Inilah sosok dua Komandan Kakak - Beradik (Manus dan Malitara) yang berhasil mempertahankan kawasan LOES hingga awal tahun 1979. Walaupun TNI telah berhasil menguasai kawasan Atabae dan sekitarnya sejak 1975 namun kawasan LOES tidak bisa dilewati TNI hingga tahun 1979, Alhasil perjalanan darat Pasukan TNI dari Atabae ke Liquica dan Dili terhambat selama beberapa tahun dan harus melalui jalur Laut dan Udara atau melalui Ermera. Sebelumnya ke lima orang Wartawan asal Australia yang dibantai oleh TNI di Balibo, dalam perjalanan mereka dari Dili ke Balibo sempat singgah di Loes dan memberikan bantuan obat - obatan kepada para serdadu Fretilin (FALINTIL) yang bermarkas di Loes, Komandan Manus sempat mengingatkan ke lima Wartawan tersebut agar dua diantara mereka melakukan peliputan di daerah Loes saja, biarkan ke tiga teman lainnya yang pergi meliput ke wilayah Perbatasan, Manus berkata demikian karena merasakan firasat buruk terhadap keselamatan mereka di daerah Perbatasan namun mereka bersikeras untuk melanjutkan perjalanan ke Balibo dan kisah mereka berakhir sangat tragis. Sebelum berangkat ke Balibo kelima Wartawan tersebut juga mengadakan peliputan di kawasan Loes namun sayang, video dokumentasi mereka tidak sempat ditayangkan dan hilang bersama kelima Wartawan asing tersebut.
Kegigihan dua kakak - beradik ini berkat kekompakan mereka dengan beberapa Komandan hebat lainnya seperti; Komandan Alexandrino Chaves (Chaves adalah Komandan Kompanhia Bubu-Api yang bermarkas di Pantai Vatuboro), Komandan Jetuli dan Amerco adalah dua Kakak - beradik yang bermarkas di daerah Rambo (daerah Rambo adalah kawasan tanah lembab dengan sebuah danau mungil berlokasi tepat di perbatasan antara Suku Guiço dan Lissa-dilla), Komandan Armindo Lobo "Besilau" dan Carlos Alberto adalah dua Kakak - beradik yang bermarkas di Lissa-Dilla, Antoninho Brites "Nixon" adalah Komandan Kompanhia Tata-Bei bermarkas di Tapo-Manulu.
Pada saat invasi TNI tanggal 7 Desember 1975 di Dili, Maun Boot José Alexandre "Xanana" Gusmão bersama beberapa petinggi Fretilin berada di Kompanhia Tata-Bei selama beberapa hari, salah - satu petinggi Fretilin yang bersama - sama dengan mereka bernama Juvinal Inacio (Menteri Keuangan). Sebelum Maun Boot Xanana Gusmão bertolak ke Dili melalui jalan pintas Vatuvou-Ana, Beliau sempat berpesan kepada para Komandan yang berkumpul di Kompanhia Tata-Bei dengan pesan "Inimigu invade ona Dili, ami tenki fila fali ba buka tuir Comite Central Fretilin agora muda fali ba iha ne'ebé ona? Atau dalam bahasa Indonesia yang artinya "Musuh telah menginvasi Dili melalui jalur udara, kami harus kembali ke Dili untuk mencari Markas Besar Fretilin sekarang pindah kemana"?
Perlu diketahui bahwa waktu itu Kompanhia Manus dan Kompanhia Bubu-Api belum dibentuk, semua Komandan berkumpul di Tata-Bei termasuk Komandan Humberto, Komandan José Benivides, Komandan Manus dan yang lainnya. Komandan Manus pernah mengenyam pendidikan kemiliteran "Tropas" atau satu letting dengan Maun Boot Xanana di CI. Taibessi, Dili pada zaman Timor Portugis.
Berikut ini adalah kisah menarik beberapa serdadu pemberani Fretilin;
1. Tarcisio, adalah Komandan Peleton pemberani yang menumpas beberapa anggota TNI di daerah Vatuboro, Beliau ditangkap saat dirinya kehabisan peluru, matanya dicungkil oleh TNI oleh karena Beliau tidak bisa dibunuh dengan peluru dan karena tidak tahan dengan beratnya siksaan yang dilakukan oleh TNI akhirnya Beliau menyerahkan Pedang sakti miliknya kepada TNI untuk dihunuskan ke dadanya hingga tewas.
