bersarang di paha kirinya). 


Mendengar bahwa Komandan Manus terluka parah maka TNI yang bermarkas di Atabae dengan cepat menyerang Kompanhia Manus. Manus yang terluka parah menyerahkan tanggung jawab kepada Sang adik yakni Komandan Malitara untuk menhadang serangan TNI ke Markas Manus. Namun sial bagi Komandan Malis karena Beliau juga terkena tujuh tembakan di Kepala dan satu tembakan di kaki (Sampai saat ini bekas tembakan masih terdapat di kepala dan wajah Malis), Pertempuran yang berlangsung selama 24 jam tersebut membuat TNI terpukul mundur dan kembali ke Atabae.


Banyak anggota TNI yang gugur di depan markas Manus, dua buah Helicopter milik TNI dari Atabae dikerahkan ke  Guiço untuk mengevakuasi korban dari pihak TNI, informasi yang beredar saat itu bahwa Komandan TNI yang memimpin penyerangan tersebut  juga ikut tertembak di depan Markas Kompanhia Manus. Tidak ada angka pasti anggota TNI yang gugur di Loes secara keseluruhan namun menurut pengakuan Manus dan para Komandan lainnya bahwa angka kematian TNI di Loes cukup tinggi (dihitung dari tahun 1975-1979). Ada informasi dari sumber  yang berbeda, khususnya masyarakat Atabae yang berdomisili di sekitaran daerah Raerobo mengatakan bahwa saat penyerangan ke Markas Manus di daerah Guiço ada sekitar 40 sampai 50 mayat yang diangkut ke Raerobo kemudian diterbangkan ke Dili dan Atambua (kebanyakan beberapa orang partisan, hansip dan TBO).


Setelah Kompanhia Manus diserang, Komandan Malitara dipanggil oleh Komandan Sektor Sebastião Doutel Sarmento dan Xefe Estado Maior Domingos Ribeiro untuk diinvestigasi terkait kejadian tersebut namun karena bekas tembakan yang memenuhi Kepala dan wajah Malitara membuat mereka kebingungan, sambil bertanya, "Tansa mak Kilat ida o kaer nee rahun hotu maibe o nia ulun la rahun" artinya "Kenapa senjata yang kamu pakai hancur oleh tembakan musuh namun Kepala kamu masih utuh"?. Setelah menyaksikan kejadian tersebut Komandante Malitara mendapat kepercayaan untuk menggantikan posisi Komandan Alexandrinho Chaves di Kompanhia Bubu-Api yang bermarkas di Pantai Vatuboro dan Komandante Alexandrinho menempati posisi baru yakni Asistente Produsaun. Sedangkan Komandan Manus menjadi Komandan Movel yang bertanggung jawab atas wilayah Guiço hingga daerah Dair namun Manus sering dipanggil untuk membantu Pertempuran di Fatubessi - Ermera.


Dengan semangat juang yang tinggi, para Komandan dan Serdadu Falintil yang bermarkas di Loes dijuluki TNI dengan sebutan "Russia alias si Mata Putih". Istilah Russia diberikan kepada Manus dan kawan kawan karena TNI mencurigai adanya orang - orang Uni Soviet yang membantu mereka di kawasan tersebut sehingga sulit bagi TNI untuk menerobos kawasan Loes. Dua Kakak - beradik ini akhirnya tertangkap di kawasan Li'o daerah Guiço pada tanggal 14 Februari 1979 (Manus dan Malitara terjebak dengan skenario Skylight lalu tertangkap). Akhirnya Manus di jebloskan ke Penjara di Balide dan Colmera lalu diasingkan ke Pulau Atauro hingga tahun 1984 (Kisah pembuangan ke Atauro sudah pernah ditulis dalam artikel sebelumnya).


Sedangkan Malitara dipenjarakan di Liquica. Sepulangnya dari Atauro Manus tidak pernah luput dari pantauan TNI sehingga beberapa kali beliau kembali ditangkap dan disiksa dipenjara-penjara di Liquica dan Dili. Banyak penyiksaan yang Manus alami khususnya di dalam penjara Liquica, Balide dan Colmera Dili hingga mengakibatkan Gigi bagian depan Manus patah, Gigi Manus dipatahkan oleh seorang anggota Kopassus bernama Suroto di ruang penyiksaan Kotis, Colmera Dili (Bersebelahan dengan Kantor Pengadilan Dili saat ini).


Terakhir kali Manus ditangkap yakni pada tahun 1995 oleh Satuan Tim dari Kopassus yg berseragam sipil, untungnya sang sopir yang mengendarai mobil kopassus tersebut pendukung Pro Kemerdekaan, beliau secara sembunyi - sembunyi melaporkan penangkapan itu ke Almarhum Pastor Rafael di Liquica sehingga Manus tidak sempat di bawah ke Colmera Dili. Manus dibebaskan oleh Pastor Rafael saat akan diberangkatkan ke Dili, sang Sopir berjiwa patriot yang melaporkan kejadian tersebut bernama Maun Crispim (Seorang Pemuda Pro Kemerdekaan asal Liquica) Beliau dipaksa oleh Kopassus untuk berangkat ke Loes untuk menjemput secara paksa mantan Komandan Manus. Maun Crispim sering bercerita tentang kejadian mengerikan tersebut.


Pada awal tahun 1999 tepatnya 27 Januari 1999 (hari dimana opsi Referendum diumumkan oleh Presiden RI. Prof. BJ. Habiebie, alm.), Rumah Manus dihancurkan oleh Milisi Besi Merah Putih dibantu oleh TNI dari Koramil Maubara. Manus dan keluarganya mengungsi ke Liquica (depan lapangan sepak bola Liquiça) sedangkan Malitara dan keluarganya mengungsi ke kawasan Asulau - Ermera.


Rumah yang dijadikan tempat pengungsian oleh Manus dan keluarganya dibakar oleh Milisi Besi Merah Putih dan TNI dari Koramil Maubara pada tanggal 5 April 1999 atau sehari sebelum penyerangan Milisi dan TNI ke Gereja Liquica. Kemudian, Manus dan keluarganya berhasil meloloskan diri ke Dili pada tanggal 4 April namun dua orang anaknya tidak sempat melarikan diri dan memilih mengungsi ke Gereja Liquica, karena perlindungan Tuhan, kedua anaknya berhasil selamat dari pembataian di Gereja Liquiça. Di Dili, keluarga ini berpindah pindah tempat, dari satu tempat ke tempat yang lainnya untuk menghindari pencarian yang dilakukan oleh Milisi dan TNI dari Koramil Maubara. Hingga tanggal 30 Agustus 1999, Manus dan keluarga mengadakan pencoblosan suara di TPS Farol, bersama sama dengan beberapa orang pengungsi dari Liquica. Setelah pencoblosan mereka kembali mengungsi ke Dare (perbukitan Dili)  untuk menunggu hasil Jajak pendapat.


