"Akademisi hanya berpihak pada akal sehat, justru karena itu ia memberi kritik, bukan karena menjadi buzzer penguasa" Rocky Gerung
Akademisi itu berpihak pada akal sehat. Dan akal sehat tidak pernah tunduk pada kekuasaan. Ia tunduk pada argumen.
Di ruang kelas, yang diuji adalah logika. Di ruang publik, yang sering diuji justru loyalitas. Ketika akademisi berhenti menguji kekuasaan dengan nalar, saat itu ia berhenti menjadi akademisi. Ia berubah fungsi—dari produsen kritik menjadi distributor pembenaran.
Ilmu pengetahuan lahir dari keraguan. Kekuasaan justru alergi pada keraguan. Di situlah ketegangan itu bermula. Kritik bukan tindakan permusuhan; kritik adalah prosedur intelektual untuk memastikan kekuasaan tetap waras. Tanpa kritik, kekuasaan tumbuh liar. Dan sesuatu yang tumbuh tanpa koreksi akan merasa dirinya kebenaran itu sendiri.
Menjadi buzzer penguasa adalah pilihan karier. Menjadi intelektual adalah pilihan etis. Yang satu mengejar akses, yang lain menjaga jarak. Jarak itulah yang membuat pikiran tetap jernih.
Akal sehat tidak pernah sibuk membela siapa yang berkuasa. Ia sibuk membela prinsip. Karena itu, akademisi yang setia pada akal sehat pasti terdengar mengganggu. Tapi justru gangguan itulah tanda demokrasi masih bernapas.
No comments:
Post a Comment