2. Mau-Bete "Sang Tuan Tanah" adalah seorang SNIPER Falintil yang banyak melumpuhkan personil Marinir TNI yang berlabuh di Pantai Vatuboro (hilir sungai Loes). Pertempuran di Vatuboro juga sering memakan banyak korban sehingga Helicopter TNI seringkali mondar-mandir untuk mengangkut jenazah anggota TNI yang luka luka termasuk yang tewas.
3. Maukuru, adalah Serdadu Fretilin yang gugur didepan Markas Manus bersama sama dengan beberapa orang TNI yang menyerang markas Manus. Maukuru adalah satu satunya serdadu yang terjaga di saat malam penyerangan. Ketika itu para serdadu lainnya sedang tertidur lelap, bunyi senjata Maukuru membangunkan para serdadu yang tertidur lalu terjadilah pertempuran yang hebat dan berdurasi selama 24 jam, namun sayang bunyi senjata Maukuru saat itu adalah untuk yang terakhir kalinya karena sebuah peluru milik TNI langsung menembus kepalanya.
4. Victor, adalah Serdadu pemberani yang maju bersama sama dengan Manus untuk menyerang Kecamatan Maubara, Beliau gugur di daerah Dubua-lara Maubara (2 KM arah barat benteng Maubara) dalam pertempuran selama 12 jam. Penyerangan ke Maubara sebenarnya atas tantangan seorang Komandan Falintil asal Ermera, ketika berkunjung ke Markas Manus beliau meremehkan Pasukan pimpinan Manus dengan kalimat mengejek seperti berikut ini "Seandainya saya yang bermarkas disini, besok pagi saya akan sarapan di Maubara dan Makan Siang di Liquiça" mendengar ucapan tersebut Manus terpancing emosi dan berkata kepadanya "Besok saya akan sarapan di Maubara, mengenai makan siang saya tidak janji". Penulis sempat bertanya kepada Komandan Manus, kira kira berapa banyak korban dari pihak lawan (TNI), "hau so hatene hau tiru mate inimigu nain 3 ne'ebé kaer Metralhador nee, tanba ida monu sira mai rasta ses tiha, ida troka fali hodi kaer metra, troka malu kuaze dala tolu mak Helicoptru foin tuun mai lalin sira" yang artinya "saya pastikan tiga orang yang memegang senjata serbu, tiga kali gonta ganti orang, kemudian datanglah helikopter untuk mengevakuasi mereka.
5. José Gringgo, adalah milisi Fretilin pemberani berbadan kekar dan tinggi, pada saat penyerangan ke Atabae José Gringo menjabat sebagai Comandante Secção. Beliau gugur di kawasan Megir (daerah mandoki) ketika maju bersama Manus untuk menghadang Tank TNI di daerah tersebut, Jose Gringgo berusaha menghadang laju Tank milik TNI dengan sebuah granat karena ia kehabisan peluru namun karena ia salah melemparkan granat tersebut akhirnya Ia tertembak dan gugur. Pertempuran di megir merupakan pertempuran pertama Komandan Manus bersama beberapa orang anak buahnya yang masih tergabung dalam CIA 42. CIA 42 akhirnya berganti nama menjadi Kompanhia Tata-Bei, dan dari Kompanhia Tata-Bei terbagi lagi menjadi beberapa Kompanhia termasuk Manus. Setelah José Gringgo dan Doti-Ana gugur di Megir, anak buah Manus berpencar lalu meninggalkan Manus sendirian di medan pertempuran selama 3 hari 3 malam, selama tiga hari tersebut Manus hanya mengkonsumsi Mangga di perbukitan Atabae. Laporan yang diterima Xefe Estado Major (Kepala Staff Falintil), Domingos Ribeiro bahwa Manus dan kedua anak buahnya telah gugur di medan pertempuran. Pada saat mereka sedang berunding untuk mencari Komandan baru guna menggantikan posisi Manus tiba tiba seorang Anak buah Manus datang dari arah sungai Loes melaporkan bahwa ada seseorang di seberang sungai Loes mirip Komandan Manus, mendengar kabar itu , kakaknya Manus yang bernama Maupelu "Lari-lari" dengan cepat menuju sungai Loes dengan Kuda kesayangan sang Komandan (Kalunga). Benar saja yang dilihat, ternyata sejak fajar Komandan Manus sudah mencoba menyeberangi sungai Loes namun beliau tidak bisa menyeberang Karena tidak tahu cara berenang.