Dibalik pahitnya kisah diatas ada sebuah kisah yang penulis anggap sangat kocak, yakni ketika Manus dan anak buahnya tertangkap di kawasan Loes, waktu itu tidak ada yang bisa berbicara Bahasa Indonesia karena Bahasa Indonesia tidak pernah dipelajari oleh mereka, jangankan dipelajari mendengar pun belum pernah,  Oleh karena itu mereka saling bertanya, katanya "Nanti kalau ditanya kita bicara bagaimana"? (maksudnya bicara pakai bahasa apa), disaat mereka masih kebingungan Ayah dari Manus dan Malitara menjawab "Nanti bilang aja Konisua atau Oaio Gojaima" (Konichiwa dalam Bahasa Jepang artinya "Hallo atau Hi" sedangkan Ohayo Gozaimashu dalam Bahasa Jepang artinya "Selamat Pagi"), Beliau mencoba mempraktekan Bahasa Jepangnya tetapi aksen bahasa Tokodede (Bahasa Lokal Maubara) malah sangat kental sehingga terdengar sangat menggelitik. Kebetulan Ayah mereka berdua pernah menjadi pekerja paksa "Rody" waktu invasi Jepang ke Timor Portugis pada Perang dunia kedua sehingga Sang Ayah juga mengerti beberapa Kosa kata Bahasa Jepang. Namun sebelum proses investigasi dimulai Manus mengingatkan semua anggotanya dan masyarakat yang mengikutinya dengan pesan "Bila nanti kalian ditanya macam macam oleh Militer Indonesia, kalian bilang saja, Kami tidak tahu apa apa semua yang kami lakukan adalah atas Perintah Komandan Manus" dan benar saja ketika investigasi dimulai semua anggota dan masyarakat dibebaskan kecuali Manus dan Malitara langsung disiksa dan dijebloskan ke Penjara, beberapa kali Manus melewati masa masa sulit namun selalu luput dari upaya percobaan Pembunuhan.


Berikut adalah pembicaraan awal ketika Manus tertangkap, Seorang 

Komandan TNI mulai bertanya berkali kali kepada Manus;

"Apakah benar anda adalah Komandan Manus"? Pertanyaan ini diulang dua kali karena Sang Komandan TNI tidak yakin bahwa yang sedang berada dihadapannya adalah Komandan Manus yang dikenal sangat ganas dan berbahaya di kawasan Loes (Tiap kali pertempuran Manus tidak pernah membungkuk apalagi bergulingan ditanah, Beliau selalu berdiri dengan tegap dan kadang beliau menembak dari atas kuda), lantaran info yang beredar di Atabae bahwa Komandan Manus adalah orang Russia bermata putih , namun yang sedang berada dihadapannya malah bermata hitam, Karena tidak percaya Komandan TNI tersebut mencoba menelpon ke Atabae bahwa Komandan Manus sudah ditangkap tapi dia tidak bermata putih melainkan Bermata hitam, kebetulan di Atabae ada keluarga Komandan Manus yang bernama Bapak Manuel Maia, Bapak Manuel Maia meminta agar Komandan TNI tersebut menyerahkan Telepon (HT) ke Manus agar beliau berbicara langsung dengan Manus. Saat berbicara dengan Manus, beliau katakan pada Manus bahwa "Sakana, Haruka sira fihir didiak O nia matan nee, tanba hau dehan bebeik ba sira katak Manus nee ema Timor Oan maibe sira la fiar, sira dehan iha Loes laos ema Timor Oan mak iha neeba maibe ema Russia" terjemahan dalam Bahasa Indonesia "Suruh mereka (TNI) menatap baik baik mata kamu, Karena sudah berkali kali saya katakan bahwa di kawasan Loes tidak ada orang Russia tapi mereka tidak percaya". Kemudian Manus tersenyum sambil berkata kepada Sang Komandan TNI tersebut "Sou Comandante Manus".


Ada sebuah kisah lagi yang membuat Manus sangat kaget hingga tak bisa berkata kata yakni saat seorang perwira TNI bernama Sunardi berjalan mendekati Manus secara blak-blakan membeberkan kisah Manus dan Komandan Alexandrinho Chaves saat mereka berdua masih "jomblo" di Dili, bahkan dia tahu dengan sangat jelas tempat dimana mereka biasa nonkrong, bekerja bahkan tempat tinggal mereka, berikut ini adalah kata kata yang dilontarkan oleh Sunardi; 


"Molok funu hahu ami iha nee tiha ona, ami hatais lipa, haklili kohe, mama malus, faan roupa la'o tama sai bairo, hau  hatene uluk ó nee Policia, Alexandrinho Chaves imi nain rua hela iha Formosa,  depois mak o muda ba hela fali iha Bebora, ikus liu muda ba Maloa, Alexandrinho nia namorada mos hau kuñese. Imi la kunhese ami maibe ami kunhese imi" artinya "Sebelum perang dimulai kami sudah ada di sini, Kami berpakaian dan berperilaku ala orang pribumi sehingga gerak gerik kami tidak dicurigai, saya tahu kamu adalah seorang polisi yang tinggal bersama sama dengan Alexandrinho Chaves di Formosa, kemudian kamu pindah ke Bebora lalu menetap di Maloa". Manus terdiam membisu mendengar pengakuan Sunardi yang sangat detail dan fasi berbahasa Tetun tersebut.


Setelah tertangkapnya Manus dan Malitara beserta anak buahnya, maka jalur darat dari Atabae menuju Dili kembali dibuka pada tahun 1979. Sekedar informasi tambahan bahwa; Pada pertengahan tahun 1976, Manus dan anak-buahnya pernah diajak oleh Bapak Floriano Chaves untuk mundur ke Centro Lestre (Sektor tengah dan Timur) untuk bergabung dengan kelompoknya Komandan José Cirillo "Maubrani" namun Manus menolak. Ketika Bapak Floriano Chaves ingin beranjak dari kawasan Loes Manus sempat mengingatkan Beliau untuk mengurungkan niatnya. Kedekatan Manus dengan Floriano Chaves membuat Manus menempati beberapa posisi penting sehingga Manus rela melepaskan seorang Anak buah kepercayaannya untuk mengawal Floriano Chaves. Sebelum berpisah Manus berpesan pada pengawal tersebut "Molok ó nia Tio (Floriano Chaves) mate, ó tenki mate uluk" atau dalam Bahasa Indonesia "Pastikan sebelum Pamanmu (Floriano Chaves) gugur kamu harus lebih dulu mati". Informasi mengenai kematian Beliau masih simpang-siur, ada informasi yang mengatakan bahwa Beliau tertembak di Buikaren (Viqueque) saat Beliau sedang mandi namun kebenaran berita tersebut masih diragukan. Perlu diketahui bahwa Bapak Floriano Chaves adalah salah satu toko pendiri Partai ASDT/Fretilin bersama beberapa toko penting lainnya.


Penulis berharap ada mantan Veteran Seroja di Group ini yang dulu pernah terlibat dalam pertempuran dan penangkapan Komandan Manus dan adiknya di Loes, bisa menceritakan versi anda di Group ini agar tidak terjadi kesalahan informasi. 


Berikut ini adalah nama nama para serdadu Fretilin yang bermarkas di Kompanhia Manus.

1. José Lino dos Reis alias Manus alias Manu-Kiak semo nafatin

2. Emilio "Serawe" (2' Comandante)

3. Thomas S.Nunes "Malis Kaitara"

4. Dasilelo

5. Daniel "Manu-Meta"

6. Manuel Silva "Saruntu"

7. Elves "Mau-Dato"

8. Acaçio

9. João Baptista "Mada-Ulu"

10. Alarico "Xamana"

11. Aquiles

12. Maubusa "Kabosu"

13. Manuel "Batu-Buti"

14. Mau-Loe

15. Bakasa

16. Bau-Ana "Lari-Lari"

17. Gilberto

18. Loro-poku

19. Abilio "iro dasa"

20. José Gringgo (Martir)

21. Victor (Martir)

22. Maukuru (Martir)

23. Doti - Ana (Martir)

Dan masih ada banyak lagi lainnya yang tidak sempat disebutkan namanya disini.


Jabatan yang pernah disandang oleh Komandan Manus antara lain.


1. Komandan Peleton (CIA 42) sekaligus sebagai penanggung - jawab medis/kesehatan Falintil untuk zona Maubara yang berpusat di Kompanhia Tata-Bei. Jabatan sebagai penanggung-jawab medis diserahkan secara langsung oleh Bapak Presiden Nicolau Lobato.


2. Komandan Instructor di Companhia Keta bok


3. Komandan Kompanhia Manus sekaligus sebagai Komandan Kavaleri untuk zona Centro Fronteira Norte dan juga sebagai Wakil Sekretaris Zona Maubara (1976)


4. Wakil Komandan Brigada Choque (Pasukan Intervensi Gerak Cepat) untuk zona Loes dan sekitarnya dan ini adalah jabatan terakhir Beliau sebelum tertangkap dalam operasi Skylight atau yang lebih dikenal dengan istilah Aniquilamento.


5. Pada Masa Masa Clandestine tepatnya pada tahun 1993, Manus pernah menjabat sebagai Sekretaris Zona Maubara, posisi ini diberikan oleh Komandan Nino Konis Santana, namun Karena penangkapan dan siksaan yang terus dialami oleh Manus, akhirnya posisi sebagai Sekretaris Zona diambil alih oleh Sepupu Manus yang bernama Feliz da Costa "Anin Buras" dan Manus menempati posisi Vice Sekretaris Zona hingga masa Referendum 30 Agustus 1999.


Keterangan singkat mengenai Kode; MANUS adalah singkatan dari MANU KIAK SEMO NAFATIN, dalam bahasa Indonesia berarti "Burung yang terbang tanpa lelah"  sedangkan MALITARA atau MALIS KAITARA yang artinya "Senyuman berduri" 


(Heroi sem nome Part 3)


Penulis  : José Violante Silva Reis #JVshare


Sumber : 

1. José Lino Reis "Manus" (Alm)

2. Thomas "Malitara"

3. Emilio "Serawe"

4. Leonel de Carvalho "Maubuti"

5. Manuel Maia (Alm) 

6. Abilio "iro dasa"

7. Paulina da Silva (istri Alm. Manus)

8. Masyarakat Loes

9. Lain - lain.

Wednesday, 4 December 2024

𝐗𝐀𝐕𝐈𝐄𝐑 𝐃𝐎 𝐀𝐌𝐀𝐑𝐀𝐋 𝐔𝐌 𝐍𝐀𝐂𝐈𝐎𝐍𝐀𝐋𝐈𝐒𝐓𝐀 𝐏𝐔𝐑𝐎. (Parte2 hotu)

 


Ho nune'e, maka Comandantes sira hato'o katak ita PRECISA TEBES HUSU APOIO husi Exterior, la'e ita

sei la iha kbit atu hasoru inimigo.

Presidente Francisco Xavier do Amaral mak dirige ho Vice-Presidente Nicolau dos Reis Lobato, ho presença husi Comissários Mau Lear, Sahe, Hata no seluk tan, nebé iha hotu iha nebá hodi discute assunto

importante tebes ne'e.

Depois de rona tiha explicação husi Militares sira, tama ona iha discussão atu husu apoio ba País ida nebé. Iha tempo nebá, tempo 'Guerra Fria' no Mundu fahe ba rua 'Capitalista no Socialista'.

Tanba FRETILIN ninia ideologia marxistaleninista, membros CCF hasai kedas decisão atu sei la husu apoio ba Países capitalistas, hanesan Austrália, América no Europa no Rai sira nebé tuir capitalismo.

Ko'alia kona-ba Russia no China, maibé, tanba iha fulan Janeiro, Vice-Presidente Nicolau Lobato ko'alia, liu husi Rádio, ho Ministro de Defesa, Rogério Lobato, ne'ebé reconhece katak Russia la fó no China ho Vietnam fó, maibé atu tula mai TL mak problema, possibilidade husi Parte Socialista la fó garantia ita bele hetan apoio - iha conversa ne'e, nebé hala'o iha costa sul, áreas Besusu nian, ha'u mós iha nebá.

Militares sira exige tebe-tebes tenki iha Apoio Militar, husi Rai Liur, tanba lae ita sei la consegue aguenta funu hasoru TNI.

mak ne'e

Ho discussão nebé la la'o ba oin, Militares sira começa nervosos oitoan ona, no Presidente Xavier do Amaral, fó razão ba sira hodi dehan "problema agora ita hakarak manán funu ka lae? Se ita precisa kilat ho kilat-musan atu bele hasoru inimigo, Comité Central iha responsabilidade atu haré ba ida ne'e. Ita lalika hanoin atu husu apoio ba deit Países socialistas. País ida nebé hakarak fó, ita simu, tanba ita precisa atu bele aumenta ita-nia capacidade resiste ba ataques nebé inimigo halo hodi oho ita-nia população".

Ho liafuan sira ne'e sai husi Presidente Xavier do Amaral, Comissários sira começa ataca Xavier do Amaral, hodi tama fali ona iha discussão ideológica, iha Reunião nebá. Militares sira, ho frustrados tebes, sai husi Reunião ho hirus oitoan, hodi fila deit ba ida-idak nia fatin, sem despede tan.