Perlu diketahui bahwa, Pada kejadian tahun 1999, adiknya José Gringgo beserta ketiga temanya juga ikut tertembak di Suku Guiço pada 27 Januari 1999 ketika ia dan para Pemuda Pro Kemerdekaan menghadang Milisi Besi Merah Putih dan TNI dari Koramil Maubara yang menyerang Suku Guiço kemudian merusak Rumah Manus.
6. João Baptista, adalah Serdadu pemberani yang pernah kecewa terhadap Komandan Manus lantaran dua kali permintaannya untuk menembak pesawat Bronco milik TNI-AU di Sungai Loes ditolak oleh Manus dengan alasan pesawat tersebut terbang terlalu tinggi, percakapan João Baptista dengan Manus seperti berikut ini;
"Komandante, a posi se" yang artinya, "Komandan, mohon izin untuk menembak"
"Lobo ke u du rae rae" yang artinya "biarkan pesawat itu mendekat"
"Komandante, kau limu glata se" yang artinya "Komandan, tangan saya sudah gatal"
"Lobo ke u du pita snit" yang artinya " biarkan pesawat itu lebih dekat lagi". Namun pesawat tersebut malah berbalik arah dan kembali ke arah Cailaco.
7. Isidoro, adalah Serdadu Fretilin yang bermarkas di Kompanhia Bubu-Api, Beliau pernah menembaki sebuah pesawat milik TNI-AU yang terbang rendah di Pantai Vatuboro, pesawat yang ditembaki langsung mengeluarkan asap, dicurigai pesawat tersebut jatuh di Pantai Lauhata, Liquica. Namun info yang beredar dikalangan masyarat saat itu bahwa pesawat tersebut jatuh karena kehabisan bahan bakar.
8. Maubusa Kabosu, adalah pengawal jarak dekat Manus, namun pada saat penyerangan ke Maubara tepatnya daerah Dubua-Lara (Vatu ha'e) Maubusa Kabosu tidak terlibat, hal ini dikarenakan pada saat mereka melakukan acara ritual ada tanda tanda buruk pada Maubusa Kabosu dan Victor (lihat kisahnya di nomor 4), Kabosu dipercayakan Manus dalam hal penyerangan jarak dekat oleh karena Kabosu sangat ahli dalam hal melemparkan Granat. Kabosu juga menceritakan bahwa sejak pertempuran tahun 1975 hingga 1979 ada sekitar 300 lebih Pasukan TNI yang terbunuh dan itu belum termasuk yang luka parah dan meninggal di Rumah Sakit Militer. Sumber lain juga mengatakan bahwa setelah kawasan Loes direbut pada tahun 1979, jumlah personil TNI yang gugur menyentuh angkah 1000.
9. Kalunga, adalah Seekor Kuda kesayangan milik Komandan Manus yang dilatih khusus untuk pertempuran jarak menengah dan jauh, ketika Manus menjabat sebagai Komandante intervensaun sekaligus Segundo Comandante Brigada Xoque untuk kawasan Loes dan sekitarnya, Kalungga dan 50 ekor kuda lainnya dipakai untuk memburu Militer Indonesia yang mencoba menyeberangi sungai Loes. Kuda kuda tersebut sangat mengerti keadaan Perang, apabila terdengar bunyi senjata dalam jarak menengah atau jarak jauh Kuda Kuda tersebut khususnya Kalungga tidak bisa dikendalikan oleh orang lain kecuali oleh Sang Komandan, begitu sang Komandan berada diatas punggungnya, Kalungga akan berpacu bak kecepatan peluru menuju sumber bunyi tembakan.
Pada kejadian di Atabae ada beberapa anggota TNI yang gugur bersama José Gringgo di tempat tersebut, khususnya para anggota TNI yang berjalan mengawal Tank pertama yang melaju paling depan. Di tempat yang berbeda Komandan Malitara dengan anak buahnya ditugaskan untuk menjaga Sungai Loes dari serangan musuh. Setelah gagal merebut Atabae, Manus dan kelompoknya berusaha merebut kembali Kecamatan Maubara pada awal tahun 1977 namun gagal karena Manus tertembak di kawasan Dubua-Lara (Sekitar 2 km arah barat Benteng Maubara), Manus harus dilarikan kembali ke Loes untuk pengobatan tradisional (hingga saat ini sebuah peluru masih bersarang di paha kirinya).