𝐒𝐎𝐈𝐁𝐀𝐃𝐀

Iha fali fulan Maio, tinan 1976, CCF hala'o Reunião iha Soibada. Reunião ida ne'e, husi nível estratégico, importante tebes duni, tanba hasai Estratégia kona-ba Funo Resistência, iha áreas política no militar, hodi fahe TL ba Comissariados no Sectores Militares 6, ne'ebé halibur - iha Fronteira Norte: parte norte Bobonaro, Ermera no Liquiçá; iha Fronteira Sul:


Suai, Ainaro no parte sul Bobonaro; iha Centro Norte: Dili, Aileu no parte norte Manatuto; iha Centro Sul: parte sul Manatuto no Manu Fahi; iha Centro Leste: Baucau no Viqueque no iha Ponta Leste: Lautém).

Divisão territorial ida ne'e mak hatúr lolós responsabilidades ba Ema ida-idak, nudar Quadro político ka Quadro militar.

Maibé, Reunião ne'e la'o ho ambiente político ida ne'ebé la sadio liu. Comissários Políticos no sira-nia Adjuntos, nebé decora Marxismo, ataca Presidente Xavier do Amaral, bain-hira nia ko'alia contra ideologia marxista, ne'ebé habelar tiha ona iha TL tomak, katak 'Maromak la iha', 'lalika fiar na'i-lúlik sira', 'lalika halo tuir tradição no cultura timor' no buat seluk tan. Presidente Xavier do Amaral defende maka'as independência, iha democracia nia laran, tanba ne'e maka mosu ASDT, maibé bain-hira camaradas sira ko'alia la pára, hodi hatún tiha ninia hanoin kona-ba estado, independência, tradição no cultura, Presidente Xavier do Amaral hili atu nonok deit. Ho ne'e, iha loron ikus tuir mai, Presidente Xavier do Amaral, loke no taka deit Reunião no prefere la ko'alia, hodi labele fó fatin ba marxistas sira hanorin ideologia comunista.

Nune'e, ho sentimento frustração, depois de hasa'e Bandeira Nacional iha loron 20 de Maio, Presidente Xavier do Amaral hili atu fila ona mai Turiscai. Militares sira, nebé bá mós partisipa atu foti fila fali problema boot Funu nian, kona-ba Material, hasai comentários oi-oin kona-ba situação nebé mosu no sai kedas husi Soibada ba fali sira nia fatin ida-idak.


𝐋𝐀𝐋𝐈𝐍𝐄

Iha fulan Maio 1977, Comité Central Fretilin hala'o fali Reunião ida iha Laline.

Lolós, Reunião né atu halo Análise kona-ba desenvolvimento Funu-nian, iha avanços ka iha recuos, dificuldades mak sá-ida, ita-nia kbit to'o iha nebé. Maibé, Comissários sira usa tempo liu atu hato'o no hanorin ideologia marxista-leninista.

Presidente Xavier do Amaral la bá. VicePresidente Nicolau Lobato mak preside reunião né.

Maibé, tanba mosu la entende malu entre VicePresidente Nicolau, nebé ema religioso tebes, ho Comissários Políticos, nebé la fiar Maromak, sira obriga Nicolau Lobato la sai husi ninia quarto, labele ko'alia ho ami no impede ami atu hakbesik-an ba Nicolau.

Nicolau Lobato la bá ona participa iha Reunião no Comissários Políticos marxistas sira mak dirige reunião ne'e. Ikus ona, quando hotu-hotu simu katak atu cria Partido Marxista-Leninista FRETILIN, mak sira convence Nicolau hodi ba Reunião. Iha ne'é, ami barak haré katak Nicolau Lobato simu PM-LF, hodi lalika entrega ba sira processo político tomak, nune'e nia mós simu ho liafuan nune'e: "Ha'u declara katak ha'u simu decisão nebé hasai iha ne'e, atu harí PM-LF. Iha Bazartete, ha'u nia família iha plantação de café. Bain-hira, ita manán tiha funu, ha'u sei entrega tomak plantação de café ne'e ba Estado". Comissários Políticos sira basa-liman ho contente. Comandante Hermenegildo mak hasai comentário ida: "ohhhh... nune'e, ita sei bá situação ne'ebé ha'u-nia fen ninia brincos mos tenki entrega ba Estado".

Ami barak mak tahan, atu labele hamnassa, tanba hamnassa karik, duni sai kedas ami husi CCF.

No sai mós decisão atu Membros CCF hotu-hotu tenki tuir curso Marxismo, ne'ebé Comissário Hata mak sei dirige; la consegue hala'o plano ida ne'e, tanba inimigo mós hahú tuir kedas ninia Campanhas de Destruição e Aniquilamento, hodi halakon tiha Bases

de Apoio no controla população tomak.

𝐗𝐀𝐕𝐈𝐄𝐑 𝐈𝐇𝐀 𝐃𝐀𝐃𝐔𝐑

Ami mós buka recolhe informações kona-ba tanba sá-ida mak Presidente Xavier do Amaral la bá Reunião iha Laline no problema, nebé hahú iha Soibada, ninia hun mak sá-ida lós.

Presidente Xavier do Amaral hela deit iha Turiscai. Lós, maibé nia simu ema barak nebé bá ko'alia ho nia, liuliu Quadros Militares, hodi fó informação barak kona-ba actuações Quadros FRETILIN nian, ne'ebé Xavier do Amaral la concorda:

-nia la simu, kaer no dadur maluk sira, militares ka civis, nebé lakohi kumu liman;

-nia la simu, hasai tiha Comandantes Sectores nebé di'ak no oho inimigo barak, tambá deit sira lakohi temi liafuan 'camaradas' no lakohi 'kimu liman';

-nia la simu, bolu traidor ema nebé bele nacionalista, maibé lakohi tama iha Fretilin;

-nia la simu, propaganda ideológica katak Maromak la iha;

-nia la simu, propaganda katak 'liurai' no 'chefes suku' sira la iha no tenki halakon.

- nia la simu ideologia marxista-leninista.

Depois de haré katak ita-nia Forças la iha capacidade militar atu defende ita-nia população, hanoin boot ida ne'ebé Presidente Xavier do Amaral defende maka atu 'haruka população bá rende, hodi evita sira terus barak tan no mate barak tan'. Ne'e contra liu CCF, tanba CCF nia palavra de ordem maka: 'Mate ka moris, ukun rasik-an!'

Comissários Políticos marxistas sira começa haré Presidente Xavier do Amaral ninia influência liuliu ba Militares sira. Nune'e, iha Julho 1977, Comité Central FRETILIN decide atu kaer nia, sulan iha dadur, hodi

baku loro-loron deit.