Mendengar bahwa Komandan Manus terluka parah maka TNI yang bermarkas di Atabae dengan cepat menyerang Kompanhia Manus. Manus yang terluka parah menyerahkan tanggung jawab kepada Sang adik yakni Komandan Malitara untuk menhadang serangan TNI ke Markas Manus. Namun sial bagi Komandan Malis karena Beliau juga terkena tujuh tembakan di Kepala dan satu tembakan di kaki (Sampai saat ini bekas tembakan masih terdapat di kepala dan wajah Malis), Pertempuran yang berlangsung selama 24 jam tersebut membuat TNI terpukul mundur dan kembali ke Atabae.
Banyak anggota TNI yang gugur di depan markas Manus, dua buah Helicopter milik TNI dari Atabae dikerahkan ke Guiço untuk mengevakuasi korban dari pihak TNI, informasi yang beredar saat itu bahwa Komandan TNI yang memimpin penyerangan tersebut juga ikut tertembak di depan Markas Kompanhia Manus. Tidak ada angka pasti anggota TNI yang gugur di Loes secara keseluruhan namun menurut pengakuan Manus dan para Komandan lainnya bahwa angka kematian TNI di Loes cukup tinggi (dihitung dari tahun 1975-1979). Ada informasi dari sumber yang berbeda, khususnya masyarakat Atabae yang berdomisili di sekitaran daerah Raerobo mengatakan bahwa saat penyerangan ke Markas Manus di daerah Guiço ada sekitar 40 sampai 50 mayat yang diangkut ke Raerobo kemudian diterbangkan ke Dili dan Atambua (kebanyakan beberapa orang partisan, hansip dan TBO).
Setelah Kompanhia Manus diserang, Komandan Malitara dipanggil oleh Komandan Sektor Sebastião Doutel Sarmento dan Xefe Estado Maior Domingos Ribeiro untuk diinvestigasi terkait kejadian tersebut namun karena bekas tembakan yang memenuhi Kepala dan wajah Malitara membuat mereka kebingungan, sambil bertanya, "Tansa mak Kilat ida o kaer nee rahun hotu maibe o nia ulun la rahun" artinya "Kenapa senjata yang kamu pakai hancur oleh tembakan musuh namun Kepala kamu masih utuh"?. Setelah menyaksikan kejadian tersebut Komandante Malitara mendapat kepercayaan untuk menggantikan posisi Komandan Alexandrinho Chaves di Kompanhia Bubu-Api yang bermarkas di Pantai Vatuboro dan Komandante Alexandrinho menempati posisi baru yakni Asistente Produsaun. Sedangkan Komandan Manus menjadi Komandan Movel yang bertanggung jawab atas wilayah Guiço hingga daerah Dair namun Manus sering dipanggil untuk membantu Pertempuran di Fatubessi - Ermera.
Dengan semangat juang yang tinggi, para Komandan dan Serdadu Falintil yang bermarkas di Loes dijuluki TNI dengan sebutan "Russia alias si Mata Putih". Istilah Russia diberikan kepada Manus dan kawan kawan karena TNI mencurigai adanya orang - orang Uni Soviet yang membantu mereka di kawasan tersebut sehingga sulit bagi TNI untuk menerobos kawasan Loes. Dua Kakak - beradik ini akhirnya tertangkap di kawasan Li'o daerah Guiço pada tanggal 14 Februari 1979 (Manus dan Malitara terjebak dengan skenario Skylight lalu tertangkap). Akhirnya Manus di jebloskan ke Penjara di Balide dan Colmera lalu diasingkan ke Pulau Atauro hingga tahun 1984 (Kisah pembuangan ke Atauro sudah pernah ditulis dalam artikel sebelumnya).
Sedangkan Malitara dipenjarakan di Liquica. Sepulangnya dari Atauro Manus tidak pernah luput dari pantauan TNI sehingga beberapa kali beliau kembali ditangkap dan disiksa dipenjara-penjara di Liquica dan Dili. Banyak penyiksaan yang Manus alami khususnya di dalam penjara Liquica, Balide dan Colmera Dili hingga mengakibatkan Gigi bagian depan Manus patah, Gigi Manus dipatahkan oleh seorang anggota Kopassus bernama Suroto di ruang penyiksaan Kotis, Colmera Dili (Bersebelahan dengan Kantor Pengadilan Dili saat ini).