Ami hotu, iha fatin nebé deit, husi Lorosa'e to'o Loromonu, triste tebes bain-hira rona katak kaer tiha Xavier do Amaral no sulan tiha, hodi baku, hanesan baku animal. Maluk barak mos tama iha dadur, hamutuk ho Xavier do Amaral.

Inimigo mós hahú kedas ninia Operação Estratégica, hodi sobu Bases de Apoio. Iha fins de 1978, Bases de Apoio hotu rahun, população rihun ba rihun mak mate, tanba bomba, morteiros, kilat musan no tanba hamlaha no moras. Forças barak mak rende, membros Comité Central barak mak mate, balun rende, no iha foho população la iha tiha deit.

Agora, ita bele hanoin hetan sá-ida maka Presidente Xavier do Amaral dehan, antes de Comissários marxistas sira dadur nia, hodi bolu nia 'traidor'. Nia dehan atu 'husik população ba rende, hodi evita ema barak bele mate, tanba ita-nia Forças la iha kbit atu protege sira'.

Inimigo hetan Xavier do Amaral, iha rai-kuak laran iha nebé nia dadur, hodi hasai nia. Krekas at liu, inimigo mak haruka halo tratamento hudi cura tiha nia.

Ita bele dehan katak Inimigo mak salva tiha nia.

Depois de inimigo kaer tiha ha'u, iha ona Jakarta, antes de ha'u-nia julgamento iha Dili, Xavier do Amaral bá hasoru ha'u. Ami la ko'alia barak, maibé nia fó hatene deit mai ha'u katak, iha tempo nebé difícil tebes ba nia, iha ai-laran, nia nunca lakon esperança atu Timor bele ukun-an. Nia husu ba ha'u atu metin nafatin ba objetivo ukun-an iha democracia nia laran.

𝐓𝐄𝐌𝐏𝐎 𝐔𝐊𝐔𝐍 𝐀𝐍.

Depois de Referendo, nia bá hasoru ha'u hodi dehan katak nia hakarak fila ba FRETILIN. Ha'u concorda no dehan ba nia katak ha'u labele ajuda, tanba ha'u sai tiha ona husi FRETILIN. Iha Conferência FRETILIN, iha 2000, iha GMT, nia lakon no nia bá fali ha'u hodi informa katak nia sei harí fali ASDT.

Iha 2002, ho pressão husi Primeiro-Ministro Japão, Menko Susilo Bambang Yudoyono iha tempo Presidente Megawati, no Collin Powel, Secretário Estado EUA, nebé exige lós ba ha'u atu sai Presidente da República, pelo menos tinan 5, hodi hametin tiha reconciliação ho Indonésia no, ikus ona, SecretárioGeral ONU, Koffi Annan, mos telefona husi Nova lorque, exige lós atu candidata-an atu sai PR, tinan 5 deit, maka ha'u mos ba regista atu candidata ba eleições presidenciais iha 2002. Ami na'in rua, Xavier do Amaral, bá vota hamutuk iha fatin ida deit no ha'u fó ha'u-nia voto ba nia.

Iha IV Governo, depois de halo tiha estátua ba Nicolau Lobato, ami decide atu halo ba Xavier do Amaral, nudar Proclamador da Independência de Timor-Leste. Hetan oposição husi grupos políticos balun, maibé bele to'o aceita katak ita tenki rai hela factos importantes ita-nia história-nian ba Geração foun nebé mai.

Ohin, ita hotu contente, bele estátua Xavier do Amaral, nebé ha'u considera hanesan NACIONALISTA PURO, bele hamrik iha cidade Dili hodi motiva Juventude Timor Lorosa'e atu tuir princípios políticos no morais nebé lós no diak.

𝐎𝐁𝐑𝐈𝐆𝐀𝐃𝐎 𝐖𝐀𝐈𝐍!

𝐗𝐀𝐕𝐈𝐄𝐑 𝐃𝐎 𝐀𝐌𝐀𝐑𝐀𝐋 𝐔𝐌 𝐍𝐀𝐂𝐈𝐎𝐍𝐀𝐋𝐈𝐒𝐓𝐀 𝐏𝐔𝐑𝐎. (Parte 1)


 𝙿𝙾𝚁 𝙴𝚂𝙲𝚁𝙸𝚃𝙾.

𝙼𝙰𝚄𝙽 𝙱𝙾𝙾𝚃: 𝙺𝙰𝚈 𝚁𝙰𝙻𝙰 𝚇𝙰𝙽𝙰𝙽𝙰 𝙶𝚄𝚂𝙼𝙰𝙾.

Ha'u tenki declara katak lolós Ema seluk nebé besik liu Presidente Xavier do Amaral mak tenki ko'alia kona-ba nia.


Ha'u conhece Xavier do Amaral, nudar timoroan matenek ida, nebé atu sai ona Nai-Lúlik, hili hola feto no la hetan ordenação. Nia tama serviço iha Alfândega no ema hotu conhece nia, tanba dala barak ko'alia kona-ba portugueses sira ninia hahalok iha ne'e.


Iha Abril 1974, mosu Revolução dos Cravos iha Portugal. Iha Timor, iha ona liberdade atu ko'alia abertamente hasoru colonialistas sira, no liberdade atu ko'alia kona-ba futuro ita-nia Rain nian.


Ha'u como sinti-an la serve ba política, ha'u buka acompanha no haré Movimentos políticos oi-oin nebé mosu. UDT, nebé, foufoun, hakarak hamutuk nafatin ho Portugal. Mosu tan APODETI, hakarak integração ho Indonésia, nune'e mós ADITLA hakarak integra ba Austrália.


Hodi acompanha processo ne'e, mak rona katak ASDT mosu iha 20 de Maio no hakarak Ukun-an. Rona


katak Francisco Xavier do Amaral mak sai Presidente ASDT.


Iha fulan Maio, ha'u sai husi servisu iha administração colonial, iha ne'ebé ha'u responsável ba Finanças. No, hanesan ha'u temi ona, ha'u sinti katak ha'u labele tama ba política, tanba la hatene buat ida. Nune'e ha'u hili ba Darwin, buka servisu, hodi halibur osan, bele fila fali atu investe iha sector privado.


Iha Darwin, malae balun liu husi nebá, atu fila ba Portugal, hodi ha'u rona katak ASDT muda ba FRETILIN, iha 11 de Setembro de 1974, katak, husi Associação Social-Democrata de Timor passa ba Frente Revolucionária de Timor-Leste Independente.


Fila mai Dili atu lori família ba Darwin, maibé Ciclone boot, Tracy, harahun tiha Darwin no ha'u labele fila, nune'e buka servisu oi-oin to'o sai tiha jornalista, hodi acompanha situação política iha Timor.


𝐆𝐎𝐋𝐏𝐄 𝐊𝐎𝐍𝐓𝐑𝐀 𝐆𝐎𝐋𝐏𝐄.


Situação começa manas, tanba Movimentos políticos sira começa critica malu no sira-nia militantes sira haré malu la diak ona. Iha fulan Julho 1975, ameaças oi-oin, ema baku malu, no tanba ha'u simpatiza ho FRETILIN iha hanoin Ukun-an, ha'u husik hela ha'u-nia família iha Farol, tanba knuk UDT nian, no ha'u halai bá hela tiha iha Sede Fretilin, maka Xavier do Amaral ninia uman, iha Santa Cruz.


UDT halo nia golpe iha fulan Agosto no careta la'o hale'u Dili hodi hakilar 'Golpe Anti-Comunista'. No, iha loron ida, camioneta rua ho tropa timoroan mosu, no sr. João Carrascalão, Comandante Polícia, major português ida, ho tan Capitão Lino, oficial português, nebé lori forças sira né husi Baucau, bá to'o sede Fretilin no ha'u mesak mak hamrik iha nebá.


Sira hakilar no haruka hatún bandeira Fretilin no ha'u dehan lae, no sira rasik mak hatún, no kaer ha'u ba dadur iha Palapasu, iha nebé Quadros no militantes Fretilin barak nebé UDT kaer iha fatin-fatin, hodi baku no tebe.


Membros CCF (Vice-Presidente Nicolau no sira seluk tan), nebé ha'u rasik maka ajuda lori ba subar iha Mota Ulun, halai liu ba Aileu no iha nebá halo Insurreição Armada ho Companhia Aileu no, nune'e, hahú Contra-Golpe. Ho contra-golpe, UDT lakon no halai ba Fronteira hodi tama ba Kefa no Atambua.

Ha'u temi buat sira ne'e, tanba ho buat sira nebé acontece ne'e, maka CCF hatama ha'u iha Comité Central maski ha'u lakohi, hodi dehan ba sira katak sira la konsulta tan ha'u. Nudar jornalista, maka CCF fó Secção Informação atu kaer. Ha'u tama tiha iha Comité Central Fretilin, maka ha'u bele conta histórias sira nebé tuir mai ne'e.


Ho situação controlada ona, Xavier do Amaral tun ba Dili no hela iha Lahane. Iha nebá, mak iha Reunião CCF, hodi decide kona-ba Loron Proclamação no ha'u simu Texto Proclamação atu halo no imprime iha Imprensa.


No, iha 28 de Novembro de 1975, iha Palácio do Governo, halo Cerimónia Proclamação Unilateral da Independência, texto nebé Xavier do Amaral lê no assina.


Nudar jornalista, ha'u halo duni filme ida ba Cerimónia ne'e tomak, maibé ho invasão 7 de Dezembro lakon tiha deit, tanba rai hela iha uma.


𝐈𝐍𝐕𝐀𝐒𝐀𝐔𝐍


Iha 4 de Dezembro, ami membros CCF lubuk ida maka bá Lois, hodi acompanha companhias Falintil, ho Cmdt. Hermenegildo mak comanda iha nebá, ne'ebé buka atu hapára avanço inimigo-nian nebé hola ona Atabae to'o mota sorin. Tanba udan maka'as, TNI iha mota sorin loromonu no Falintil iha mota sorin mai.


 Iha 7 de Dezembro, dadersan nakukun, ami rona aviões lubuk ida liu husi ami nia leten. Kala tuku 8 ka tuku 9, Cmdt. Hermenegildo fó hatene katak inimigo tun, ho paraquedas, hahú invasão iha Dili laran tomak. Nia buka bá to'o Dili, maibé loraik nia fila ona, informa katak nia to'o deit Tibar, ema halai sai husi Dili. Tuir nia simu informação, husi 'racal', membros CCF mós sésan ona ba Aileu. Nune'e mak, ami decide atu fila kedas no liu ba Aileu. To'o iha Aileu, mak hatene katak VicePresidente Nicolau no membros CCF seluk iha hela Laulara. No ami mós tun to'o Laulara.

Liu tiha loron hirak, Xavier do Amaral liu husi Laulara atu bá Dili. Forças sira haruka pára, membros CCF bá ko'alia ho nia, nia exige lós atu ba Dili: 'ha'u tenki ba, atu hasoru ho indonésios sira hodi haruka sira fila, tanba ne'e invasão'. Depois de CCF convence tiha nia, maka Xavier do Amaral fila fali mai Turiscai.


Inimigo mós avança daudauk, hola tiha Aileu. Iha Maubisse, CCF halo reunião hodi decide katak ami, membros CCF, tenki namkari no ida-idak ba ninia fatin hodi organiza população no acompanha forças sira nebé iha nebá. Ha'u liu husi Turiscai, mai duni hasoru Xavier iha ninia uma, ba Fatu Makerek, liu husi Laclúbar, Cribas no bá liu Marabain.


𝐅𝐀𝐓𝐔𝐁𝐄𝐑𝐋𝐈𝐔


Iha fulan Março 1976, husi Marabain, Manatuto, ha'u mós ba Reunião Comité Central FRETILIN nian, ho Comandantes sira, iha Fatu Berliu.


Comandantes FALINTIL nian, hotu-hotu exSargentos husi Exército português, balun sai Comandantes de Sector, haré tiha ba funu ninia desenvolvimento, husu Reunião ne'e atu hato'o sirania preocupação. Iha nebá, assunto boot maka tenki 'Husu Apoio Militar husi Rai Liur'.


Nune'e, Comandantes sira, nudar militares nebé comanda funu, fó hatene ba CCF katak sira preparado atu lori soldados sira halo funu hasoru TNI, maibé problema boot liu mak kilat no kilat-musan ka munições. Kilat barak nebé FALINTIL kaer, kilat sira né marca G3, nebé Exército português rai hela no, ho tempo, sei at daudauk no la iha peças atu troca. Konaba munições G3 nian, ho tiru malu ho inimigo, menos ba beibeik ona no, karik ita captura kilat foun, hanesan AR15, labele usa munições sira ne'e ba G3.

Saturday, 11 November 2023

7 Tanda Pertemanan yang fake atau palsu

 Tanda-tanda pertemanan yang fake atau palsu dapat bervariasi, tetapi berikut adalah beberapa tanda umum yang mungkin menunjukkan bahwa seseorang tidak benar-benar menjadi teman Anda:

  1. 1. Hanya muncul saat butuh sesuatu:

  2. Jika seseorang hanya datang kepada Anda ketika mereka memerlukan bantuan atau keuntungan dari Anda, tetapi tidak ada saat Anda membutuhkan dukungan atau persahabatan, ini bisa menjadi tanda pertemanan palsu.