Terakhir kali Manus ditangkap yakni pada tahun 1995 oleh Satuan Tim dari Kopassus yg berseragam sipil, untungnya sang sopir yang mengendarai mobil kopassus tersebut pendukung Pro Kemerdekaan, beliau secara sembunyi - sembunyi melaporkan penangkapan itu ke Almarhum Pastor Rafael di Liquica sehingga Manus tidak sempat di bawah ke Colmera Dili. Manus dibebaskan oleh Pastor Rafael saat akan diberangkatkan ke Dili, sang Sopir berjiwa patriot yang melaporkan kejadian tersebut bernama Maun Crispim (Seorang Pemuda Pro Kemerdekaan asal Liquica) Beliau dipaksa oleh Kopassus untuk berangkat ke Loes untuk menjemput secara paksa mantan Komandan Manus. Maun Crispim sering bercerita tentang kejadian mengerikan tersebut.
Pada awal tahun 1999 tepatnya 27 Januari 1999 (hari dimana opsi Referendum diumumkan oleh Presiden RI. Prof. BJ. Habiebie, alm.), Rumah Manus dihancurkan oleh Milisi Besi Merah Putih dibantu oleh TNI dari Koramil Maubara. Manus dan keluarganya mengungsi ke Liquica (depan lapangan sepak bola Liquiça) sedangkan Malitara dan keluarganya mengungsi ke kawasan Asulau - Ermera.
Rumah yang dijadikan tempat pengungsian oleh Manus dan keluarganya dibakar oleh Milisi Besi Merah Putih dan TNI dari Koramil Maubara pada tanggal 5 April 1999 atau sehari sebelum penyerangan Milisi dan TNI ke Gereja Liquica. Kemudian, Manus dan keluarganya berhasil meloloskan diri ke Dili pada tanggal 4 April namun dua orang anaknya tidak sempat melarikan diri dan memilih mengungsi ke Gereja Liquica, karena perlindungan Tuhan, kedua anaknya berhasil selamat dari pembataian di Gereja Liquiça. Di Dili, keluarga ini berpindah pindah tempat, dari satu tempat ke tempat yang lainnya untuk menghindari pencarian yang dilakukan oleh Milisi dan TNI dari Koramil Maubara. Hingga tanggal 30 Agustus 1999, Manus dan keluarga mengadakan pencoblosan suara di TPS Farol, bersama sama dengan beberapa orang pengungsi dari Liquica. Setelah pencoblosan mereka kembali mengungsi ke Dare (perbukitan Dili) untuk menunggu hasil Jajak pendapat.
Dibalik pahitnya kisah diatas ada sebuah kisah yang penulis anggap sangat kocak, yakni ketika Manus dan anak buahnya tertangkap di kawasan Loes, waktu itu tidak ada yang bisa berbicara Bahasa Indonesia karena Bahasa Indonesia tidak pernah dipelajari oleh mereka, jangankan dipelajari mendengar pun belum pernah, Oleh karena itu mereka saling bertanya, katanya "Nanti kalau ditanya kita bicara bagaimana"? (maksudnya bicara pakai bahasa apa), disaat mereka masih kebingungan Ayah dari Manus dan Malitara menjawab "Nanti bilang aja Konisua atau Oaio Gojaima" (Konichiwa dalam Bahasa Jepang artinya "Hallo atau Hi" sedangkan Ohayo Gozaimashu dalam Bahasa Jepang artinya "Selamat Pagi"), Beliau mencoba mempraktekan Bahasa Jepangnya tetapi aksen bahasa Tokodede (Bahasa Lokal Maubara) malah sangat kental sehingga terdengar sangat menggelitik. Kebetulan Ayah mereka berdua pernah menjadi pekerja paksa "Rody" waktu invasi Jepang ke Timor Portugis pada Perang dunia kedua sehingga Sang Ayah juga mengerti beberapa Kosa kata Bahasa Jepang. Namun sebelum proses investigasi dimulai Manus mengingatkan semua anggotanya dan masyarakat yang mengikutinya dengan pesan "Bila nanti kalian ditanya macam macam oleh Militer Indonesia, kalian bilang saja, Kami tidak tahu apa apa semua yang kami lakukan adalah atas Perintah Komandan Manus" dan benar saja ketika investigasi dimulai semua anggota dan masyarakat dibebaskan kecuali Manus dan Malitara langsung disiksa dan dijebloskan ke Penjara, beberapa kali Manus melewati masa masa sulit namun selalu luput dari upaya percobaan Pembunuhan.