  3. 2. Tidak pernah inisiatif:

  4. Jika Anda selalu yang harus mengambil inisiatif untuk menghubungi atau berinteraksi dengan mereka, sementara mereka jarang atau tidak pernah melakukan hal yang sama, itu bisa menandakan ketidakpedulian atau ketidakberminatan mereka dalam pertemanan.


  5. 3. Teman-teman yang negatif:

  6. Pertemanan yang sehat seharusnya membuat Anda merasa positif dan didukung. Jika teman Anda selalu negatif, mengkritik, atau merendahkan Anda, itu mungkin pertanda bahwa mereka tidak peduli dengan perasaan Anda.


  7. 4. Tidak ada kejujuran atau kepercayaan:

  8. Pertemanan yang baik dibangun di atas kejujuran dan kepercayaan. Jika seseorang sering berbohong, bersembunyi, atau tidak dapat diandalkan, itu bisa menjadi tanda bahwa pertemanan mereka palsu.


  9. 5. Tidak ada dukungan emosional:

  10. Teman sejati biasanya bersedia mendengarkan, memberikan dukungan emosional, dan bersedia membantu saat Anda menghadapi kesulitan. Jika seseorang tidak peduli dengan perasaan Anda atau tidak pernah ada ketika Anda butuhkan mereka, pertemanan tersebut mungkin palsu.


  11. 6. Persaingan dan hasrat:

  12. Jika seseorang selalu bersaing dengan Anda, berusaha menjatuhkan Anda, atau selalu berusaha untuk mengungguli Anda, itu mungkin tanda bahwa mereka tidak benar-benar teman sejati.


  13. 7. Mementingkan diri sendiri:

  14. Pertemanan yang sehat melibatkan saling memberikan dan menerima. Jika seseorang terus-menerus hanya memikirkan diri mereka sendiri, tanpa memperhatikan atau memikirkan kebutuhan dan keinginan Anda, itu bisa menunjukkan ketidakpedulian terhadap pertemanan.

Selalu penting untuk mengevaluasi pertemanan Anda dan memastikan bahwa mereka memberikan nilai positif dalam hidup Anda. Pertemanan yang baik harus didasarkan pada rasa saling menghormati, dukungan, dan kedekatan yang tulus. Jika Anda merasa pertemanan Anda tidak sejalan dengan nilai-nilai ini, pertimbangkan untuk menjalani pertemanan yang lebih sehat dan bermakna.

Wednesday, 31 March 2021

FUNU CAILACO (1725 TO'O 1726


 Kona-ba revolta boot ne’ebé liurai Loro-Monu sira halo hasoru malae-mutin, Padre Artur Basilio de Sá, hakerek livru ida, ho títulu: “A Planta de Cailaco 1927" (1949). Planta ne’e, dezeñu ida ne'ebé ema Goa ida mak pinta kona-ba asaltus forsas governu halo hasoru asuwain Loro-monu iha foho Cailaco (Kailaku).


Ita hatene ona katak governadór Jácome Morais de Sarmento (1706-1710) haruka kobra impostu. Reinu hotu-hotu selu impostu atu defende Prasa Lifau. Reinu balu la konkorda. Liurai balu mós la konkorda ho governadór António d’Albuquerque Coelho (1722-1725) ne’ebé duni sai hosi Lifau amu Bispo Dom Frei Manuel de Santo António.


Iha tinan 1719, liurai Camanasse halibur liurai balu iha ne’ebá atu estabelese aliansa (saun). Sira oho asu aman makerek ida (mutin-mean); hafoin sira hemu asu ne’e nia ran kahur ho tua mutin; tuir mai sira kombina atu duni sai malae portugés hosi Timor; sira hakarak duni sai mós amu-lulik dominikanu no sobu uma kreda no kapela; duni-sai mós ema hosi Larantuka.


Iha tinan 1722, reinu Luca hahú revolta hasoru governu. Entretantu, governador António d’Albuquerque Coelho haruka kapitaun Joaquim de Matos no soldadu sira atu hahú kobra impostu iha reinu sira, iha Provínsia Servião. Maibé, Liurai Lolotoe la simu orden governu nian, no duni Kapitaun Joaquim to’o Batugadé. Liurai Camanasse revolta, hodi hamriik funu hasoru governu: Nia bolu liurai sira hosi Lamaquito (ou Lamak-Hituka, Bobonaro), Lolotoy, Caelaco, Lohitu (Leo-hitu), Sanier (Sanir), Atsave (ka Atesabe), Lâmean (Lei-Mean), Asafonara, Dirivate (Diribate), no Hera-Mera, Nusadilla, Clora, Letipho (Letefoho), Marobo, no seluk tan. Liurai “revoltosos” sira ne’e iha planu atu harii iha Timor impériu tolu: Sonobai (Sombai), Camanasse no We-Hali.


Funu hahú iha tinan 1725, iha Cailaco. Liurai sira ne’ebá hetan tulun hosi Dom Francisco Hornay, hosi Oe-Kusi no ema Larantuka.


Funu-nain timor hahú sobu uma-kreda, harahun estátua no kruz, na'ok no sobu sasán misa nian, oho amu-lulik nain rua: padre Manuel Roiz no padre Manuel Vieira, no sarani barak.


Entretantu to’o iha Liafau Governadór António Moniz de Macedo (1726-1728). Liurai balu, hanesan Dom Francisco Hornay hakarak buka paz (maibé laran rua-rua ka finjidu), ba “presta vassalagem” ba governadór foun. Maibé, liurai balu halibur ema funu-na’in rihun haat (4.000), hodi ba monta kuartel-jeneral iha foho Cailaco, hanesan reinu Lamaquito no Caelaco. Liurai Cailaco naran Dom Aleixo no Dato Laku-Mali sai hanesan ulun boot ka komandante ba revolta hasoru malae-mutin..


Haree ba situasaun ida-ne’e, governu husu liurai balu atu funu hasoru “revoltosos” sira: reinu Maubara ho nia liurai Dom Francisco Xavier; reinu Viqueque ho nia liurai, Dom Vasco dos Santos Pinto; reinu Samoro ho nia liurai Dom Bernardo Sarmento.


Iha fulan-Outubru 1926, governu haruka kapitaun Joaquim de Matos, hosi Batugadé, no kapitaun Gonçalo de Magalhães, hosi Dili, atu komanda forsas hodi ba asalta Cailco.


Reinu sira ne’ebé funu hasoru “ koligasaun Caelaco-Lamaquito”, iha foho Cailaco mak tuir mai ne’e: 

1. Viqueque: Liurai Dom Vasco dos Santos Pinto, ho kapitaun-mor Dom Ventura da Costa dos Remédios; ho soldadu rihun ida atus rua (1.200); 

2. Reino Claco: Liurai koronel Dom Belchior Fernandes; 

3. Reino Allas: Liurai coronel Dom Miguel de Sousa Tavares 

4. Reinu Manufahi: Liurai Koronel Dom Duarte da Costa Souto Maior; 

5. Reinu Samoro: Liurai Koronel Dom Bernardo Sarmento, ho soldadu na’in 900. 

6. Reinu Lacluta:, liurai Dom João da Fonseca. 

7. Reinu Ai-foi: Liurai Dom Domingos da Costa, ho soldadu na’in 30. 

8. Reinu Suai: Liurai Dom Baltazar Lopes, sarjentu-mór, ho soldadu na’in 600. 

9. Reinu Motael: Liurai Dom Gregório Roiz Pereira, tenente-koronel, ho soldadu na’in 500. 

10. Reinu Liquiçá: Liurai Dom Gregório, sarjentu-mór, ho soldadu na’in 100. 

11. Reinu Calcuc: Liurai Dom Paulo de Cáceres, ho soldadu na’in 60.

12. Reinu Laicor: Liurai Dom Carlos, ho soldadu nai’n 40. 

13. Reinu Manatuto: Liurai Dom António Soares, ho soldadu na’in 400. 

14. Reinu Vemasse: Liurai Cosme de Freitas, ho soldadus na’in 900.

15. Reinu Laleia: Liurai Salvador, ho soldadu na’in 300. 

16. Reinu Sarau, Liurai Dom Álvaro da Costa, ho soldadu na’in 80;

17. Reinu Faturó: Liurai Dom Sebastião, ho soldadus na’in 80.

18. Reinu Luca: Liurai Dom António Aveiro do Amaral, ho soldadu na’in 1.500. 

19. Reinu Dailor: Liurai Dom Álvaro de Sousa, ho soldadu na’in 100.


Aléinde “moradores” timor oan sira ne’e, governu haruka tan kompañia sanulu resin sia (19), ho ema na’in 970. Forsa sira hosi governu inklui mós ofisiál no soldadu portugés, ema balu hosi Goa no Macau. Atu asisti tropas sira ne’e, iha mós padre kapelaun ida: padre Vigário Dili nian.


Atu hasoru tropas governu portugés ho moradores sira ne’ebé liurai sira haruka, Dom Aleixo, liurai Caelaco nian, fo orden atu populasaun evakua ba foho Cailaco (Kailaku). Ema mane, feto, foin-sa’e, labarik, ba hotu akampa iha foho leten. Sira mós duni sa’e ba foho leten balada: bibi, kuda no karau, fahi no manu. Balu ba hela kuak laran; balu hada kastelu ho ai-rin no fatuk; mane asuwa’in sira lori diman, rama-isin, surik, ai-donan, no kilat. Kilat balu iha kilat musan, balu iha pólvora no balu uza fatuk.


Iha loron 26 fulan-Outubru 1726, kapitaun Joaquim de Matos ho nia tropas monta akampamentu iha foho Caelaco nia hun. Iha tempu ne’e, sira titu “inimigu”, sobu no sunu uma ka “pos” ne’ebe asuwain Caleco sira harii nanis. Iha loron 29 to’o mós tropas hosi Maubara no Coutubaba funu hasoru funu-nain sira ne’ebé tun hosi foho lolon. Neineik forsas portugés sa’e to’o foho klaran. Iha ne’e, asuwian sira halo tiha ona trankeira boot ida sukat kilómetru tolu; iha fatin nee, “inimigus” sira haloot ai-han, sana, bikan, kusi, luhu no buat seluk tan; fatin ne’ebá mós iha be-matan ida. Atu tama trankeira ne’e susar liu. Topas balu tenke sa’e tuir hali-hun sira abut ne’ebé tabele to’o rai. Hosi trankeira asuwain Caelaco tiru hasoru, tiru rama-oan no duir fatuk mesak bob-bot de'it ba kraik, to’o oho soldado no moradór sira. Iha asaltu ba trankeira ne’e, ema hosi Caelaco, na’in 80 mak mate. Ho atake ne’ebá, “revoltosos” balu halai ba foho tutun, balu ba foho sorin, balu fali konsege halai to’o foho Atsabe nian.


Iha fulan-Novembru 1716, forsas hosi Dili no Loro-sa’e too Caelaco. Forsas konjutas halo serku ba foho Caelaco durante loron sanulu resin rua, maibé asuwain sira la rende. Hosi subar fatin iha foho, feto balu ho labarik sira tun ba kuru be, iha be-matan. Feto no labarik balu ema kaer; balu halai lakon no balu oho-aan.


Ho situasaun ida-nee’, liurai Dom Aleixo, no dato Laku-Mali ho tan dato balu ba rende iha akampamentu portugés, maibé ema barak ne’ebé subar iha fatu kuak no ai-laran lakohi tun no la rende. Kapitaun Joaquim de Matos husu ba Dom Aleixo, atu selu impostu, entrega kilat no armamentu seluk. Entretantu, udan boot tau maka’as, mota tun, kalohan no abu-abu taka metin rai no dalan sira. Tamba ne’e, dato balu no sira nia emar halai hikas ba foho. Ikus-mai, Joaquim de Matos ho Gonçalo de Magalhães haruka forsas sira serka foho Caelaco: balu hosi loro-monu, balu hosi loro-sae, balu hosi tasi-mane, no balu hosi tasi-feto, la husik funu-nain Caelaco sira sai no tama.


Iha loron tolu fulan-Dezembru, asuwain sira tun hosi foho ataka forsas governu nian no oho tiha sarjentu-mór Lucas da Cunha (malae mutin). Iha loron 5 fulan ne’ebá, forsas governu nian deside atu fila ba Díli, no Batugadé. Tuir dalan sira mos hetan atake hosi funu-nain balu. Joaquim de Matos lori hanesan dadur Liurai Dom Aleixo, ho dato Laku-Mali hodi ba entrega ba governadór iha Lifau.


Iha tempu ne’ebá malae no moradores lalin revoltoso sira-nia karau hamutuk rihun rua (2.000); sira tesi ema inimigu na’in atus ida lima-nulu (150) nian ulun-fatuk; lori dadur ema na’in 168.Tuir dadur sira lian, sira-nia maluk na'in 300 mak mate iha foho leten. Hosi tropas portugés , ema na’in tolu nolu resin walu (38) mak mate, no barak mak kanek. Iha loron 8 fulan Dezembru forsas sira ne’ebé fila ba Prasa/Dili, tuir selebrasum misa iha Tibar.


Maibé funu Caelaco la remata iha tinan 1727. Tanba governador sira-nia hahalok, no divizaun iha Liurai timor sira leet, sei akontese revolta barak. Istoriadór balu katak dame lolós harii metin iha tinan 1787.


Autór: Dom. Carlos Filipe Ximenes Belo SDB.

Laureadu Prémiu Novél da Paz, 1996