Berikut adalah pembicaraan awal ketika Manus tertangkap, Seorang
Komandan TNI mulai bertanya berkali kali kepada Manus;
"Apakah benar anda adalah Komandan Manus"? Pertanyaan ini diulang dua kali karena Sang Komandan TNI tidak yakin bahwa yang sedang berada dihadapannya adalah Komandan Manus yang dikenal sangat ganas dan berbahaya di kawasan Loes (Tiap kali pertempuran Manus tidak pernah membungkuk apalagi bergulingan ditanah, Beliau selalu berdiri dengan tegap dan kadang beliau menembak dari atas kuda), lantaran info yang beredar di Atabae bahwa Komandan Manus adalah orang Russia bermata putih , namun yang sedang berada dihadapannya malah bermata hitam, Karena tidak percaya Komandan TNI tersebut mencoba menelpon ke Atabae bahwa Komandan Manus sudah ditangkap tapi dia tidak bermata putih melainkan Bermata hitam, kebetulan di Atabae ada keluarga Komandan Manus yang bernama Bapak Manuel Maia, Bapak Manuel Maia meminta agar Komandan TNI tersebut menyerahkan Telepon (HT) ke Manus agar beliau berbicara langsung dengan Manus. Saat berbicara dengan Manus, beliau katakan pada Manus bahwa "Sakana, Haruka sira fihir didiak O nia matan nee, tanba hau dehan bebeik ba sira katak Manus nee ema Timor Oan maibe sira la fiar, sira dehan iha Loes laos ema Timor Oan mak iha neeba maibe ema Russia" terjemahan dalam Bahasa Indonesia "Suruh mereka (TNI) menatap baik baik mata kamu, Karena sudah berkali kali saya katakan bahwa di kawasan Loes tidak ada orang Russia tapi mereka tidak percaya". Kemudian Manus tersenyum sambil berkata kepada Sang Komandan TNI tersebut "Sou Comandante Manus".
Ada sebuah kisah lagi yang membuat Manus sangat kaget hingga tak bisa berkata kata yakni saat seorang perwira TNI bernama Sunardi berjalan mendekati Manus secara blak-blakan membeberkan kisah Manus dan Komandan Alexandrinho Chaves saat mereka berdua masih "jomblo" di Dili, bahkan dia tahu dengan sangat jelas tempat dimana mereka biasa nonkrong, bekerja bahkan tempat tinggal mereka, berikut ini adalah kata kata yang dilontarkan oleh Sunardi;
"Molok funu hahu ami iha nee tiha ona, ami hatais lipa, haklili kohe, mama malus, faan roupa la'o tama sai bairo, hau hatene uluk ó nee Policia, Alexandrinho Chaves imi nain rua hela iha Formosa, depois mak o muda ba hela fali iha Bebora, ikus liu muda ba Maloa, Alexandrinho nia namorada mos hau kuñese. Imi la kunhese ami maibe ami kunhese imi" artinya "Sebelum perang dimulai kami sudah ada di sini, Kami berpakaian dan berperilaku ala orang pribumi sehingga gerak gerik kami tidak dicurigai, saya tahu kamu adalah seorang polisi yang tinggal bersama sama dengan Alexandrinho Chaves di Formosa, kemudian kamu pindah ke Bebora lalu menetap di Maloa". Manus terdiam membisu mendengar pengakuan Sunardi yang sangat detail dan fasi berbahasa Tetun tersebut.
Setelah tertangkapnya Manus dan Malitara beserta anak buahnya, maka jalur darat dari Atabae menuju Dili kembali dibuka pada tahun 1979. Sekedar informasi tambahan bahwa; Pada pertengahan tahun 1976, Manus dan anak-buahnya pernah diajak oleh Bapak Floriano Chaves untuk mundur ke Centro Lestre (Sektor tengah dan Timur) untuk bergabung dengan kelompoknya Komandan José Cirillo "Maubrani" namun Manus menolak. Ketika Bapak Floriano Chaves ingin beranjak dari kawasan Loes Manus sempat mengingatkan Beliau untuk mengurungkan niatnya. Kedekatan Manus dengan Floriano Chaves membuat Manus menempati beberapa posisi penting sehingga Manus rela melepaskan seorang Anak buah kepercayaannya untuk mengawal Floriano Chaves. Sebelum berpisah Manus berpesan pada pengawal tersebut "Molok ó nia Tio (Floriano Chaves) mate, ó tenki mate uluk" atau dalam Bahasa Indonesia "Pastikan sebelum Pamanmu (Floriano Chaves) gugur kamu harus lebih dulu mati". Informasi mengenai kematian Beliau masih simpang-siur, ada informasi yang mengatakan bahwa Beliau tertembak di Buikaren (Viqueque) saat Beliau sedang mandi namun kebenaran berita tersebut masih diragukan. Perlu diketahui bahwa Bapak Floriano Chaves adalah salah satu toko pendiri Partai ASDT/Fretilin bersama beberapa toko penting lainnya.
Penulis berharap ada mantan Veteran Seroja di Group ini yang dulu pernah terlibat dalam pertempuran dan penangkapan Komandan Manus dan adiknya di Loes, bisa menceritakan versi anda di Group ini agar tidak terjadi kesalahan informasi.
Berikut ini adalah nama nama para serdadu Fretilin yang bermarkas di Kompanhia Manus.
1. José Lino dos Reis alias Manus alias Manu-Kiak semo nafatin
2. Emilio "Serawe" (2' Comandante)
3. Thomas S.Nunes "Malis Kaitara"
4. Dasilelo
5. Daniel "Manu-Meta"
6. Manuel Silva "Saruntu"
7. Elves "Mau-Dato"
8. Acaçio
9. João Baptista "Mada-Ulu"
10. Alarico "Xamana"
11. Aquiles
12. Maubusa "Kabosu"
13. Manuel "Batu-Buti"
14. Mau-Loe
15. Bakasa
16. Bau-Ana "Lari-Lari"
17. Gilberto
18. Loro-poku
19. Abilio "iro dasa"
20. José Gringgo (Martir)
21. Victor (Martir)
22. Maukuru (Martir)
23. Doti - Ana (Martir)
Dan masih ada banyak lagi lainnya yang tidak sempat disebutkan namanya disini.
Jabatan yang pernah disandang oleh Komandan Manus antara lain.
1. Komandan Peleton (CIA 42) sekaligus sebagai penanggung - jawab medis/kesehatan Falintil untuk zona Maubara yang berpusat di Kompanhia Tata-Bei. Jabatan sebagai penanggung-jawab medis diserahkan secara langsung oleh Bapak Presiden Nicolau Lobato.
2. Komandan Instructor di Companhia Keta bok
3. Komandan Kompanhia Manus sekaligus sebagai Komandan Kavaleri untuk zona Centro Fronteira Norte dan juga sebagai Wakil Sekretaris Zona Maubara (1976)
4. Wakil Komandan Brigada Choque (Pasukan Intervensi Gerak Cepat) untuk zona Loes dan sekitarnya dan ini adalah jabatan terakhir Beliau sebelum tertangkap dalam operasi Skylight atau yang lebih dikenal dengan istilah Aniquilamento.
5. Pada Masa Masa Clandestine tepatnya pada tahun 1993, Manus pernah menjabat sebagai Sekretaris Zona Maubara, posisi ini diberikan oleh Komandan Nino Konis Santana, namun Karena penangkapan dan siksaan yang terus dialami oleh Manus, akhirnya posisi sebagai Sekretaris Zona diambil alih oleh Sepupu Manus yang bernama Feliz da Costa "Anin Buras" dan Manus menempati posisi Vice Sekretaris Zona hingga masa Referendum 30 Agustus 1999.
Keterangan singkat mengenai Kode; MANUS adalah singkatan dari MANU KIAK SEMO NAFATIN, dalam bahasa Indonesia berarti "Burung yang terbang tanpa lelah" sedangkan MALITARA atau MALIS KAITARA yang artinya "Senyuman berduri"
(Heroi sem nome Part 3)
Penulis : José Violante Silva Reis #JVshare
Sumber :
1. José Lino Reis "Manus" (Alm)
2. Thomas "Malitara"
3. Emilio "Serawe"
4. Leonel de Carvalho "Maubuti"
5. Manuel Maia (Alm)
6. Abilio "iro dasa"
7. Paulina da Silva (istri Alm. Manus)
8. Masyarakat Loes
9. Lain - lain.
No comments:
Post a Comment